Janji Pada Filipina Saat Diduduki Jepang, Jenderal MacArthur: I Shall Return

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Douglas MacArthur merupakan salah satu jenderal Amerika Serikat (AS) yang paling terkenal di dunia. Ia terkenal lewat janji fenomalnya “I shall return” atau “Saya akan kembali’ ketika meninggalkan Filipina pada bulan Maret 1942.

Pria yang dianugerahi “Medal of Honor” oleh Presiden Theodore Roosevelt itu lahir di Little Rock, Arkansas pada tanggal 26 Januari 1180. Ia merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara pasangan Arthur MacArthur dan Mary “Pinky” Hardy.

Arthur merupakan seorang perwira militer, sedangkan Pinky merupakan seorang pedagang kapas dari Norfolk, Inggris.

MacArthur mengenyam pendidikan lebih lanjut di Akademi Militer AS yang terletak di West Point pada tahun 1899. Di sana, ia mengelola tim sepak bola dan turut menjadi pemain dalam tim bisbol West Point.

Di West Point, ia merupakan salah satu murid yang unggul. Ketika lulus pada tahun 1903, ia menjadi juara satu di kelasnya serta memiliki cacatan terbaik akademis dalam sejarah West Point.

Setelah lulus, MacArthur ditugaskan menjadi letnan dua di Korps Insinyur Angkatan Darat AS. Pada tahun 1900, ia ditempatkan di Filipina dalam tugas pertamanya.

Pada tahun 1905, MacArthur menemani ayahnya, yang saat itu menjabat sebagai Mayor Jenderal, dalam sebuah tur resmi Asia. Selama acara tersebut, ia mengunjungi pangkalan militer Jepang, Tiongkok, Malaysia, Indonesia, Myanmar, Thailand, Vietnam, India, Pakistan, Afghanistan, dan Sri Lanka.

Setelah kembali, ia tunjuk sebagai asisten Presiden Theodore Roosevelt di Gedung Putih. Lalu pada tahun 1914, ia dikirim ke Vera Cruz, Meksiko dengan sebuah misi khusus. Di sana, ia berkelana ke wilayah musuh untuk mencari jenis kendaraan apa yang bisa digunakan AS untuk mengangkut pasukan dan persediaannya selama di Meksiko.

Saat melakukan misinya itu, MacArthur dan temannya pernah diserang bandit beberapa kali. Hanya berbekal revolver kaliber 38, ia berhasil membunuh tujuh orang penyerang dan melarikan diri dengan empat lubang peluru di pakaiannya.

Ketika Perang Dunia I dimulai, MacArthur bergabung dalam  Divisi 42. Divisi itu beranggotakan pria dari 26 negara bagian yang berbeda. Karena ini lah, MacArthur menggambarkan Divisi 42 sebagai Rainbow Division (Divisi Pelangi) karena membentang dari satu ke daerah lainnya seperti Pelangi.

MacArthur dipromosikan menjadi Kolonel dan diangkat menjadi Kepala dari Staf Divisi 42. Pada November 1917, divisi pimpinannya itu tiba di Prancis. Mereka turur mengambil bagian dalam beberapa pertempuran sengit pasukan AS selama Perang Dunia I.

Masa itu, MacArthur diperlakukan dengan sangat istimewa. Ia memperoleh sebuah medali terhormat dan tujuh bintang perak. Pada tahun 1932, ia diberikan dua Purple Hearts, sebuah penghargaan militer oleg Presiden, untuk cedera yang ia derita ketika berperang. Di akhir perang, ia menjabat sebagai Brigadir Jenderal.

Setelah selesai perang, MacArthur kembali ke AS. Kemudian, ia ditunjuk sebagai Pengawas Akademi Militer di West Point. Saat itu pula ia dianggap sebagai Bapak Modern West Point.

Selama menjabat sebagai pengawas, ia memperbaharui kurikulum yang ada dan membuat kegiatan atletik menjadi inti dari program pembelajaran. Pada awalnya, inovasi ini ditentang oleh beberapa pihak. Namun, seiring waktu inovasi tersebut dapat diterima.

Pada 1922, MacArthur menikah dengan seorang sosialita bernama Louise Cromwell Brook. Namun, usia pernikahan mereka tidak berlangsung lama karena Louise tidak menyukai kehidupan tentara.

Selama tahun 1920-an, MacArthur menjalani dua tugas di Filipina. Ia juga memimpin Delegasi AS saat Olimpiade 1928 di Amsterdam, Belanda. Pada tahun 1930, ia diangkat menjadi Kepala Staf Tentara AS oleh Presiden Herbert Hoover.

Ketika menjabat, MacArthur terlibat dalam sebuah aksi demonstrasi kontroversial, Bonus March. Meski begitu, Presiden Franklin Roosevelt memperpanjang jabatan MacArthur sebagai Kepala Staf Tentara AS.

Roosevelt meminta MacArthur untuk mengatur Korps Konservasi Sipil, sebuah program baru yang menempatkan puluhan ribu pria muda kembali bekerja. Pada tahun 1933, MacArthur mengundurkan dari jabatannya itu. Ia memutuskan untuk kembali lagi ke Filipina.

Di sana, ia diberi nama Field Marsekal dan mengemban tanggung jawab dalam mempersiapkan senjata untuk pasukan Filipina dalam memerdekakan negerinya serta melakukan perlawanan jika Jepang malakukan agresi.

Pada 1937, MacArthur kembali menikah dengan sosialita asal Tennessee bernama Jean Marie Faircloth. Ia bertemu dengan wanita pilihannya itu dalam perjalanan ke Manila pada tahun 1935.

Setahun kemudia, pasangan itu dianugerahi seorang putra bernama Arthur MacArthur IV. Nama ini ia pilih untuk menghormati ayahnya.

Ketika Perang Dunia II meletus, keluarga kecil itu tinggal di Filipina. Ketika Jepang menyerang Pearl Harbour pada 7 Desember 1941, mereka pun menyerang Filipina. Sebagai seorang komandan, MacArthur diperintahkan untuk mengatur strategi pertahanan Filipina dan mempertahankan diri dari invasi Jepang.

Upaya MacArthur berhasil menghentikan Jepang. Namun, tidak mampu mencegah invasi. Akhirnya, ia dan pasukannya mundur ke Semenanjung Bataan dan Pulau Corregidor.

Perang Dunia II terjadi di Eropa dan Pasifik. Ketika perang dunia dimulai, Presiden Roosebelt memutuskan strategi “Eropa Pertama” yang berarti sebagian besar perang akan ditujukan untuk mengalahkan Nazi Jerman terlebih dahulu.

Ketika hal itu tercapai, AS baru akan menggeser fokusnya untuk mengalahkan Jepang. Meski pernyataan itu dibuat untuk menyelamatkan pasukan di Filipina, tidak ada keputusan yang diambil oleh pemerintah AS dalam membantu MacArthur dan pasukannya.

Pada awal 1942,  situasi di Filipina sudah mulai tak terkendali. Oleh karena itu, Presiden Roosevelt memerintahkan MacArthur untuk melarikan diri dari Filipina dan pergi ke Australia. Setibanya di Australia, ia berjanji akan kembali dan membebaskan Filipina.

Karena keterlibatannya dengan usaha kemerdekaan Filipina, ia dianugerahi penghargaan Medal of Honor, sebuah kehormatan militer tertinggi di Amerika Serikat.

Butuh waktu lebih dari dua tahun bagi MacArthur untuk menepati janjinya dalam membebaskan Filipina. Dengan keahliannya, ia mampu memimpin pasukan Filipina dalam merebut kembali pulau-pulau yang diduduki Jepang.

Strategi yang digunakan oleh MacArthur ialah “Island Hoppung”. Dimana, mereka akan melewati daerah yang kuat diduduki Jepang dan akan menyerang daerah yang lebih lemah.

Pada awal 1945, kekalahan Jepang mulai terlihat. Untuk menghindari perang yang berkelanjutan, Deklarasi Postdam dikirim ke Jepang pada bulan Juli 1945. Deklarasi ini meminta Jepang untuk menyerah. Jika tidak, mereka akan menghadapi kehancuran total.

Sayangnya, Jepang memilih menolak permintaan itu. Akhirnya, Presiden Truman memutuskan untuk menjatuhkan bom atom di Jepang dan mengakhiri perang. Dengan demikian, korban akibat perang mampu diminimalisir.

Bom pertama yang dijatuhkan di Hiroshima pada 6 Agustus 1945, Jepang tetap tidak menyerah. Akibatnya, bom kedua dijatuhkan di Nagasaki pada 9 Agustus 1945. Barulah Jepang secara resmi menyerah pada 2 September 1945.

Setelah menyerah, MacArthur mengambil alih Administrasi Pekerjaan di Jepang. Selama itu, ia dan keluarganya tinggal di Tokyo. Di sana, ia pun mengawasi pembangunan dan demokratisasi di Jepang.

MacArthur menolak tekanan Amerika untuk melucuti Kaisar Hirohito dari tahtanya. Ia pun berperan dalam menyusun kembali konstitusi Jepang yang melarang Jepang serta memberi hak pilih.

Rakyat Jepang pun dihadapkan dengan permasalahan kelaparan. Untuk mengatasinya, MacArthur memesan berbagai persediaan dari berbagai daerah. Atas jasanya, ia menjadi sosok yang terkemuka di Jepang.

Pada tahun 1950, komunis Korea Utara menginvasi Korea Selatan. MacArthur ditugaskan untuk memimpin pasukan multinasional PBB dan diperintahkan untuk mendorong tentara-tentara Korea Utara untuk keluar dari Korea Selatan.

MacArthur pun berhasil menyelesaikan tugasnya. Ketika berada di ambang penyatuan Korea Utara dan Korea Selatan, ratusan ribu Pasukan Komunis Tiongkok mulai berdatangan ke Korea Utara.

Oleh mereka, pasukan MacArthur dipaksa untuk mundur. Sebetulnya MacArthur ingin menyerang balik Tiongkok, namun Presiden Truman khawatir jika konflik akan kembali memanas dan akan terjadi Perang Dunia III. Truman kemudian memecat McArthur dari posisinya dan menyuruh pulang ke Amerika.

Jenderal koboy ini pun kembali ke Amerika Serikat. Tak disangka,  MacArthur mendapat sambutan yang meriah karena dianggap sebagai pahlawan. Pada 19 April 1951, ia menyampaikan pidato terkenalnya “Old Soldiers Never Die”.

Pidatonya itu sendiri hanya berlangsung selama 36 menit, tapi terputus setidaknya 50 kali dengan tepuk tangan meriah dari para hadirin. Dalam waktu singkat, popularitas MacArthur melonjak tajam. Bahkan, ia dianggap sebagai calon presiden pada 1952.

Menjelang akhir hayatnya, MacArthur menulis otobiografinya “Reminiscences” dan berhasil mendapatkan Penghargaan Thayer yang bergengsi dari West Point. Ketika menerima penghargaan tersebut, ia menyampaikan pidato terkenalnya “Duty, Honor, Country”.

Pada 5 April 1964, MacArthur meninggal di Rumah Sakit Angkatan Darat Walter Reed di Washington, D.C. Saat itu, ia berusia 84 tahun dan meninggalkan istrinya serta putranya.

Reporter: Diani Ratna Utami

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Konsistensi Negara Mengawal Keadilan dan Percepatan Pembangunan Papua melalui Otonomi Khusus

Oleh: Manta Wabimbo *) Papua bukan sekadar wilayah administratif di ujung timur Indonesia, melainkan ruangstrategis tempat negara menguji komitmennya terhadap keadilan pembangunan. SejakOtonomi Khusus Papua diberlakukan pada 2001 dan diperkuat melalui Undang-UndangNomor 2 Tahun 2021, arah kebijakan pemerintah semakin tegas: menghadirkan pendekatanpembangunan yang afirmatif, terukur, dan berpihak pada Orang Asli Papua. Dalam kontekstersebut, Otsus tidak lagi dapat dipahami sebagai kebijakan sementara, melainkan sebagaiinstrumen jangka panjang untuk mengoreksi ketimpangan struktural yang diwariskan olehsejarah dan kondisi geografis. Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menunjukkan kesinambungan dan penguatanterhadap agenda Otsus. Hal ini tercermin dari intensifikasi koordinasi antara pemerintah pusatdan kepala daerah seluruh Papua yang dilakukan secara langsung di Istana Negara. Langkahtersebut menandakan bahwa Papua tidak diposisikan sebagai wilayah pinggiran, melainkansebagai prioritas nasional yang membutuhkan orkestrasi kebijakan lintas sektor. Pemerintahpusat tidak hanya menyalurkan anggaran, tetapi juga memastikan bahwa desainpembangunan Papua selaras antara pusat dan daerah. Salah satu capaian yang paling nyata dari implementasi Otsus adalah percepatanpembangunan infrastruktur dasar. Jalan penghubung, bandara perintis, dan fasilitas logistiktelah membuka isolasi wilayah yang selama puluhan tahun menjadi penghambat utamapembangunan. Infrastruktur ini tidak semata menghadirkan konektivitas fisik, tetapimenciptakan fondasi ekonomi baru yang memungkinkan distribusi barang lebih efisien danmenurunkan beban biaya hidup masyarakat. Dalam konteks ini, pembangunan infrastrukturmenjadi wujud kehadiran negara yang konkret dan dirasakan langsung oleh rakyat. Dampak lanjutan dari keterbukaan akses tersebut terlihat pada penguatan ekonomi lokal. Pemerintah mendorong agar aktivitas produksi masyarakat Papua, baik di sektor pertanian, perikanan, maupun usaha mikro, dapat terhubung dengan pasar yang lebih luas. Otsusmemberi ruang fiskal bagi daerah untuk merancang kebijakan ekonomi yang sesuai dengankarakter lokal, sekaligus menjaga agar manfaat pembangunan tidak terkonsentrasi padakelompok tertentu. Pendekatan ini menegaskan bahwa agenda pemerintah di Papua berorientasi pada pemerataan, bukan sekadar pertumbuhan angka statistik. Pada saat yang sama, Otsus Jilid II menempatkan pembangunan sumber daya manusiasebagai prioritas strategis. Program afirmasi pendidikan, termasuk beasiswa bagi siswa danmahasiswa asli Papua, menjadi investasi jangka panjang yang menentukan arah masa depanPapua. Otsus telah membuka ruang mobilitas sosial yang sebelumnya sulit dijangkau, sekaligus membangun rasa percaya diri generasi muda Papua untuk berkompetisi secaraglobal. Pandangan tersebut memperkuat keyakinan bahwa pendidikan adalah kunci utamakemandirian Papua di masa depan. Di sektor kesehatan, kebijakan Otsus juga menunjukkan wajah negara yang protektif. Pemerintah memastikan bahwa akses layanan kesehatan bagi Orang Asli Papua tidak lagiterhambat oleh keterbatasan biaya dan fasilitas. Penguatan rumah sakit daerah, distribusitenaga kesehatan, serta jaminan kesehatan khusus bagi OAP mencerminkan pendekatanpembangunan yang berorientasi pada hak dasar warga negara. Dalam kerangka yang sama, pemberdayaan ekonomi perempuan Papua melalui dukungan usaha mikro menjadi strategipenting untuk memperkuat ketahanan keluarga dan ekonomi lokal. Keunikan Otsus juga tercermin dalam pengakuan terhadap struktur sosial dan politikmasyarakat Papua. Keberadaan Majelis Rakyat Papua serta mekanisme afirmasi politik bagiOrang Asli Papua merupakan bentuk penghormatan negara terhadap identitas dan hakkolektif masyarakat adat. Tokoh agama Papua, Pdt. Alberth Yoku, menekankan bahwa Otsusmemberikan ruang bagi orang Papua untuk menjadi subjek pembangunan di tanahnya sendiri, selama dijalankan dengan semangat kolaborasi dan kejujuran. Perspektif ini menegaskanbahwa Otsus bukan ancaman bagi integrasi nasional, melainkan penguat persatuan berbasiskeadilan. Pemerintah juga menunjukkan keseriusan dalam memperbaiki tata kelola Otsus. Pembentukan Badan Pengarah Percepatan Otonomi Khusus Papua yang dipimpin langsungoleh Wakil Presiden merupakan sinyal kuat bahwa pengawasan dan efektivitas menjadiperhatian utama. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian secara konsisten menekankanpentingnya sinkronisasi program antara kementerian dan pemerintah daerah agar dana Otsusbenar-benar menghasilkan dampak nyata. Langkah ini menjawab kritik lama tentangfragmentasi kebijakan dan memperlihatkan kemauan politik pemerintah untuk melakukankoreksi. Ke depan, tantangan implementasi tentu masih ada. Namun dengan peningkatan alokasianggaran Otsus menjadi 2,25 persen dari Dana Alokasi Umum nasional serta pengawasanyang semakin ketat, fondasi pembangunan Papua kian kokoh. Yang dibutuhkan kini adalahkonsistensi pelaksanaan dan kepemimpinan daerah yang berorientasi pada pelayanan publik. Papua hari ini adalah Papua yang sedang bergerak maju. Mendukung Otsus berartimendukung agenda besar negara dalam menyempurnakan keadilan pembangunan danmemperkuat persatuan nasional. Ketika Papua tumbuh melalui jalur yang damai, inklusif, danberkelanjutan, Indonesia sedang meneguhkan dirinya sebagai bangsa besar yang tidakmeninggalkan satu pun wilayahnya dalam perjalanan menuju kemajuan. *) Analis Kebijakan Publik
- Advertisement -

Baca berita yang ini