Operasi Rollercoaster ‘Super Death’ Dihentikan Lantaran Menelan Korban Luka

Baca Juga

MATA INDONESIA, TOKYO –  Sebuah rollercoaster di Jepang –yang diklaim sebagai yang tercepat di dunia, resmi ditutup menyusul laporan empat orang yang mengalami patah tulang. Para korban bahkan harus menghabiskan delapan bulan untuk pemulihan.

Beberapa penumpang di rollercoaster Do-Dodonpa di taman hiburan Fuji-Q Highland, Jepang mengalami patah leher, dada, dan punggung, demikian dilaporkan Prefektur Yamanashi.

Sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh pihak taman hiburan Fuji-Q Highland mengatakan bahwa wahana itu –yang mampu melaju hingga 112 mil per jam, telah ditutup karena perbaikan keamanan.

“Hubungan kausal antara cedera dan mesin hiburan belum dikonfirmasi,” demikian pernyataan pihak taman hiburan Fuji-Q Highland, melansir Sky News, Rabu, 25 Agustus 2021.

Terletak di dekat kaki Gunung Fuji, objek wisata ini tidak digunakan lagi sejak 12 Agustus 2021. Disebut sebagai rollercoaster tercepat di dunia, wahana ini mampu mencapai apa yang disebutnya kecepatan “super death” yakni 112 mph hanya dalam waktu 1,56 detik.

Semua penumpang mengalami cedera yang serius – termasuk patah tulang leher dan patah tulang belakang. Sementara korban terakhir memerlukan perawatan hingga tiga bulan di rumah sakit, lapor media lokal, mengutip pemerintah daerah.

“Kami ingin mengungkapkan simpati terdalam kami kepada pelanggan yang terluka dan ketidaknyamanan serta perasaan tulus kepada semua pihak terkait. Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini,” demikian pernyataan Sansei Technologies, perusahaan manufaktur yang berbasis di Osaka yang membangun roller coaster tersebut.

Rollercoaster ini dibangun tahun 2001. Namun, berdasarkan pernyataan Vice, rollercoaster itu dimodifikasi untuk meningkatkan kecepatan tertinggi dari 106 mph menjadi 112 mph per jam dalam 1,56 detik dengan jarak 69 meter tahun 2017.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Aksi OPM Merusak Pendidikan dan Menghambat Kemajuan Papua

Oleh: Petrus Pekei* Papua adalah tanah harapan, tempat masa depan generasi muda bertumbuh melalui pendidikan, kerja keras, dan persaudaraan. Setiap upaya yang mengganggu ketenangan dan merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat Papua sejatinya berseberangan dengan cita-citabesar tersebut. Karena itu, penguatan narasi damai dan dukungan terhadap kehadiran negara menjadi energi utama untuk memastikan Papua terus melangkah maju. Di tengah dinamikakeamanan, bangsa ini menunjukkan keteguhan sikap bahwa keselamatan warga sipil, keberlanjutan pendidikan, dan pembangunan berkeadilan adalah prioritas yang tidak dapatditawar. Peristiwa kekerasan yang menimpa pekerja pembangunan fasilitas pendidikan di Yahukimomenggugah solidaritas nasional. Respons publik yang luas memperlihatkan kesadarankolektif bahwa pendidikan adalah fondasi masa depan Papua. Sekolah bukan sekadarbangunan, melainkan simbol harapan, jembatan menuju kesejahteraan, dan ruang aman bagianak-anak Papua untuk bermimpi. Ketika ruang ini dilindungi bersama, optimisme tumbuhdan kepercayaan terhadap masa depan kian menguat. Dukungan masyarakat terhadap langkahtegas aparat keamanan merupakan bentuk kepercayaan pada negara untuk memastikan rasa aman hadir nyata hingga ke pelosok. Narasi persatuan semakin kokoh ketika tokoh-tokoh masyarakat Papua menyampaikanpandangan yang menyejukkan. Sekretaris Jenderal DPP Barisan Merah Putih Republik Indonesia, Ali Kabiay, menegaskan pentingnya perlindungan warga sipil dan keberlanjutanpembangunan, khususnya pendidikan. Pandangannya menekankan bahwa stabilitas adalahprasyarat utama bagi kesejahteraan, dan negara perlu bertindak tegas serta terukur agar ketenangan sosial terjaga. Ajakan kepada masyarakat untuk tetap waspada, memperkuatkomunikasi dengan aparat, dan menolak provokasi menjadi penopang kuat bagi ketertibanbersama. Sikap serupa juga disuarakan oleh...
- Advertisement -

Baca berita yang ini