RM Ngaku Gak Punya Agama, Ini Keyakinan yang Dianut Member BTS Lainnya

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Agama yang tumbuh di Korea Selatan pada umumnya tidak dominan terhadap satu agama. Malahan, warga Korea Selatan dikenal dengan pilihannya tak memeluk dengan agama atau biasa disebut atheis.

Buat kalian para penggemar BTS, ARMY, penasaran gak sih agama apa yang dianut para RM cs itu? Meskipun mungkin tidak semuanya beragama, bukan berarti mereka tidak beragama.

Simak ulasan di bawah ini yaaa!

1. RM

RM BTS (Foto: Istimewa)

RM pernah terlihat mengenakan kalung dengan salib yang menurut beberapa orang memiliki makna religius. Namun, pemilik nama asli Kim Nam Joon ini pernah menyatakan dalam sebuah wawancara bahwa dia tidak beragama dan menegaskan bahwa dia sebenarnya adalah ateis. Motonya adalah hidup “seksi”.

2. Jin

Jin BTS (Foto: Istimewa)

Jin belum mengungkapkan agamanya kepada publik dan diketahui tidak memiliki agama seperti anggota lainnya.

3. Suga

Suga BTS (Foto: Big Hit)

Dalam pesan kepada penggemarnya di Twitter, Suga berbicara tentang perjalanannya ke Kobe dan berterima kasih kepada para penggemarnya karena telah ada untuknya. Dia juga menyatakan dalam pesan ini bahwa dia tidak beragama.

Dia menulis, “Sebagai manusia yang lemah tetapi bertindak kuat, saya menyadari sekali lagi bahwa saya hanyalah manusia biasa. Meskipun saya tidak memiliki agama, saya berdoa selama itu. Akhir telah ditentukan. Tapi kalaupun ada akhirnya, emosi dan hatiku tidak berubah.”

4. J-Hope

J-hope anggota boyband BTS hari ini berulang tahun
J-Hope (Foto: Dispatch)

J-Hope juga dikenal non-religius dan moto hidupnya adalah “mari kita berikan yang terbaik”. Dia pernah berkata bahwa dia percaya pada kenyataan bahwa dia akan menjadi seniman yang sukses dan bahwa keyakinan ini adalah sumber energinya. Pemilik nama Jung Ho Seoi=k ini menambahkan bahwa dia melakukan yang terbaik untuk membagikan energinya dengan anggota lain.

5. Jimin

Jimin BTS
Jimin BTS

Agama Jimin juga tidak diketahui tetapi moto hidupnya adalah “tertawa” serta “pantang menyerah”. Para anggotanya bahkan menyebutkan lebih dari sekali bahwa upaya dan hasrat Jimin adalah sesuatu yang dapat mereka pelajari.

Jimin juga mengakui bahwa kegigihannya adalah salah satu kualitasnya yang patut dipuji menurut pendapatnya. Sebagai trainee terakhir yang dikonfirmasi sebagai anggota BTS, ia mengatasi keterpurukannya melalui latihan yang gigih.

6. V

V BTS

Meskipun agama V belum dikonfirmasi, beberapa percaya bahwa dia bisa menjadi Kristen karena dia memiliki lagu penyembahan Kristen di playlistnya. Yang lain berpendapat bahwa dia mungkin tidak tahu bahwa lagu itu adalah lagu Kristen.

Beberapa telah mengkorelasikan sikap blow kissnya ke neneknya dengan agama Kristen juga. Motto hidupnya, di sisi lain, adalah “apa masalahnya”.

7. Jungkook

Jungkook BTS (Foto: Istimewa)

Meskipun Jungkook belum mengonfirmasi agamanya dan secara umum dikenal non-religius, ia bersekolah di School of Performing Arts in Seoul (SOPA) di sekolah menengah. Sekolah, menurut situs resminya, adalah “sekolah menengah pertama dan satu-satunya di Korea Selatan berbasis Kristen dengan tujuan khusus dalam seni pertunjukan”.

Sekolah ini dikabarkan mengadakan kebaktian setiap Rabu sore yang dihadiri semua siswa. Para siswa juga mengambil kelas pengajaran Alkitab seminggu sekali dan memiliki QT (waktu teduh) sebelum memulai hari.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Konsistensi Negara Mengawal Keadilan dan Percepatan Pembangunan Papua melalui Otonomi Khusus

Oleh: Manta Wabimbo *) Papua bukan sekadar wilayah administratif di ujung timur Indonesia, melainkan ruangstrategis tempat negara menguji komitmennya terhadap keadilan pembangunan. SejakOtonomi Khusus Papua diberlakukan pada 2001 dan diperkuat melalui Undang-UndangNomor 2 Tahun 2021, arah kebijakan pemerintah semakin tegas: menghadirkan pendekatanpembangunan yang afirmatif, terukur, dan berpihak pada Orang Asli Papua. Dalam kontekstersebut, Otsus tidak lagi dapat dipahami sebagai kebijakan sementara, melainkan sebagaiinstrumen jangka panjang untuk mengoreksi ketimpangan struktural yang diwariskan olehsejarah dan kondisi geografis. Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menunjukkan kesinambungan dan penguatanterhadap agenda Otsus. Hal ini tercermin dari intensifikasi koordinasi antara pemerintah pusatdan kepala daerah seluruh Papua yang dilakukan secara langsung di Istana Negara. Langkahtersebut menandakan bahwa Papua tidak diposisikan sebagai wilayah pinggiran, melainkansebagai prioritas nasional yang membutuhkan orkestrasi kebijakan lintas sektor. Pemerintahpusat tidak hanya menyalurkan anggaran, tetapi juga memastikan bahwa desainpembangunan Papua selaras antara pusat dan daerah. Salah satu capaian yang paling nyata dari implementasi Otsus adalah percepatanpembangunan infrastruktur dasar. Jalan penghubung, bandara perintis, dan fasilitas logistiktelah membuka isolasi wilayah yang selama puluhan tahun menjadi penghambat utamapembangunan. Infrastruktur ini tidak semata menghadirkan konektivitas fisik, tetapimenciptakan fondasi ekonomi baru yang memungkinkan distribusi barang lebih efisien danmenurunkan beban biaya hidup masyarakat. Dalam konteks ini, pembangunan infrastrukturmenjadi wujud kehadiran negara yang konkret dan dirasakan langsung oleh rakyat. Dampak lanjutan dari keterbukaan akses tersebut terlihat pada penguatan ekonomi lokal. Pemerintah mendorong agar aktivitas produksi masyarakat Papua, baik di sektor pertanian, perikanan, maupun usaha mikro, dapat terhubung dengan pasar yang lebih luas. Otsusmemberi ruang fiskal bagi daerah untuk merancang kebijakan ekonomi yang sesuai dengankarakter lokal, sekaligus menjaga agar manfaat pembangunan tidak terkonsentrasi padakelompok tertentu. Pendekatan ini menegaskan bahwa agenda pemerintah di Papua berorientasi pada pemerataan, bukan sekadar pertumbuhan angka statistik. Pada saat yang sama, Otsus Jilid II menempatkan pembangunan sumber daya manusiasebagai prioritas strategis. Program afirmasi pendidikan, termasuk beasiswa bagi siswa danmahasiswa asli Papua, menjadi investasi jangka panjang yang menentukan arah masa depanPapua. Otsus telah membuka ruang mobilitas sosial yang sebelumnya sulit dijangkau, sekaligus membangun rasa percaya diri generasi muda Papua untuk berkompetisi secaraglobal. Pandangan tersebut memperkuat keyakinan bahwa pendidikan adalah kunci utamakemandirian Papua di masa depan. Di sektor kesehatan, kebijakan Otsus juga menunjukkan wajah negara yang protektif. Pemerintah memastikan bahwa akses layanan kesehatan bagi Orang Asli Papua tidak lagiterhambat oleh keterbatasan biaya dan fasilitas. Penguatan rumah sakit daerah, distribusitenaga kesehatan, serta jaminan kesehatan khusus bagi OAP mencerminkan pendekatanpembangunan yang berorientasi pada hak dasar warga negara. Dalam kerangka yang sama, pemberdayaan ekonomi perempuan Papua melalui dukungan usaha mikro menjadi strategipenting untuk memperkuat ketahanan keluarga dan ekonomi lokal. Keunikan Otsus juga tercermin dalam pengakuan terhadap struktur sosial dan politikmasyarakat Papua. Keberadaan Majelis Rakyat Papua serta mekanisme afirmasi politik bagiOrang Asli Papua merupakan bentuk penghormatan negara terhadap identitas dan hakkolektif masyarakat adat. Tokoh agama Papua, Pdt. Alberth Yoku, menekankan bahwa Otsusmemberikan ruang bagi orang Papua untuk menjadi subjek pembangunan di tanahnya sendiri, selama dijalankan dengan semangat kolaborasi dan kejujuran. Perspektif ini menegaskanbahwa Otsus bukan ancaman bagi integrasi nasional, melainkan penguat persatuan berbasiskeadilan. Pemerintah juga menunjukkan keseriusan dalam memperbaiki tata kelola Otsus. Pembentukan Badan Pengarah Percepatan Otonomi Khusus Papua yang dipimpin langsungoleh Wakil Presiden merupakan sinyal kuat bahwa pengawasan dan efektivitas menjadiperhatian utama. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian secara konsisten menekankanpentingnya sinkronisasi program antara kementerian dan pemerintah daerah agar dana Otsusbenar-benar menghasilkan dampak nyata. Langkah ini menjawab kritik lama tentangfragmentasi kebijakan dan memperlihatkan kemauan politik pemerintah untuk melakukankoreksi. Ke depan, tantangan implementasi tentu masih ada. Namun dengan peningkatan alokasianggaran Otsus menjadi 2,25 persen dari Dana Alokasi Umum nasional serta pengawasanyang semakin ketat, fondasi pembangunan Papua kian kokoh. Yang dibutuhkan kini adalahkonsistensi pelaksanaan dan kepemimpinan daerah yang berorientasi pada pelayanan publik. Papua hari ini adalah Papua yang sedang bergerak maju. Mendukung Otsus berartimendukung agenda besar negara dalam menyempurnakan keadilan pembangunan danmemperkuat persatuan nasional. Ketika Papua tumbuh melalui jalur yang damai, inklusif, danberkelanjutan, Indonesia sedang meneguhkan dirinya sebagai bangsa besar yang tidakmeninggalkan satu pun wilayahnya dalam perjalanan menuju kemajuan. *) Analis Kebijakan Publik
- Advertisement -

Baca berita yang ini