Pernah Terkam ART hingga Tewas, Anjing Bima Aryo Mati karena Sakit

Baca Juga

MINEWS, JAKARTA – Sparta, anjing milik presenter Bima Aryo dikabarkan mati. Informasi mengenai kematian Sparta ini disampaikan langsung oleh Bima Aryo mengabarkan lewat Instagram Story-nya, @bimaaryo.

Dalam unggahannya, Bima Aryo mengatakan bahwa Sparta mengalami sakit. Sebelum mati, presenter My Trip My Adventure ini mengunggah beberapa video bersama anjingnya yang sedang diberikan perawatan.

Anjing jenis malinois Belgian itu terlihat lemas dan diinfus untuk menghindari kekurangan cairan. Bima mengungkapkan bahwa Sparta sempat mimisan, muntah dan juga muncul beberapa luka di badan Sparta.

Kondisi Sparta tampaknya cukup serius, dilihat dari IG Story-nya Bima bahkan meminta bantuan donor darah untuk anjingnya. Dia mengatakan golongan darah anjingnya DEA1 positif. Namun belum sempat mendapatkan donor darah, Bima mengabarkan Sparta telah mati.

“Maafin Sparta kalau ada salah, guys. Dia tadi meninggal, guys. Gue peluk dia di tangan gue,” ucap Bima sembari menangis.

“Sparta kalau kamu pergi, pergi nggak apa-apa sayang, aku sayang aku bangga, nggak usah kamu tahan-tahanin, nggak usah kamu kuat-kuatin, aku tahu kamu kuat. Udah takdir kamu, nggak bisa kamu lawan. I love you, Sparta,” sambung Bima.

Diketahui, anjing Bima Aryo sempat menjadi sorotan karena menerkam asisten rumah tangga (ART) bernama Yayan hingga tewas pada 30 Agustus 2019 lalu.

Akibat peristiwa tersebut, Sparta sempat dibawa Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) Jakarta Timur untuk observasi. Saat itu ada tiga anjing yang diangkut Sudin KPKP Jaktim dari kediaman Bima Aryo di Jalan Langgar, Cipayung, Jakarta Timur, Selasa 3 September 2019.

Berita Terbaru

PKL Teras Malioboro 2: Suara Ketidakadilan di Tengah Penataan Kawasan

Mata Indonesia, Yogyakarta – Sejak relokasi Pedagang Kaki Lima (PKL) dari Malioboro ke Teras Malioboro 2, berbagai persoalan serius mencuat ke permukaan. Kebijakan relokasi yang bertujuan memperindah Malioboro sebagai warisan budaya UNESCO justru meninggalkan jejak keresahan di kalangan pedagang. Lokasi baru yang dinilai kurang layak, fasilitas yang bermasalah, dan pendapatan yang merosot tajam menjadi potret suram perjuangan PKL di tengah upaya mempertahankan hidup.
- Advertisement -

Baca berita yang ini