Review Film ‘Where The Crawdads Sing’: Kisah Tentang ‘Gadis Rawa’ yang Kesepian

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Gimana jadinya jika sejak kecil sudah ditinggal oleh keluarga? Tapi kalian harus bertahan hidup di rumah yang selama ini ditinggalkan oleh keluarganya di rawa-rawa.

‘Where The Crawdads Sing’ merupakan film drama romantis-misteri. Film ini merupakan adaptasi dari novel dengan judul yang sama karya Delia Owens.

Filmnya menceritakan tentang seorang gadis yang bernama Catherine Danielle Clark atau biasa dipanggil dengan Kya Clark (diperankan oleh Daisy Edgar-Jones). Namun penduduk kota memanggilanya dengan ‘Gadis Rawa’.

Foto: Sony Pictures.

Keluarganya hancur berantakan sejak sikap ayahnya yang tempramental pada seluruh anggota keluarga. Satu per satu anggota keluarganya meninggalkan rumahnya yang berada di rawa.

Sehingga meninggalkan Kya seorang diri dengan sang ayah. Karena sang ayah yang sudah menyadari kesalahannya, akhirnya ia pun juga ikut meninggalkan Kya seorang diri di rumah tersebut.

Mau tak mau, Kya harus mencoba untuk bertahan hidup tanpa anggota keluarganya yang kini sudah tak tahu keberadaannya. Sampai akhirnya ia bertemu dengan teman sepermainan kakak laki-lakinya, Tate Walker.

Foto: Sony Pictures.

Kegemarannya dalam mengoleksi bulu berbagai jenis burung membuat kedekatannya dengan Tate terus berlanjut sampai keduanya beranjak dewasa. Keduanya pun menjalin hubungan yang ‘istimewa’, meski akhirnya hubungan itu tak berjalan mulus.

Hingga akhirnya ia dipertemukan dan menjalin hubungan asmara yang baru dengan Chase Andrews. Tapi segala sesuatu dibaliknya akan terungkap hingga akhirnya Chase dinyatakan meninggal dunia di rawa.

Kya pun harus berhadapan dengan masalah yang mengharuskannya didakwa sebagai ‘pembunuh Chase Andrews’. Ia menjadi tersangka utama dalam kasus kematian Chase.

Foto: Sony Pictures.

Ketika kasus ini terungkap, putusan tentang apa yang sebenarnya terjadi menjadi semakin tak jelas. Ia merasa terancam dan akan mengungkapkan banyak rahasia yang ada di dalam rawa.

Akankah Kya dihukum atas tuduhan bunuh Chase? Akankah hubungannya dengan Tate akan membaik?

‘Where The Crawdads Sing’ ini menampilkan keindahan rawa di Carolina Utara yang diceritakan dengan latar tahun 1860-an. Ceritanya juga tak bisa diprediksi dan banyak kejutan atas rahasia besar yang terungkap.

Sementara itu, film ‘Where The Crawdads Sing’ ini sudah tayang di layar lebar AS sejak 15 Juli 2022. Kabar baiknya, di Indonesia sudah mulai tayang di bioskop mulai 14 September 2022.

Film: Where The Crawdads Sing
Genre: Drama, Romantis, Misteri
Sutradara: Olivia Newman
Produser: Reese Witherspoon, Lauren Neustadter
Pemain: Daisy Edgar-Jones, Taylor John Smith, Harris Dickinson, Michael Hyatt, Sterling Macer, Jr., David Strathairn

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Sekolah Rakyat, Ruang Perubahan Generasi

Oleh: Jaya Abdi Keningar *) Sekolah Rakyat tidak lahir sebagai proyek pendidikan biasa. Ia hadir sebagai jawaban ataspersoalan yang selama puluhan tahun menjadi simpul ketimpangan pembangunan manusiaIndonesia: kemiskinan ekstrem yang diwariskan lintas generasi melalui keterbatasan aksespendidikan bermutu. Dalam konteks ini, Sekolah Rakyat bukan sekadar institusi belajar, melainkan ruang perubahan, tempat negara secara sadar mencoba memutus rantaiketertinggalan dari hulunya. Berbeda dengan sekolah formal pada umumnya, Sekolah Rakyat dirancang denganpendekatan yang menyentuh akar persoalan sosial. Pendekatan ini menjelaskan mengapaleading sector program ini berada di Kementerian Sosial, bukan semata di kementerianpendidikan. Anggota Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih, menilai desain tersebut sebagaipilihan kebijakan yang logis karena sasaran utama Sekolah Rakyat adalah kelompok desilsatu dan dua, masyarakat miskin ekstrem yang selama ini tertinggal dari sistem pendidikanreguler. Menurutnya, orientasi ini menegaskan bahwa pendidikan diposisikan sebagaiinstrumen mobilitas sosial, bukan hanya pemenuhan administratif. Dalam perspektif pendidikan, kebijakan ini mencerminkan pergeseran paradigma negara. Pendidikan tidak lagi dipahami semata sebagai proses transfer pengetahuan, tetapi sebagaistrategi intervensi struktural untuk memperbaiki kualitas hidup. Presiden Prabowo Subianto, dalam berbagai kesempatan, menekankan bahwa tujuan pembangunan bukanlah mengejarstatus negara berpendapatan tinggi, melainkan memastikan rakyat hidup layak, makan cukup, sehat, dan anak-anak memperoleh pendidikan yang baik. Penempatan Sekolah Rakyat dalamkerangka besar Asta Cita menunjukkan bahwa pendidikan ditempatkan sejajar denganswasembada pangan dan energi sebagai fondasi kedaulatan bangsa. Namun, tantangan terbesar Sekolah Rakyat justru terletak pada kualitas proses belajar itusendiri. Banyak anak yang masuk ke Sekolah Rakyat membawa beban ketertinggalan literasiyang serius. Dalam dialog publik bertema “Menjaga Literasi Sekolah Rakyat” di TVRI,Kepala Perpustakaan Nasional, E. Aminudin Aziz menegaskan bahwa literasi tidak bolehdipersempit hanya pada kemampuan membaca teks, melainkan kemampuan mengolahinformasi secara kritis untuk meningkatkan kualitas hidup. Pandangan ini menegaskan bahwaliterasi adalah inti dari transformasi, bukan pelengkap kebijakan. Di sinilah perpustakaan Sekolah Rakyat mengambil peran strategis. Perpustakaan tidak lagidiposisikan sebagai ruang sunyi penyimpanan buku, tetapi sebagai ruang aman bagi anak-anak untuk belajar tanpa stigma. Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa ketikaperpustakaan dikelola secara aktif, dengan kegiatan membaca bersama, diskusi buku, dan kelas menulis, anak-anak yang semula pasif mulai berani menyampaikan pendapat. Perubahan ini mungkin tidak langsung terlihat dalam angka, tetapi sangat menentukan arahmasa depan mereka. Pendekatan hibrida yang menggabungkan buku cetak dan teknologi digital juga menjadikunci adaptasi Sekolah Rakyat dengan realitas zaman....
- Advertisement -

Baca berita yang ini