Sebelum Jadi Penyanyi Jazz Kelas Dunia, Michael Bublé Pernah Mau Jadi Jurnalis

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA Michael Steven Bublé adalah penyanyi Jazz asal Kanada. Karier nya kini melambung tinggi di taraf internasional dengan 50 juta kopi lagunya di seluruh dunia. Namun siapa sangka, Michael pernah ingin menjadi jurnalis.

Ia lahir pada 9 September 1975 di Burnaby, British Columbia. Selain Kanada, dia juga memiliki darah Italia dari sang kakek bernama Demetrio Santaga.

Kesukaannya pada jazz dimulai sejak usia 5 tahun dari kakek nenek nya itu. Kelas menyanyi pertamanya dibayar sang kakek.

Ia bahkan sempat bertanya pada dirinya sendiri, mengapa bisa menyukai jazz? Tetapi kekagumannya dengan penyanyi dan penulis lagu dari “The Great American Songbook” membawanya lebih dalam pada jazz.

Bakat menyanyinya sudah diketahui keluarga ia saat berumur 13 tahun dengan menyanyikan lagu natal.

Perjalanan Karier dan Penghargaan
Sebelum menyanyi, ia ingin ke Vancouver untuk mengejar karier sebagai jurnalis, namun di kota besar Kanada itu dia justru mendapat kesempatan menandatangani kontrak dengan label besar. Itu karena dia bernyanyi di pernikahan seorang teman dan diperkenalkan kepada produser pemenang Grammy David Foster.

Setelah menandatangani kontrak, ia mulai merekam album self-titled-nya “Michael Buble” pada 2001 dan merilisnya pada Februari 2003.

Album itu pun mencapai 50 Besar Billboard Hot 200 dan menguasai tangga lagu Australia dan Selandia Baru. Setelah itu ia juga memenangkan Best New Talent di Juno Awards 2004 dan dinominasikan untuk Album of the Year di acara yang sama.

Pada Juno Awards 2006, Michael mendapatkan empat penghargaan yaitu Album Pop Tahun Ini, Single Tahun Ini, Album Tahun Ini dan Artis Tahun Ini, ia bahkan dinominasikan menjadi Album Vokal Pop Tradisional Terbaik di Grammy tetapi sayangnya ia kalah dari Tony Bennett.

Berikutnya di tahun 2007, ia mengeluarkan album studio ketiga dengan judul “Call Me Irresponsible.” Album itu menjadi debut di tempat keduanya di Amerika Serikat dan naik ke posisi teratas pada penjualan minggu kedua hingga berhasil terjual lebih dari 1,8 juta kopi. Lalu 9 Oktober 2009, ia merilis album berjudul Crazy Love di Amerika Serikat.

Selain memiliki empat album studio, Michael juga merilis tiga album live. Pertama “Come Fly With Me” di tahun 2004 bersertifikat platinum di AS dan emas di Australia serta yang kedua berjudul “Caught in the Act”.

Crazy Love menjadi album dengan penjualan tercepat selama 3 hari setelah debut di puncak Billboard 200. Single pertamanya Haven’t Met You Yet, menduduki puncak tangga lagu Kontemporer Dewasa Kanada Billboard.

Berkat kesuksesan album dan single pertamanya itu, Buble memenangkan empat penghargaan di Juno Awards 2010, yaitu Single of the Year dan Album of the Year. Album ini juga memenangkan Album Vokal Pop Tradisional Terbaik di Grammy Awards ke-53.

Selain menyanyi, Buble pernah menjadi mentor selebriti di musim keenam The X Factor versi Inggris dan di My Musical Brain.

Bulan Maret tahun 2011, ia menikah dengan Lopilato. Setelahnya, Buble merilis album studio kelima Christmas di bulan Oktober. Album nya langsung debut nomor 3 di Billboard 200 sebelum naik ke posisi teratas di minggu kelima. Kemudian menduduki puncak tangga lagu selama empat minggu.

Pada 15 April 2013, ia merilis album To Be Loved. Album ini berada di no 1 Billboard 200. Di akhir tahun, ia merilis lagu Natal berjudul The More You Give (The More You’ll Have).

Setelah menyambut anak keduanya pada Januari 2016, Buble mengeluarkan album berikutnya Nobody but Me pada 21 Oktober. Untuk mendukung album tersebut, Buble pun memulai tur Amerika Utara, tetapi konser itu dibatalkan. Dikarenakan putra pertamanya menderita kanker hati hepatoblastoma dan dinyatakan bebas kanker pada April 2017.

Selanjutnya, pada 16 November 2018 ia merilis album studio kesepuluh yaitu Love.
Berikut penghargaan lainnya yang ia dapatkan selama berkarier:

  • 2010 | American Music Awards, sebagai Favorite Adult Contemporary Artist
  • 2005 | World Music Awards, sebagai World’s Best Selling Artist/Canada
  • 2005 | IFPI Hong Kong Top Sales Music Awards, sebagai Top 10 Best Selling Foreign Albums “It’s Time”
  • 2006 | ECHO, sebagai Jazz Production of The Year “It’s Time”
  • 2006 | Muchmoremusic Awards “Save The Last Dance For Me”
  • 2007 | National Jazz Awards, sebagai Male Vocalist Of The Year
  • 2007 | Muchmoremusic Awards “Everything”
  • 2008 | Canadian Smooth Jazz Awards, sebagai Best Male Vocalist
  • 2008 | Canadian Smooth Jazz Awards, sebagai Best Original Composition “Everything”
  • 2010 | Meteor Awards, sebagai International Male Solo Artist

Bublé terus mengungkapkan rasa terima kasih kepada sang kakeknya setiap hari karena ini semua yang dia peroleh hari ini adalah karena kakeknya tercinta. (Annisaa Rahmah)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Teknologi dan Infrastruktur Air Menjadi Andalan Menghadapi Tantangan Kemarau

Oleh: Rendra Fathian )*Pemerintah terus memperkuat berbagai langkah antisipatif dalammenghadapi musim kemarau 2026 yang diperkirakan berlangsung lebihkering dibandingkan kondisi normal. Tantangan perubahan iklim dan potensi fenomena El Nino mendorong pemerintah untuk mengedepankanpemanfaatan teknologi serta penguatan infrastruktur air sebagaiinstrumen utama dalam menjaga ketahanan masyarakat, keberlanjutansektor pertanian, dan stabilitas pembangunan nasional.Upaya pemerintah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanyaberfokus pada penanganan dampak setelah bencana terjadi, tetapi juga menempatkan mitigasi sebagai bagian penting dari strategi pembangunan. Pendekatan yang berbasis data, teknologi, dan koordinasilintas sektor menjadi fondasi untuk memastikan masyarakat dapatmenghadapi musim kemarau dengan kesiapan yang lebih baik.Peringatan mengenai potensi kemarau yang lebih kering telahdisampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa Indonesia berpotensi mengalami fenomena El Nino pada tahun 2026. Prediksitersebut telah disampaikan sejak Maret 2026 dan kemudian diperkuatoleh informasi yang dirilis Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada awal Juni 2026.Menurut Faisal, El Nino dan musim kemarau merupakan dua fenomenayang berbeda, namun keduanya dapat memengaruhi kondisi curah hujandi berbagai wilayah Indonesia. Hasil pemantauan BMKG hingga akhir Mei menunjukkan indeks ENSO telah mencapai angka yang mengindikasikankondisi El Nino, sementara sebagian wilayah Indonesia telah memasukimusim kemarau.Pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan risiko iklim menjadi salah satukekuatan yang dimiliki Indonesia saat ini. Dukungan data dari BMKG, pemantauan satelit, serta sistem peringatan dini memungkinkanpemerintah daerah dan berbagai instansi terkait mengambil keputusanberdasarkan kondisi aktual di lapangan. Pendekatan ini jauh lebih efektifdibandingkan mengandalkan respons setelah dampak kekeringan mulaidirasakan masyarakat.Di Jawa Barat, misalnya,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini