Akal-Akalan Belanda Tak Serahkan Papua ke Indonesia di KMB

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Pada 27 Desember 1949 Belanda akhirnya menyerahkan kedaulatannya kepada Republik Indonesia Serikat (RIS) setelah kalah pada perundingan Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag yang berakhir 2 November 1949.

Namun, saat itu belum semua wilayah yang pernah dikuasai Belanda diserahkan kepada Sukarno dan Mohammad Hatta pewakilan RIS yang kemudian mengubahnya kembali menjadi Republik Indonesia (RI) seperti hasil Proklamasi Republik Indonesia (RI) 17 Agustus 1945.

Alasan kuat Belanda tidak mudah menyerahkan Papua yang dahulu bernama Irian Barat adalah begitu banyak sumber daya alam yang tertanam di perut bumi Cendrawasih.

Hasil tambangnya bisa dimanfaatkan Belanda untuk menyebarkan agama Kristen di Asia Pasifik.

Selain itu, meskipun Papua juga merupakan bekas jajahannya, Belanda beralasan beranggapan etnis dan ras penduduk di Irian Barat berbeda dengan penduduk di Indonesia pada umumnya.

Belanda berharap membangun negara tersendiri di pulau tersebut. Dilansir tirto.id serta mengutip Sejarah Nasional Indonesia Jilid V (2008) karya Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, Indonesia telah mengupayakan penyelesaian masalah Irian Barat selama 11 tahun. Namun karena tidak diindahkan oleh Belanda, permasalahan selalu diangkat dalam forum PBB tahun 1954, 1955, 1957 dan 1960.

Terlepas dari alasan Belanda tidak mudah menyerahkan wilayah Irian Barat dan dengan penundaannya masalah tersebut.

Ada hal politik yang dalam penundaan masalah ini yang perlu dipahami. Belanda mengharapkan negara Indonesia menjadi kacau dan memperoleh menguasai Indonesia melalui Papua.

Hal itu, dibuktikan dari Belanda yang tidak mau merundingkan kedaulatan Irian Barat atau Papua. Tetapi, Belanda sangat responsif jika merundingkan hal terkait perburuhan dan transportasi antara Irian Barat dan Indonesia. (Budiyani Rahmawati)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Kehadiran TNI-Polri Menjadi Pilar Utama Menjaga Papua Tetap Aman dan Damai

Oleh: Yonas Kogoya*Keamanan dan stabilitas di Papua terus menunjukkan penguatan seiring meningkatnyasinergi antara aparat keamanan, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam menjagaketertiban wilayah. Berbagai langkah strategis yang dilakukan TNI dan Polri menjadibagian penting dari upaya negara menghadirkan rasa aman sekaligus memastikanpembangunan di Papua berjalan secara berkelanjutan. Situasi tersebut memperlihatkankomitmen kuat negara dalam melindungi masyarakat Papua agar dapat menjalankanaktivitas sehari-hari dengan tenang, produktif, dan penuh harapan menuju masa depanyang lebih maju.Operasi gabungan TNI di bawah kendali Komando Gabungan Wilayah Pertahanan(Kogabwilhan) III bersama Koops Habema menjadi bukti nyata keseriusan negara dalam menjaga stabilitas keamanan di Papua. Keberhasilan aparat dalammempersempit ruang gerak kelompok separatis serta mengamankan berbagaiperlengkapan tempur menunjukkan bahwa upaya penegakan keamanan dilakukansecara profesional, terukur, dan bertanggung jawab. Langkah tersebut sekaligusmemberikan optimisme bahwa Papua semakin berada dalam kondisi yang kondusifuntuk mendukung pembangunan di berbagai sektor.Panglima Kogabwilhan III Letjen TNI Lucky Avianto menegaskan bahwa seluruh operasikeamanan bertujuan memastikan masyarakat dapat menjalankan aktivitas secara aman, termasuk anak-anak yang bersekolah dan masyarakat yang bekerja membangunperekonomian daerah. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa orientasi utama negara adalah melindungi rakyat dan menciptakan suasana damai demi kemajuan Papua. Keamanan bukan hanya soal menjaga wilayah, tetapi juga menjaga harapanmasyarakat agar dapat menikmati pembangunan dan kesejahteraan secara merata.Keberhasilan aparat keamanan dalam menjaga wilayah strategis di Papua juga memperlihatkan semakin kuatnya koordinasi lintas sektor. Dukungan masyarakatterhadap upaya menjaga stabilitas menjadi faktor penting yang mempercepatterciptanya kondisi aman dan tertib....
- Advertisement -

Baca berita yang ini