Viral Curhat Ibu-ibu Sebut Orangtua Atta Halilintar Tukang Tipu, Tabungan Ratusan Juta Melayang

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Netizen mendadak heboh usai viral curhatan seorang ibu yang menyebut kedua orangtua Atta Halilintar sebagai tukang tipu.

Dalam akun Facebooknya, ibu bernama Ummi Afif Piliang itu mengaku dirinya telah menjadi korban penipuan dari orangtua Atta, yakni Halilintar Anofial Asmid dan Lenggogeni Faruk. Ummi juga mengatakan bukan dia saja yang menjadi korban, tapi ada juga beberapa orang lainnya.

“Kenapa sekarang berobah. Dia lakukan apa dahulu yg dihindarkannya. Krn uangkah?. Disebelahnya pak Dedi pakai Dasi konglomerat yg tinggal di Blok M. Sudah meninggal krn stress? Uang beliau miliaran ludes?,” tulisnya, dikutip Kamis, 27 Agustus 2020.

“Dapat foto si Geni (Gen Halilintar) yg telah menipu uang tabungan anak2 ku €40.000,” lanjut Ummi Afif.

“Dari kiri si Geni, Su’at, Saidah & ibu Nunung saleh konglomerat yg tinggal di Blok M Jkt. Semua ibu2 korban penipuan Jema’ah Darul Arqam asal Maleysia. Sekarang nama Jemaahnya Global Ikhwan,” katanya.

Ummi juga bercerita bahwa Lenggogeni langsung menghilang usai menghabiskan uang para korbannya.

“Bagiku dia adalah perempuan penipu super licik. Menghilang dia, setelah uang tabunganku ludes diripunya. DM40.000 = 40.000 Euro (Rp695 juta). Siapa tidak girang dpat rezeki nomplok, hanya krn pintar berkata kata. Dengan janji keuntungan berlipat ganda,” tulis Ummi Afif.

Ibu tersebut juga menjelaskan bahwa penipuan itu terjadi pada Juli 1997. Dan ia masih sempat berkomunikasi dengan orangtua Atta hingga tahun 2002. Namun setelah itu, tak lagi bertukar kabar.

Curhatan Ummi Afif ini tak pelak membuat para netizen terkejut. Postingan tersebut pun dibanjiri komentar.

“Kalo cukup punya bukti Knp gak segera lapor polisi mbak…???,” tulis @Monalisa Ahmad II.

“Dari awal kemunculan ny dijagad hiburan youtube aku koq ya ga sreg sm keluarga ini.. Rupanya ada masalalu kelam yg blm selesai,” komentar akun @Rahma Ummu Shoubil.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Danantara, PSEL, dan Masa Depan Pengelolaan Sampah Indonesia

*) Oleh: Citra Ningrum OktaviaPemerintah tengah menghadapi salah satu tantangan paling mendesak dalampembangunan nasional, yakni darurat sampah perkotaan yang selama bertahun-tahun berjalan tanpa penyelesaian menyeluruh. Timbunan sampah yang terusmeningkat tidak lagi sekadar persoalan kebersihan lingkungan, melainkan telahmenjadi ancaman serius bagi kesehatan publik, kualitas ekosistem, hingga ketahananenergi nasional. Di tengah situasi tersebut, langkah pemerintah menggandengDanantara Indonesia untuk mempercepat pembangunan fasilitas PengolahanSampah menjadi Energi Listrik (PSEL) merupakan keputusan strategis yang menunjukkan keberanian negara keluar dari pola lama pengelolaan sampah yang stagnan. Penandatanganan nota kesepahaman pembangunan PSEL di enam lokasibersama 13 pemerintah daerah menjadi sinyal bahwa pemerintah tidak lagi bekerjadengan pendekatan parsial, tetapi mulai membangun sistem pengelolaan sampahyang terintegrasi dan berorientasi jangka panjang.Lebih jauh, penerbitan Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 tentangpercepatan pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrikmemperlihatkan adanya keseriusan politik pemerintah dalam membenahi tata kelolasampah nasional. Menko Pangan, Zulkifli Hasan menegaskan bahwa regulasitersebut telah mendorong langkah konkret pemerintah pusat dan daerah untukbergerak lebih cepat dalam pembangunan PSEL. Target pembangunan sedikitnya 25 lokasi PSEL dalam dua hingga tiga tahun ke depan bukan hanya ambisi administratif, melainkan kebutuhan nyata untuk mengatasi kedaruratan sampah di puluhankabupaten dan kota. Selama ini, banyak proyek pengolahan sampah tersendat akibatbirokrasi panjang, lemahnya koordinasi antarlembaga, dan ketidakjelasan pembagiankewenangan. Karena itu, penyederhanaan prosedur serta pembagian peran yang jelas antara pemerintah, Danantara, dan pihak-pihak terkait menjadi fondasi pentingagar proyek strategis ini tidak kembali terjebak pada pola lamban yang merugikanmasyarakat.Selain itu, keterlibatan Danantara Indonesia memberi dimensi baru dalampembiayaan dan tata kelola proyek infrastruktur lingkungan di Indonesia. Selama ini, pengelolaan sampah kerap dipandang sebagai sektor yang minim nilai ekonomisehingga tidak menarik bagi investor besar. Padahal, di berbagai negara maju, pengolahan sampah telah berkembang menjadi industri energi hijau yang bernilaitinggi dan berkelanjutan....
- Advertisement -

Baca berita yang ini