Eks Panglima TPN OPM Serukan Damai, Kutuk Keras Aksi Brutal yang Rugikan Warga Sipil

Baca Juga

Mata Indonesia, Keerom – Eks Panglima Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka (TPN OPM) Markas Victoria, Lambert Pekikir, menyerukan perdamaian di Tanah Papua serta mengutuk keras aksi-aksi brutal yang merugikan masyarakat sipil. Pencetus inisiatif Keerom Damai pada 2014 itu menegaskan bahwa situasi keamanan di Kabupaten Keerom hingga kini tetap aman dan kondusif berkat komitmen bersama seluruh elemen masyarakat dalam menjaga stabilitas daerah.

Menurut Lambert Pekikir, berbagai isu yang menyebutkan adanya konflik atau perpecahan di tengah masyarakat Keerom tidak sesuai dengan kondisi nyata. Ia menilai informasi yang tidak jelas kebenarannya kerap dimanfaatkan pihak tertentu untuk memprovokasi dan merusak persatuan yang telah terbangun selama ini.

“Situasi di Keerom sampai hari ini aman dan terkendali. Tidak benar jika ada isu yang mengatakan masyarakat terpecah atau terjadi konflik. Justru masyarakat hidup rukun dan saling menghargai,” ujar Lambert Pekikir pada Selasa, 3 Februari 2026.

Ia menjelaskan bahwa stabilitas di Keerom merupakan hasil kerja bersama antara masyarakat adat, tokoh agama, pemerintah daerah, serta aparat keamanan. Kondisi tersebut dinilai menjadi modal penting bagi kelangsungan pembangunan dan kehidupan sosial yang harmonis di wilayah perbatasan tersebut.

Lambert Pekikir menekankan bahwa masyarakat Keerom, baik penduduk asli maupun pendatang, selama ini hidup berdampingan dengan baik. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh isu-isu yang belum tentu benar dan dapat memicu kesalahpahaman.

“Masyarakat Keerom hingga saat ini, baik penduduk asli maupun pendatang, hidup berdampingan dan tidak terpecah belah hanya karena isu-isu yang tidak jelas adanya,” katanya.

Lebih lanjut, ia mengajak seluruh pihak, termasuk TNI-Polri, organisasi kemasyarakatan, paguyuban, dan dewan adat, untuk terus berperan aktif menjaga perdamaian. Menurutnya, kedamaian di Keerom bukan hasil satu pihak semata, melainkan buah dari kolaborasi banyak elemen.

“Kedamaian ini bukan dibangun oleh satu pihak saja, tetapi hasil kerja bersama. Karena itu mari kita jaga bersama-sama, jangan mudah terprovokasi,” tegasnya.

Dalam pernyataannya, Lambertus juga menyampaikan kritik keras terhadap aksi-aksi kekerasan yang masih terjadi dan berpotensi menyeret warga sipil. Ia menegaskan bahwa masyarakat tidak bersalah tidak boleh menjadi korban dalam konflik apa pun.

“Hindari hal-hal yang dapat merugikan kita semua. Teruntuk Barisan OPM yang sedang menunjukkan eksistensinya, saya minta jangan libatkan masyarakat sipil dan masyarakat yang tidak bersalah, terlebih menggunakan aksi-aksi kekerasan. Mari kita jaga kedamaian bersama-sama di Tanah Papua ini,” ujarnya.

Seruan eks panglima tersebut dipandang sebagai pesan moral penting di tengah upaya menjaga stabilitas keamanan Papua. Ajakan untuk mengedepankan dialog dan menghindari kekerasan diharapkan dapat memperkuat rasa aman masyarakat, sehingga aktivitas sosial dan ekonomi dapat berjalan dengan baik serta mendukung peningkatan kesejahteraan warga di Papua.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Aksi OPM Merusak Pendidikan dan Menghambat Kemajuan Papua

Oleh: Petrus Pekei* Papua adalah tanah harapan, tempat masa depan generasi muda bertumbuh melalui pendidikan, kerja keras, dan persaudaraan. Setiap upaya yang mengganggu ketenangan dan merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat Papua sejatinya berseberangan dengan cita-citabesar tersebut. Karena itu, penguatan narasi damai dan dukungan terhadap kehadiran negara menjadi energi utama untuk memastikan Papua terus melangkah maju. Di tengah dinamikakeamanan, bangsa ini menunjukkan keteguhan sikap bahwa keselamatan warga sipil, keberlanjutan pendidikan, dan pembangunan berkeadilan adalah prioritas yang tidak dapatditawar. Peristiwa kekerasan yang menimpa pekerja pembangunan fasilitas pendidikan di Yahukimomenggugah solidaritas nasional. Respons publik yang luas memperlihatkan kesadarankolektif bahwa pendidikan adalah fondasi masa depan Papua. Sekolah bukan sekadarbangunan, melainkan simbol harapan, jembatan menuju kesejahteraan, dan ruang aman bagianak-anak Papua untuk bermimpi. Ketika ruang ini dilindungi bersama, optimisme tumbuhdan kepercayaan terhadap masa depan kian menguat. Dukungan masyarakat terhadap langkahtegas aparat keamanan merupakan bentuk kepercayaan pada negara untuk memastikan rasa aman hadir nyata hingga ke pelosok. Narasi persatuan semakin kokoh ketika tokoh-tokoh masyarakat Papua menyampaikanpandangan yang menyejukkan. Sekretaris Jenderal DPP Barisan Merah Putih Republik Indonesia, Ali Kabiay, menegaskan pentingnya perlindungan warga sipil dan keberlanjutanpembangunan, khususnya pendidikan. Pandangannya menekankan bahwa stabilitas adalahprasyarat utama bagi kesejahteraan, dan negara perlu bertindak tegas serta terukur agar ketenangan sosial terjaga. Ajakan kepada masyarakat untuk tetap waspada, memperkuatkomunikasi dengan aparat, dan menolak provokasi menjadi penopang kuat bagi ketertibanbersama. Sikap serupa juga disuarakan oleh...
- Advertisement -

Baca berita yang ini