Fahri Hamzah Sebut Pembom Gereja Makassar Tidak Beragama

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Politisi Partai Gelora, Fahri Hamzah, meminta aparat dan semua kalangan tidak lagi menyebut pelaku pemboman menggunakan bahasa Arab seperti jamaah dan anshar. Cukup sebut mereka teroris yang mati konyol.

Fahri yang terkenal vokal itu sangat geram dengan peristiwa pemboman Gereja Kathedral Makassar apalagi aparat menyebut pelaku adalah bagian dari Jamaah Islamiyah atau tepatnya Neo Jamaah Islamiyah.

“Bunuh diri! Biarlah ia mati konyol! Tapi kita, se-bangsa dan se-negara, tak boleh goyah… tak boleh saling meragu sesama… karena lautan cinta takkan sirna oleh setitik benci,” ujar Fahri yang dikutip Senin 29 Maret 2021.

Dia juga berharap jemaat Kathedral Makasar diberi kesabaran dan yang terluka bisa diselamatkan.

Fahri yang kini menjadi petinggi Partai Gelora itu menegaskan pelaku bom bunuh diri dan kelompoknya itu tidak pantas disebut atau dipanggil dengan terminologi yang sering digunakan dalam Agama Islam seperti jemaah atau anshar.

Alasannya, mereka tidak beragama sehingga melakukan tindakan keji seperti di Makassar, Minggu 28 Maret 2021.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Aksi OPM Merusak Pendidikan dan Menghambat Kemajuan Papua

Oleh: Petrus Pekei* Papua adalah tanah harapan, tempat masa depan generasi muda bertumbuh melalui pendidikan, kerja keras, dan persaudaraan. Setiap upaya yang mengganggu ketenangan dan merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat Papua sejatinya berseberangan dengan cita-citabesar tersebut. Karena itu, penguatan narasi damai dan dukungan terhadap kehadiran negara menjadi energi utama untuk memastikan Papua terus melangkah maju. Di tengah dinamikakeamanan, bangsa ini menunjukkan keteguhan sikap bahwa keselamatan warga sipil, keberlanjutan pendidikan, dan pembangunan berkeadilan adalah prioritas yang tidak dapatditawar. Peristiwa kekerasan yang menimpa pekerja pembangunan fasilitas pendidikan di Yahukimomenggugah solidaritas nasional. Respons publik yang luas memperlihatkan kesadarankolektif bahwa pendidikan adalah fondasi masa depan Papua. Sekolah bukan sekadarbangunan, melainkan simbol harapan, jembatan menuju kesejahteraan, dan ruang aman bagianak-anak Papua untuk bermimpi. Ketika ruang ini dilindungi bersama, optimisme tumbuhdan kepercayaan terhadap masa depan kian menguat. Dukungan masyarakat terhadap langkahtegas aparat keamanan merupakan bentuk kepercayaan pada negara untuk memastikan rasa aman hadir nyata hingga ke pelosok. Narasi persatuan semakin kokoh ketika tokoh-tokoh masyarakat Papua menyampaikanpandangan yang menyejukkan. Sekretaris Jenderal DPP Barisan Merah Putih Republik Indonesia, Ali Kabiay, menegaskan pentingnya perlindungan warga sipil dan keberlanjutanpembangunan, khususnya pendidikan. Pandangannya menekankan bahwa stabilitas adalahprasyarat utama bagi kesejahteraan, dan negara perlu bertindak tegas serta terukur agar ketenangan sosial terjaga. Ajakan kepada masyarakat untuk tetap waspada, memperkuatkomunikasi dengan aparat, dan menolak provokasi menjadi penopang kuat bagi ketertibanbersama. Sikap serupa juga disuarakan oleh...
- Advertisement -

Baca berita yang ini