Sandang Juara The Voice Germany, Ini Perjalanan Karier Claudia Emmanuela Santoso

Baca Juga

MINEWS, JAKARTA-Kabar bahagia sekaligus membanggakan datang dari salah satu anak bangsa Claudia Emmanuela Santoso. Dirinya berhasil menjuarai ajang pencarian bakat The Voice Germany 2019.

Gadis asal Cirebon tersebut membawakan lagu “I Have Nothing” milik Whitney Houston di grandfinal. Penampilannya yang menakjubkan membuatnya berhasil mengalahkan keempat pesaingnya dengan perolehan voting fantastis, yakni 46,39 persen.

Namun, seperti apa perjuangan dirinya, hingga  bisa mencapai puncak kesuksesan seperti sekarang ini, berikut kisahnya.

  1. Sekolah menyanyi sejak kecil

Gadis yang akrab disapa Audi ini sudah suka bernyanyi sejak kecil. Ia bahkan tidak bisa tidur sebelum bernyanyi. Kemudian, orangtuanya menyekolahkan musik sejak usianya 4 tahun hingga Audi SMA. Jadi, Audi kursus menyanyi selama 11 tahun.

  1. Sering ikut kompetisi menyanyi mewakili sekolah

Claudia sekolah di TK, SD, SMP, sampai SMA di BPK Penabur Kota Cirebon. Selama sekolah ia sering mengikuti kompetisi baik yang diadakan oleh pemerintah maupun sekolah-sekolah. Tak jarang ia juga menjadi juara kompetisi tersebut.

  1. Pernah ikut Idola Cilik

Claudia bahkan tercatat pernah mengikuti ajang pencarian bakat di tanah air, yakni Idola Cilik yang disiarkan salah satu televisi swasta. Sayangnya, ia hanya berhasil lolos sampai ke 20 besar. Selain itu, ia juga pernah mengikuti ajang Mamamia.

  1. Datang ke Jerman untuk melanjutkan pendidikan

Sebenarnya, tujuan gadis kelahiran 27 Oktober 2000 ini datang ke Jerman untuk melanjutkan studinya setelah lulus SMA di Universitas Munchen. Namun, ia gagal dites pertama masuk ke perguruan tinggi yang ia minati itu.

Kemudian, ia harus menunggu musim winter untuk mengikuti tes kedua kalinya. Ditengah waktu menunggunya itulah ia kemudian melihat poster audisi The Voice dan ia tertarik untuk mencobanya.

  1. Berhasil pukau juri sejak audisi

Suara indah yang dimiliki Claudia memang telah memukau juri sejak awal. Membawakan lagu dari film The Greatest Snowman yang berjudul “Never Enough” langsung membuat keempat juri memutar kursinya dibabak blind audition.

Akhirnya, ia menjadi rebutan keempat juri tersebut dan Claudia memilih Alice Merton menjadi mentornya. Bahkan Alice sampai naik ke atas panggung dan memeluk Claudia dengan mata berkaca-kaca.

  1. Menjadi juara The Voice

Dibabak final Claudia membuktikan penampilan berkelasnya dengan membawakan 3 lagu, yakni “I Have Nothing”, “Castle” dan “Goodbye”. Claudia juga sempat berduet dengan Freya Ridings dan mentornya Alice Merton.

Karena penampilan apiknya, ia berhasil mendapatkan voting teratas 46,36 persen dengan jarak yang sangat jauh dari keempat pesaingnya. Posisi kedua ditempati oleh Erwin Kintop dengan 17,36 persen, posisi ketiga Lucas Reiger dengan 14,33 persen, disusul Fidi Steinback 12,51 persen dan terakhir Freschta Akbarzada 9,41 persen. (Hutri Dirga)

Berita Terbaru

Menutup Kesenjangan Layanan Kesehatan melalui Koperasi Desa

Oleh: Yandi Arya Adinegara )*Kesenjangan layanan kesehatan antara wilayah perkotaan dan pedesaan masihmenjadi pekerjaan rumah besar dalam pembangunan nasional. Di satu sisi, kota-kota besar menikmati akses rumah sakit modern, tenaga medis memadai, sertadistribusi obat yang relatif lancar. Di sisi lain, banyak desa masih menghadapiketerbatasan fasilitas kesehatan, minimnya ketersediaan obat, hingga rendahnyaketerjangkauan layanan bagi masyarakat.Dalam konteks inilah, langkah pemerintah menghadirkan Koperasi Desa/Kelurahan(Kopdes) Merah Putih sebagai simpul layanan kesehatan sekaligus pusat ekonomidesa patut diapresiasi sebagai terobosan strategis dan relevan dengan kebutuhanzaman.Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, menegaskan bahwa Kopdes Merah Putih tidakhanya dirancang sebagai penggerak ekonomi lokal, tetapi juga menjadi ujungtombak pelayanan kesehatan masyarakat desa. Setiap koperasi akan dilengkapidengan gerai obat dan klinik kesehatan, sebuah inovasi yang secara langsungmenyasar persoalan klasik: keterbatasan akses layanan kesehatan di wilayah pedesaan. Pernyataan ini bukan sekadar wacana, melainkan bagian dari desainkebijakan yang terintegrasi lintas sektor.Selama ini, salah satu persoalan mendasar adalah masih adanya warga desa yang belum terjangkau oleh program jaminan kesehatan nasional. Kehadiran klinik desaberbasis koperasi membuka peluang bagi masyarakat untuk mendapatkan layanankesehatan yang lebih dekat, murah, dan mudah diakses. Ferry Juliantonomenekankan bahwa pemerintah ingin memastikan masyarakat desa memperolehjaminan pelayanan kesehatan yang layak, melalui sinergi antara Kementerian Koperasi, Kementerian Kesehatan, dan BPJS Kesehatan.Langkah kolaboratif ini diperkuat dengan penandatanganan nota kesepahamanantara Sekretaris Kementerian Koperasi Ahmad Zabadi dan Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito. Kerja sama tersebut tidak hanya bertujuanmemperluas cakupan kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional...
- Advertisement -

Baca berita yang ini