Oleh : Abdul Razak)*
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu langkah strategis pemerintah dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia melalui pemenuhan gizi bagi anak-anak usia sekolah. Program ini tidak hanya diharapkan mampu meningkatkan kesehatan dan konsentrasi belajar peserta didik, tetapi juga menciptakan dampak ekonomi melalui keterlibatan pelaku usaha, petani, hingga sektor distribusi pangan. Namun, seiring implementasinya di berbagai daerah, evaluasi dan pengawasan menjadi aspek penting agar pelaksanaan program berjalan optimal dan aman bagi masyarakat.
Belakangan ini, sejumlah kejadian terkait keluhan kesehatan siswa usai menyantap menu MBG menjadi perhatian publik. Kondisi tersebut mendorong berbagai pihak untuk memperkuat pengawasan, memperbaiki standar operasional, serta memastikan kualitas pangan tetap terjaga di setiap tahapan distribusi.
Asosiasi Pengusaha dan Pengelola Makan Bergizi Gratis Indonesia (APPMBGI) menilai bahwa insiden yang terjadi harus menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap sistem keamanan pangan dan rantai distribusi dalam program MBG. Ketua Umum APPMBGI, Abdul Rivai Ras, menegaskan bahwa perlindungan terhadap kesehatan anak-anak harus menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan program nasional tersebut.
Abdul Rivai Ras mengatakan pihaknya datang memastikan kondisi anak-anak tertangani dengan baik sekaligus mengevaluasi pelayanan MBG agar lebih aman dan berkualitas. Menurutnya, kejadian tersebut harus menjadi pembelajaran penting untuk memperkuat pengawasan keamanan pangan dalam Program MBG.
Rivai menegaskan bahwa penyelenggaraan MBG harus dilakukan dengan kehati-hatian tinggi mengingat program tersebut menyangkut kebutuhan dasar anak-anak Indonesia. Menurutnya, seluruh proses mulai dari pengolahan makanan, distribusi, hingga penyajian harus mengikuti standar yang ketat.
Ia menyampaikan bahwa anak-anak merupakan amanah bangsa sehingga setiap proses penyelenggaraan MBG harus dilaksanakan dengan penuh kehati-hatian, disiplin, dan tanggung jawab tinggi.
Ia juga menjelaskan bahwa terdapat dugaan perubahan kualitas menu saat proses distribusi dan penyajian makanan. Meski demikian, penyebab pasti masih menunggu hasil investigasi laboratorium dari Dinas Kesehatan dan BPOM. APPMBGI pun meminta seluruh pengelola MBG memperketat penerapan standar operasional prosedur (SOP) demi mencegah kejadian serupa terulang.
Sebagai langkah pembenahan, APPMBGI mempercepat sertifikasi dapur MBG dan meningkatkan pelatihan keamanan pangan bagi para penjamah makanan serta pengelola distribusi. Selain itu, pengawasan juga diperkuat melalui Command andControl Centre bersama pemerintah agar pengendalian mutu dapat dilakukan secara lebih cepat dan terukur.
Rivai menegaskan bahwa kejadian tersebut harus menjadi bahan refleksi bersama. Menurutnya, semua pihak tidak boleh berhenti pada rasa prihatin saja, tetapi harus bergerak melakukan pembenahan sistem secara nyata.
Upaya evaluasi tidak hanya dilakukan pada aspek keamanan pangan, tetapi juga terhadap kesiapan infrastruktur pendukung program MBG di daerah. Di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, Satgas Makan Bergizi Gratis melakukan evaluasi terhadap pembangunan 41 titik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dinilai belum menunjukkan progres fisik.
Ketua Satgas MBG Kabupaten Situbondo, Akhmad Yulianto, menyampaikan bahwa kondisi tersebut tidak dapat dibiarkan berlarut-larut karena akan memengaruhi efektivitas pelaksanaan program serta dampak ekonomi yang diharapkan muncul di masyarakat.
Yulianto mengatakan sampai saat ini masih ada 41 titik pembangunan SPPG yang belum jelas progresnya atau bahkan tidak menunjukkan progres sama sekali.
Satgas MBG berencana memanggil seluruh pengelola SPPG terkait untuk meminta penjelasan dan kesanggupan menyelesaikan pembangunan. Jika tidak ada kepastian, pemerintah daerah akan mengusulkan pemutusan kontrak dan mengganti mitra pembangunan agar program MBG dapat segera berjalan sesuai target.
Menurut Yulianto, keberadaan SPPG sangat penting karena masyarakat dan sekolah menantikan implementasi program tersebut bagi para pelajar mulai dari PAUD hingga SMA. Selain manfaat kesehatan, program MBG juga diharapkan memberikan efek ekonomi bagi masyarakat sekitar melalui perputaran usaha pangan dan tenaga kerja lokal.
Sementara itu, Koordinator Badan Gizi Nasional Wilayah Situbondo, M Haikal Rizky, menjelaskan bahwa keterlambatan pembangunan dipengaruhi beberapa faktor, termasuk keterbatasan material dan pendanaan investor.
Haikal menyebut rata-rata pengelola menyampaikan adanya kekurangan bahan material yang harus dibeli dari luar negeri sehingga proses pembangunan cukup terhambat.
Di Surabaya, Pemerintah Kota juga memperketat pengawasan setelah adanya laporan sejumlah siswa mengalami keluhan kesehatan usai mengonsumsi menu MBG. Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi memastikan bahwa program tetap berjalan dengan pengawasan yang lebih ketat dan berbasis prosedur yang jelas.
Eri Cahyadi mengatakan pihaknya telah melakukan pengecekan langsung bersama seluruh sekolah. Sebelum makanan dibagikan, sekolah juga telah melakukan pengecekan awal dan tidak menemukan tanda-tanda makanan basi maupun indikasi lain yang mencurigakan.
Pemerintah Kota Surabaya masih menunggu hasil uji laboratorium untuk mengetahui penyebab pasti insiden tersebut. Penanganan terhadap para siswa juga dilakukan secara cepat dan terkoordinasi agar kondisi tetap terkendali.
Ketua Satgas Pelaksana MBG Kota Surabaya, Lilik Arijanto, menyebut hasil pemantauan awal mengindikasikan adanya persoalan pada penyimpanan bahan makanan, terutama daging beku yang diduga tidak sesuai standar.
Lilik mengatakan pihaknya telah menindaklanjuti persoalan tersebut dan dari pantauan awal terdapat indikasi bahwa penyimpanan frozen daging tidak sesuai standar yang berlaku.
Berbagai evaluasi yang dilakukan di sejumlah daerah menunjukkan bahwa program MBG memerlukan sistem pengawasan yang kuat dan berkelanjutan. Standar keamanan pangan, kesiapan infrastruktur, kualitas distribusi, hingga pengawasan penyimpanan bahan makanan menjadi faktor penting yang menentukan keberhasilan program tersebut.
Melalui evaluasi menyeluruh dan pembenahan sistem yang terus dilakukan, Program Makan Bergizi Gratis diharapkan dapat semakin optimal dalam mendukung tumbuh kembang generasi muda Indonesia. Penguatan pengawasan bukan hanya bentuk tanggung jawab pemerintah dan pengelola program, tetapi juga komitmen bersama untuk memastikan setiap anak Indonesia memperoleh makanan bergizi yang aman, sehat, dan berkualitas.
)* Analis Kebijakan

