Standar Gizi MBG Ramadan Diperkuat, Transparansi Anggaran Jadi Perhatian

Baca Juga

Mata Indonesia, Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama bulan Ramadan terus diperkuat dari sisi standar gizi dan tata kelola anggaran. Pemerintah memastikan pelaksanaan program unggulan ini tetap memenuhi prinsip kualitas, ketepatan sasaran, serta transparansi penggunaan dana negara di tengah meningkatnya jumlah penerima manfaat secara signifikan.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menegaskan komitmen lembaganya untuk terus meningkatkan mutu MBG selama Ramadan. Menurutnya, evaluasi menyeluruh dilakukan agar pelaksanaan program tetap berjalan sesuai standar dan tidak menimbulkan polemik di ruang publik.

“Kami ingin memastikan bahwa pelaksanaan MBG Ramadan tetap sesuai standar gizi, tepat sasaran, serta transparan dari sisi penggunaan anggaran. Evaluasi ini penting agar tidak terjadi kesalahpahaman di ruang publik,” ujar Dadan.

Ia menjelaskan bahwa evaluasi mencakup berbagai aspek, mulai dari kemasan makanan, komposisi menu, hingga transparansi perhitungan Angka Kecukupan Gizi (AKG). Dadan juga meminta seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan mitra BGN untuk memperhatikan kualitas kemasan. Menu MBG, kata dia, tidak boleh hanya dikemas plastik sederhana, melainkan harus menggunakan wadah yang higienis dan mampu menjaga mutu makanan hingga diterima penerima manfaat.

Selain itu, BGN menekankan kepatuhan terhadap pagu bahan baku yang telah ditetapkan. Dadan mencontohkan pemilihan bahan pangan harus mempertimbangkan nilai gizi, harga, dan penerimaan masyarakat.

“Kacang relatif lebih mahal dibandingkan telur, sementara telur memiliki citra protein yang lebih baik dan lebih mudah diterima masyarakat,” katanya.

Dukungan terhadap penguatan MBG juga datang dari parlemen. Anggota Komisi IX DPR RI Indah Kurniawati mengingatkan masyarakat agar semakin cerdas dalam memilih makanan dan minuman dengan memperhatikan label kemasan, izin edar, serta tanggal kedaluwarsa. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga kesehatan keluarga sekaligus mendukung keberhasilan program MBG.

“Program MBG yang dijalankan BGN merupakan investasi jangka panjang bagi bangsa,” ujarnya.

Indah juga berharap keberadaan dapur SPPG dapat melibatkan masyarakat setempat sebagai pemasok bahan pangan. Dengan demikian, program ini tidak hanya meningkatkan kualitas gizi anak-anak, tetapi juga menggerakkan perekonomian lokal. Ia menegaskan pengawasan program membutuhkan peran bersama dan membuka ruang dialog bagi masyarakat untuk menyampaikan masukan secara konstruktif.

Dari sisi anggaran, Kementerian Keuangan melaporkan hingga 21 Februari 2026, realisasi penggunaan dana MBG telah mencapai Rp36,6 triliun atau 10,9 persen dari total alokasi Rp335 triliun. Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyebut jumlah penerima MBG terus meningkat, dari 53,8 juta orang di akhir 2025 menjadi 60,24 juta penerima per 21 Februari 2026. Pada periode yang sama, jumlah SPPG melonjak menjadi 23.678 unit, menandai perluasan layanan MBG secara nasional.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Koperasi Merah Putih dan Pemerataan Manfaat APBN bagi Rakyat

Oleh : Siti Fatimah Rahma*Kehadiran Koperasi Desa Merah Putih menjadi salah satu terobosan strategis dalam memperkuatpemerataan manfaat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga ke tingkat akarrumput. Dalam konteks pembangunan nasional, tantangan utama bukan semata pada besarnyaalokasi anggaran, melainkan pada efektivitas distribusi dan dampaknya terhadap kesejahteraanmasyarakat. Oleh karena itu, pendekatan berbasis desa melalui koperasi menjadi instrumenpenting untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan negara benar-benar dirasakanoleh rakyat secara langsung, merata, dan berkelanjutan.Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa skema pembiayaan KoperasiMerah Putih dirancang secara hati-hati agar tidak membebani APBN secara berlebihan. Ia menjelaskan bahwa meskipun sebagian dana bersumber dari alokasi dana desa, kebijakan initetap memberikan nilai tambah karena mendorong efisiensi ekonomi di tingkat lokal. Pendekatanini memperlihatkan bahwa pengelolaan fiskal tidak hanya berorientasi pada pengeluaran, tetapijuga pada penciptaan manfaat jangka panjang yang dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional.Lebih lanjut, Purbaya memaparkan bahwa kondisi fiskal tetap terjaga seiring denganmeningkatnya pendapatan negara, terutama dari sektor komoditas seperti batu bara dan minyak. Hal ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk melakukan akselerasi belanja di awal tahunsebagai strategi mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Dengan demikian, percepatan belanja tidak dipandang sebagai risiko, melainkan sebagai instrumen kebijakan untukmengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah.Dari sisi pembiayaan, penggunaan skema pinjaman melalui perbankan Himbara menjadi langkahinovatif untuk memitigasi risiko fiskal. Pemerintah tidak langsung menanggung beban besarsebagaimana dalam skema Penyertaan Modal...
- Advertisement -

Baca berita yang ini