IDI: Meninggalnya dr Djoko Judodjoko Harus Sadarkan Masyarakat, Jujur Sama Dokter

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Meninggalnya dokter Djoko Judodjoko akibat terinfeksi virus corona covid19, menurut Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Bogor, Zainal Arifin harus menjadi pelajaran masyarakat agar jujur soal riwayat kontaknya. Jangan mempersulit tenaga medis.

“Kontak dengan pasien dan pernah keluar negeri dan sebagainya. Ini merupakan kewaspadaan bersama,” ujar Zainal di Bogor, Minggu 22 Maret 2020.

Dokter Djoko memang sangat dikenal di kalangan dokter, terutama dokter bedah karena pengalaman dan keseniorannya.

Dia lulus Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tahun 1976 dan sepanjang karirnya banyak mengikuti pendidikan soal bedah di dalam dan luar negeri.

Setelah terinfeksi covid19, dokter Djoko dirawat di BMC (Bogor Medical Center) selama beberapa hari.

Setelah itu, Sabtu 21 Maret 2020 pukul 08.00 WIB dirujuk ke RSPAD hingga meninggal pada pukul 11.00 WIB.

Sebuah postingan dari Pandu Riono melalui akun twitter @drpriono seniornya itu diduga terinfeksi covid19 karena kurangnya alat pelindung diri (APD) untuk dokter.

“Selamat jalan mas Koko, maafkan saya belum berhasil mendorong agar pemerintah @jokowi serius mengatasi pandemi covid19. mas terinfeksi karena aktif beri layanan. Banyak petugas kesehatan yang terinfeksi & pergi, minimnya APD sulit dimaafkan. Tidak cukup bicara, kita semua berbuat.”

2 KOMENTAR

  1. Mestinya IDI yg bertindak jgn salahin pemerintah…..selama ini kemana saja IDI……isi nya orang zaman dulu yangg nggak mau berubah…..banyak orang indonesia tidak percaya dokter indonesia makanya banyak yang berobat keluar negri…… itu karena dokter indonesia tidak bisa dipercaya karena cuma mengejar materi ….. buat apa ada IDI….lembaga nggak guna yang nggak bisa bekerja profesional dan tidak bisa di percaya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Aksi OPM Merusak Pendidikan dan Menghambat Kemajuan Papua

Oleh: Petrus Pekei* Papua adalah tanah harapan, tempat masa depan generasi muda bertumbuh melalui pendidikan, kerja keras, dan persaudaraan. Setiap upaya yang mengganggu ketenangan dan merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat Papua sejatinya berseberangan dengan cita-citabesar tersebut. Karena itu, penguatan narasi damai dan dukungan terhadap kehadiran negara menjadi energi utama untuk memastikan Papua terus melangkah maju. Di tengah dinamikakeamanan, bangsa ini menunjukkan keteguhan sikap bahwa keselamatan warga sipil, keberlanjutan pendidikan, dan pembangunan berkeadilan adalah prioritas yang tidak dapatditawar. Peristiwa kekerasan yang menimpa pekerja pembangunan fasilitas pendidikan di Yahukimomenggugah solidaritas nasional. Respons publik yang luas memperlihatkan kesadarankolektif bahwa pendidikan adalah fondasi masa depan Papua. Sekolah bukan sekadarbangunan, melainkan simbol harapan, jembatan menuju kesejahteraan, dan ruang aman bagianak-anak Papua untuk bermimpi. Ketika ruang ini dilindungi bersama, optimisme tumbuhdan kepercayaan terhadap masa depan kian menguat. Dukungan masyarakat terhadap langkahtegas aparat keamanan merupakan bentuk kepercayaan pada negara untuk memastikan rasa aman hadir nyata hingga ke pelosok. Narasi persatuan semakin kokoh ketika tokoh-tokoh masyarakat Papua menyampaikanpandangan yang menyejukkan. Sekretaris Jenderal DPP Barisan Merah Putih Republik Indonesia, Ali Kabiay, menegaskan pentingnya perlindungan warga sipil dan keberlanjutanpembangunan, khususnya pendidikan. Pandangannya menekankan bahwa stabilitas adalahprasyarat utama bagi kesejahteraan, dan negara perlu bertindak tegas serta terukur agar ketenangan sosial terjaga. Ajakan kepada masyarakat untuk tetap waspada, memperkuatkomunikasi dengan aparat, dan menolak provokasi menjadi penopang kuat bagi ketertibanbersama. Sikap serupa juga disuarakan oleh...
- Advertisement -

Baca berita yang ini