Istimewa! Nih Deretan Fakta Seputar Yogyakarta yang Jarang Diketahui

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Sebelum berubah status menjadi provinsi, Daerah Istimewa Yogyakarta mulanya adalah sebuah Kerajaan. Pangeran Mangkubumi adalah Raja Pertama dengan gelar Hamengku Buwono I.

Setelah Kemerdekaan Republik Indonesia di tahun1945, Kesultanan Yogyakarta pun memutuskan untuk bergabung. Kala itu, Hamengku Buwono IX didapuk sebagai gubernur yang perdana. Sementara Adipati Paku Alam sebagai wakil gubernur Provinsi Yogyakarta yang pertama.

Meskipun telah menjadi daerah yang setara dengan provinsi, Yogyakarta tetap mempertahankan sistem Kerajaannya. Hal tersebutlah yang membuat Yogyakarta mendapatkan status istimewa dengan sistem otonomi daerah khusus.

Tak hanya Istimewa dalam pemerintahan, Yogyakarta juga memiliki 5 fakta istimewa yang perlu diketahui.

Kota 1.000 nama

Sebutan ini diberikan karena Yogyakarta memiliki berbagai macam panggilan. Ada yang menyebutnya Yogyakarta, Jogjakarta, jogja, yogya, Djogja, Ngayogjokarto, Ngayogyakarta Hadiningrat, dan lain sebagainya.

Disebut Bathok Bulus

Layaknya tempurung kura-kura, tempat berdirinya keraton Yogyakarta adalah berada di atas gundukan tanah yang lebih tinggi daripada permukaan tanah yang berada di sekitarnya. Hal ini menjadikan keraton Yogyakarta tidak pernah terkena banjir meskipun daerah tersebut diguyur hujan deras. Selain itu, letaknya yang tinggi menjadikan Keraton Yogyakarta mudah dilihat oleh masyarakat kala itu.

Jabatan Gubernur Seumur Hidup

Ketentuan ini berlaku pada era pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Adipati Paku Alam VIII. Pada masa itu, jabatan yang diberikan kepada Gubernur dan Wakil Gubernur adalah seumur hidup. Tak hanya itu, kandidat yang terpilih untuk menggantikan Gubernur juga berasal dari keturunan Sultan. Sehingga tidak diadakan pemilihan secara umum oleh rakyat.

Pernah Menjadi Ibukota Indonesia

Pada saat tekanan dari bangsa kolonial kembali datang, Hamengku Buwono IX menawarkan para tokoh negara untuk berpindah dan mejalankan pemerintahan di Yogyakarta. Ia mengatakan Yogyakarta siap untuk menjadi Ibukota Republik Indonesia pada saat itu.

Diselamatkan oleh Selokan

Sebutan sebagai “Kota Makmur” tentunya patut diberikan kepada Yogyakarta. Pasalnya, terdapat sebuah selokan yang dapat memungkinkan masyarakatnya bisa bercocok tanam meskipun dalam keadaan kemarau. Selokan tersebut bernama Selokan Mataram. Selokan yang dibuat pada masa penjajahan Jepang ini sebelumnya juga sempat menyelamatkan masyarakat Indonesia dari ancaman menjadi tenaga kerja paksa romusha.

Reporter: Marizke 

Berita Terbaru

Ekonomi Rakyat dan Rupiah: Kuat Lewat Kebijakan Stabilisasi yang Terukur

Oleh: Dhita Karuniawati )*Di tengah dinamika ekonomi global yang masih dibayangi ketidakpastian geopolitik, fluktuasi harga komoditas, serta perubahan arah kebijakan moneter negara-negara maju, Indonesia menghadapi tantangan yang tidak ringan dalam menjaga stabilitasekonomi nasional. Namun, pengalaman beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwafondasi ekonomi Indonesia relatif mampu bertahan dari berbagai tekanan eksternal. Salah satu faktor utama yang mendukung ketahanan tersebut adalah kebijakanstabilisasi ekonomi yang dijalankan secara terukur dan terkoordinasi.Stabilitas ekonomi bukan sekadar persoalan angka-angka makro seperti pertumbuhanekonomi, inflasi, atau nilai tukar rupiah. Di balik itu, terdapat kepentingan yang lebihbesar, yakni menjaga daya beli masyarakat, memastikan keberlangsungan usaha mikrodan kecil, serta menciptakan kepastian bagi dunia usaha. Oleh karena itu, setiapkebijakan ekonomi yang ditempuh pemerintah perlu memiliki orientasi yang jelasterhadap kesejahteraan rakyat.Nilai tukar rupiah sering kali menjadi indikator yang mendapat perhatian luas darimasyarakat. Ketika rupiah mengalami tekanan, dampaknya dapat dirasakan oleh berbagai lapisan ekonomi, mulai dari kenaikan harga bahan baku impor hinggameningkatnya biaya produksi. Sebaliknya, rupiah yang stabil memberikan ruang bagipelaku usaha untuk merencanakan kegiatan bisnis dengan lebih baik dan menjaga harga barang tetap terkendali.Dalam konteks inilah sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter menjadi sangat penting. Kebijakan fiskal yang adaptif mampu memberikan bantalan terhadap gejolakekonomi global, sementara kebijakan moneter menjaga stabilitas harga dan nilai tukar. Keduanya harus berjalan beriringan agar tujuan pembangunan ekonomi dapat tercapaisecara optimal.Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung mengatakan bahwa pemerintah telahmenyiapkan tiga strategi utama untuk menghadapi dinamika global. Strategi pertamaadalah mengarahkan belanja negara pada sektor yang lebih produktif guna mendorongpertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.Selain itu, pemerintah terus mengoptimalkan penerimaan negara melalui penguatanadministrasi perpajakan dan reformasi sistem perpajakan. Langkah ini dilakukan agar ruang fiskal tetap terjaga dan mampu mendukung berbagai program prioritas nasional. Di sisi pembiayaan, pemerintah juga melakukan diversifikasi sumber pendanaan untukmengurangi risiko dari gejolak pasar keuangan global.Menurut Juda Agung, efektivitas strategi tersebut tercermin dari berbagai indikatorekonomi yang tetap terjaga. Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada pada...
- Advertisement -

Baca berita yang ini