11 Film Terbaik Bertema Holokaus

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Tragedi besar dalam sejarah sering menjadi inspirasi bagi pembuatan film-film hebat. Sebagai salah satu peristiwa paling tragis dalam sejarah manusia, Holokaus juga telah mengilhami sejumlah sutradara untuk membuat karya sinematik yang berhubungan dengan peristiwa keji ini.

Untuk alasan yang baik, film-film ini dapat melestarikan ingatan sejarah untuk generasi mendatang.

Baik untuk tujuan pendidikan maupun sebagai peringatan bahwa kejahatan semacam itu pernah terjadi di muka bumi. Berikut film terbaik tentang Holocaust yang bisa kalian tonton.

1. Europa Europa (1990)

Bisa dibilang kalau film ini lebih mirip gambaran epik Perang Dunia II daripada film Holocaust murni. Ketika menontonnya, kalian akan dibawa ke sebuah pogrom terkenal yang dikenal sebagai Kristallnacht, melalui mata seorang bocah Jerman-Yahudi bernama Solomon Perel.

Didasarkan pada kisah nyata, Europa Europa mengikuti kisah Perel saat ia melakukan perjalanan dari Nazi Jerman ke Polandia, kemudian ke Uni Soviet.

Film yang luar biasa ini merinci pelarian Perel dari penjara Nazi. Ia mencoba menyembunyikan identitasnya dan menyamar sebagai seorang Arya.

Hal ini untuk menghindari nasib yang dihadapi oleh seluruh Yahudi Eropa pada saat itu, yakni dibantai di dalam kamar gas di kamp-kamp konsentrasi Nazi.

2. Schindler’s List (1993)

Tidak diragukan lagi kalau Schindler’s List menjadi film paling terkenal dalam daftar ini. Diadaptasi dari novel berjudul Schindler’s Ark, film ini menggambarkan kisah nyata pengusaha Jerman, Oskar Schindler, yang menyelamatkan lebih dari seribu pengungsi Yahudi dari kamp konsentrasi.

Schindler’s List tetap menjadi salah satu film terbaik tentang Holocaust yang pernah dibuat. Tentunya, kehebatan film ini tidak dapat dipisahkan dari akting yang apik dari Liam Neeson, Ralph Fiennes, dan Ben Kingsley.

3. Life is Beautiful (1997)

Meski menjadi film drama perang, Life is Beautiful justru dimulai dengan tone yang agak terang. Kemudian menyorot kehidupan seorang pemilik toko buku Yahudi-Italia bernama Guido Orefice (Roberto Benigni).

Cerita berlanjut ketika ia menikah dengan Dora (Nicoletta Braschi) dan dikaruniai seorang putra bernama Giosue (Giorgio Cantarini).

Namun, kebahagiaan mereka mulai terusik ketika Nazi Jerman menancapkan taringnya di Eropa. Kita tahu kalau sebagian besar orang Yahudi pada saat itu akan dibawa ke kamp konsentrasi Nazi. Sayangnya, hal yang sama juga terjadi pada Dora.

Demi melindungi putranya dari kengerian Holocaust, Guido pun membuat beberapa banyolan. Hal itu untuk membuat Giosue percaya kalau semua yang terjadi di sekitar mereka hanya permainan belaka. Cukup menyedihkan, bukan?

4. Amen (2002)

Kurt Gerstein (Ulrich Tukur) adalah perwira Nazi yang terlatih sebagai ahli kimia selama Perang Dunia II. Ia ditugaskan untuk mengembangkan obat desinfeksi untuk pemurnian air bagi pasukan Jerman.

Sebelum menyadari bahwa penemuannya, Zyklon B, digunakan untuk membasmi kaum Yahudi. Gerstein mencoba memberitahukan pemusnahan manusia ini pada orang-orang dengan pengaruh diplomatik termasuk Paus Pius XII.

Sayang, hanya pendeta muda Riccardo Fontana (Mathieu Kassovitz) yang menanggapinya dengan serius dan bersedia membantunya dalam misi berat memberitakan hal ini pada dunia.

Fontana kembali ke Vatikan. Namun, diberitahu pimpinannya bahwa mereka memiliki banyak masalah yang lebih mendesak ketimbang pembasmian orang-orang Yahudi.

5. The Pianist (2002)

Hanya ada satu kalimat yang dapat menggambarkan The Pianist: sebuah mahakarya yang mengerikan. Dalam film tersebut, sutradara Roman Polański menceritakan kisah nyata dari pianis Polandia-Yahudi.

Wladyslaw Szpilman (Adrien Brody), dan bagaimana ia bertahan hidup dari pendudukan Jerman di Kota Warsawa.

Seperti Europa Europa, The Pianist adalah kisah tentang bertahan hidup di tengah kekejian Nazi. Namun, tidak seperti Perel yang membaur dengan musuh untuk bertahan hidup.

Szpilman terus melarikan diri dan bersembunyi dari kejaran Nazi sampai ia bisa “melayani” mereka dengan kemampuan pianonya.

Memanfaatkan perubahan wajah dan penampilan dari Adrien Brody, film ini sanggup menyampaikan semua emosi yang ia rasakan pada saat itu. Karena itu, tidak diragukan lagi mengapa film ini menjadikan Brody sebagai aktor termuda yang meraih Academy Award untuk kategori Aktor Terbaik.

6. Sophie Scholl: The Final Days (2005)

Mengisahkan hari-hari terakhir aktivis mahasiswa Sophie Scholl (Julia Jentsch) berusia 21 tahun. Ia menjadi anggota kelompok perlawanan anti-perang dan anti-Nazi, The White Rose pada 1943.

Shopie dan para anggota The White Rose berjuang tanpa kenal lelah menyebarkan propaganda anti-kekerasan dan menolak Nazi di Munich.

Saat tengah menjalankan salah satu misinya, Gestapo menangkap Shopie dan saudaranya ke penjara. Dia dinyatakan bersalah atas tuduhan penghianatan oleh pengadilan.

Dan dieksekusi di hari yang sama pada 22 Februari 1943. Film ini mendapatkan pernghargaan Sutradara Terbaik dan Aktris Terbaik pada 2005.

7. The Counterfeiters (2007)

Berfokus pada banalitas kejahatan, film ini menyorot Operation Bernhard. Sebuah rencana Nazi Jerman untuk memalsukan uang Inggris untuk meruntuhkan ekonomi negara tersebut.

Dalam film tersebut, Salomon “Sally” Sorowitsch, seorang pemalsu terkenal Yahudi dan tahanan Nazi, dipaksa memimpin Operasi Bernhard di kamp konsentrasi Sachsenhausen.

Lewat film ini, sutradara Stefan Ruzowitzky berhasil memberikan gambaran tentang lingkungan kamp yang keji. Tentunya akan membuat kita bertanya-tanya perihal moralitas dan sisi kemanusiaan pada masa itu.

8. The Boy in the Striped Pyjamas (2008)

Sudah menyiapkan tisu yang banyak? Jika sudah, maka kalian boleh menonton film yang diadaptasi dari novel karya John Boyne ini.

The Boy in the Striped Pyjamas berfokus pada persahabatan tidak biasa antara seorang bocah Jerman bernama Bruno (Asa Butterfield) dan seorang bocah Yahudi bernama Shmuel (Jack Scanlon).

Sama seperti film lainnya di artikel ini, The Boy in the Striped Pyjamas menyorot tentang berbagai kekejaman di kamp konsentrasi Nazi. Tanpa harus memberikan spoiler, akhir film ini akan memberikan pukulan telak pada kalian yang menontonnya.

9. In Darkness (2011)

Leopold Socha (Robert Wieckiewicz) bekerja sebagai buruh jahit di Lvov, salah satu kota yang diokupasi tentara Nazi di Polandia. Ketika dia mendapati sekelompok Yahudi bersembunyi di tempat kerjanya, Leopold setuju memberi mereka perlindungan asal mereka membayarnya. Meski tahu tentara akan membunuhnya jika ketahuan.

Terdorong karena uang pada awalnya, pandangan Leopold berubah setelah ia mengalami beberapa kejadian berkenaan dengan orang-orang Yahudi yang ia lindungi. Hingga malapetaka tak lagi bisa dihindari, Leopold harus menentukan sikapnya untuk yang terakhir kali.

10. Son of Saul (2015)

Sebagai film debut dari sutradara asal Hongaria, László Nemes, Son of Saul menceritakan kehidupan Saul Ausländer. Seorang Sonderkommando Hongaria di kamp konsentrasi Auschwitz II-Birkenau pada tahun 1944.

Dirilis pada tahun 2015, film ini berhasil membuka kembali diskusi sinematik tentang Holocaust. Khususnya karena subjek di dalamnya dibahas dengan sangat serius dan tidak melodramatis. Ketika menontonnya, kalian pun akan merasakan beban moral yang dibawa oleh Saul.

Meskipun dipenuhi dengan adegan yang keji, Son of Saul masih dapat menggambarkan sisi terang dalam kemanusiaan. Terutama ketika Saul berusaha menemukan makna di tempat yang benar-benar tidak memberinya harapan.

11. Das Tagebuch der Anne Frank (2016)

Cerita Das Tagebuch der Anne Frank diambil dari buku harian Anne Frank yang diterbitkan berjudul “The Diary of a Young Girl”.

Berdasarkan kisah nyata, saat Perang Dunia II meletup dan pendudukan Nazi sampai di Belanda, Anne Frank (Lea van Acken) dan keluarganya tinggal dalam persembunyian di Amsterdam.

Gadis berusia 13 tahun ini selalu mencatat berbagai peristiwa yang ia alami. Serta pemikirannya terkait keadaan di kotanya dalam buku harian yang ia dapat sebagai kado ulang tahun.

Sampai akhirnya orang-orang Yahudi dikhianati dan dibawa ke kamp konsentrasi, ia dan keluarganya menemui ajal disana sebagai korban Holocaust bersama penduduk Yahudi lain.

Nah, itu tadi 11 film terbaik tentang Holocaust yang wajib kamu tonton. Bagaimana, apakah kalian tertarik untuk menonton semuanya di akhir pekan nanti?

Reporter: Indah Utami

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Konsistensi Negara Mengawal Keadilan dan Percepatan Pembangunan Papua melalui Otonomi Khusus

Oleh: Manta Wabimbo *) Papua bukan sekadar wilayah administratif di ujung timur Indonesia, melainkan ruangstrategis tempat negara menguji komitmennya terhadap keadilan pembangunan. SejakOtonomi Khusus Papua diberlakukan pada 2001 dan diperkuat melalui Undang-UndangNomor 2 Tahun 2021, arah kebijakan pemerintah semakin tegas: menghadirkan pendekatanpembangunan yang afirmatif, terukur, dan berpihak pada Orang Asli Papua. Dalam kontekstersebut, Otsus tidak lagi dapat dipahami sebagai kebijakan sementara, melainkan sebagaiinstrumen jangka panjang untuk mengoreksi ketimpangan struktural yang diwariskan olehsejarah dan kondisi geografis. Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menunjukkan kesinambungan dan penguatanterhadap agenda Otsus. Hal ini tercermin dari intensifikasi koordinasi antara pemerintah pusatdan kepala daerah seluruh Papua yang dilakukan secara langsung di Istana Negara. Langkahtersebut menandakan bahwa Papua tidak diposisikan sebagai wilayah pinggiran, melainkansebagai prioritas nasional yang membutuhkan orkestrasi kebijakan lintas sektor. Pemerintahpusat tidak hanya menyalurkan anggaran, tetapi juga memastikan bahwa desainpembangunan Papua selaras antara pusat dan daerah. Salah satu capaian yang paling nyata dari implementasi Otsus adalah percepatanpembangunan infrastruktur dasar. Jalan penghubung, bandara perintis, dan fasilitas logistiktelah membuka isolasi wilayah yang selama puluhan tahun menjadi penghambat utamapembangunan. Infrastruktur ini tidak semata menghadirkan konektivitas fisik, tetapimenciptakan fondasi ekonomi baru yang memungkinkan distribusi barang lebih efisien danmenurunkan beban biaya hidup masyarakat. Dalam konteks ini, pembangunan infrastrukturmenjadi wujud kehadiran negara yang konkret dan dirasakan langsung oleh rakyat. Dampak lanjutan dari keterbukaan akses tersebut terlihat pada penguatan ekonomi lokal. Pemerintah mendorong agar aktivitas produksi masyarakat Papua, baik di sektor pertanian, perikanan, maupun usaha mikro, dapat terhubung dengan pasar yang lebih luas. Otsusmemberi ruang fiskal bagi daerah untuk merancang kebijakan ekonomi yang sesuai dengankarakter lokal, sekaligus menjaga agar manfaat pembangunan tidak terkonsentrasi padakelompok tertentu. Pendekatan ini menegaskan bahwa agenda pemerintah di Papua berorientasi pada pemerataan, bukan sekadar pertumbuhan angka statistik. Pada saat yang sama, Otsus Jilid II menempatkan pembangunan sumber daya manusiasebagai prioritas strategis. Program afirmasi pendidikan, termasuk beasiswa bagi siswa danmahasiswa asli Papua, menjadi investasi jangka panjang yang menentukan arah masa depanPapua. Otsus telah membuka ruang mobilitas sosial yang sebelumnya sulit dijangkau, sekaligus membangun rasa percaya diri generasi muda Papua untuk berkompetisi secaraglobal. Pandangan tersebut memperkuat keyakinan bahwa pendidikan adalah kunci utamakemandirian Papua di masa depan. Di sektor kesehatan, kebijakan Otsus juga menunjukkan wajah negara yang protektif. Pemerintah memastikan bahwa akses layanan kesehatan bagi Orang Asli Papua tidak lagiterhambat oleh keterbatasan biaya dan fasilitas. Penguatan rumah sakit daerah, distribusitenaga kesehatan, serta jaminan kesehatan khusus bagi OAP mencerminkan pendekatanpembangunan yang berorientasi pada hak dasar warga negara. Dalam kerangka yang sama, pemberdayaan ekonomi perempuan Papua melalui dukungan usaha mikro menjadi strategipenting untuk memperkuat ketahanan keluarga dan ekonomi lokal. Keunikan Otsus juga tercermin dalam pengakuan terhadap struktur sosial dan politikmasyarakat Papua. Keberadaan Majelis Rakyat Papua serta mekanisme afirmasi politik bagiOrang Asli Papua merupakan bentuk penghormatan negara terhadap identitas dan hakkolektif masyarakat adat. Tokoh agama Papua, Pdt. Alberth Yoku, menekankan bahwa Otsusmemberikan ruang bagi orang Papua untuk menjadi subjek pembangunan di tanahnya sendiri, selama dijalankan dengan semangat kolaborasi dan kejujuran. Perspektif ini menegaskanbahwa Otsus bukan ancaman bagi integrasi nasional, melainkan penguat persatuan berbasiskeadilan. Pemerintah juga menunjukkan keseriusan dalam memperbaiki tata kelola Otsus. Pembentukan Badan Pengarah Percepatan Otonomi Khusus Papua yang dipimpin langsungoleh Wakil Presiden merupakan sinyal kuat bahwa pengawasan dan efektivitas menjadiperhatian utama. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian secara konsisten menekankanpentingnya sinkronisasi program antara kementerian dan pemerintah daerah agar dana Otsusbenar-benar menghasilkan dampak nyata. Langkah ini menjawab kritik lama tentangfragmentasi kebijakan dan memperlihatkan kemauan politik pemerintah untuk melakukankoreksi. Ke depan, tantangan implementasi tentu masih ada. Namun dengan peningkatan alokasianggaran Otsus menjadi 2,25 persen dari Dana Alokasi Umum nasional serta pengawasanyang semakin ketat, fondasi pembangunan Papua kian kokoh. Yang dibutuhkan kini adalahkonsistensi pelaksanaan dan kepemimpinan daerah yang berorientasi pada pelayanan publik. Papua hari ini adalah Papua yang sedang bergerak maju. Mendukung Otsus berartimendukung agenda besar negara dalam menyempurnakan keadilan pembangunan danmemperkuat persatuan nasional. Ketika Papua tumbuh melalui jalur yang damai, inklusif, danberkelanjutan, Indonesia sedang meneguhkan dirinya sebagai bangsa besar yang tidakmeninggalkan satu pun wilayahnya dalam perjalanan menuju kemajuan. *) Analis Kebijakan Publik
- Advertisement -

Baca berita yang ini