Hari AIDS Sedunia, Begini Pola Hidup Sehat Penderita HIV agar Panjang Umur

Baca Juga

MATA INDONESIA JAKARTA – Setiap tanggal 1 Desember, dunia memperingati Hari HIV/AIDS. Peringatan ini untuk meningkatkan kesadaran masyarakat soal virus tersebut.

Sampai saat ini, virus HIV/AIDS masih dianggap tabu oleh sebagian orang. Mereka cenderung menjauhi penderitanya, bukan penyakitnya. Untuk itu, di Hari Aids Sedunia ini, diharapkan bisa meningkatkan rasa kepedulian kita terhadap pasien yang mengidap virus tersebut.

Dilansir dari Alodokter, HIV (human immunodeficiency virus) adalah virus yang merusak sistem kekebalan tubuh, dengan menginfeksi dan menghancurkan sel CD4. Semakin banyak sel CD4 yang dihancurkan, kekebalan tubuh akan semakin lemah, sehingga rentan diserang berbagai penyakit.

Orang yang terdiagnosis virus tersebut tentu harus ekstra hati-hati menjaga pola hidupnya. Sebab, kondisi mereka sangat berisiko untuk bisa terpapar penyakit lain dan bisa menyebabkan komplikasi.

Namun, terinfeksi HIV/AIDS bukanlah akhir dari segalanya. Kamu tetap bisa hidup layaknya orang lain dengan sehat dan bugar, asalkan melakukan kebiasaan yang baik dan benar.

Untuk itu, seperti kutipan Hello Sehat ada beberapa tips untuk para penderita HIV/AIDS di Hari Aids Sedunia ini, agar hidup mereka bisa lebih panjang.

1. Rajin Minum Obat

Hal pertama yang harus kamu lakukan ialah rajin minum obat-obatan sesuai resep dokter. Meski agak sulit untuk sembuh, penderita HIV bisa menjalani pengobatan untuk mencegah penyebaran virus ke orang lain sekaligus mengendalikan gejala HIV dan risiko komplikasi.

Sangat penting bagi para pasien HIV/AIDS untuk rutin minum obat sesuai dengan yang resep dokter. Pasalnya, HIV bisa berkembang melemahkan sistem kekebalan tubuh. Bahkan, melewatkan satu dosis pengobatan dapat menyebabkan virus kebal alias resisten terhadap obat-obatan.

2. Rutin Berolahraga

Selanjutnya, pasien HIV/AIDS juga perlu rutin melakukan aktivitas fisik, seperti berolahraga. Penelitian menemukan bahwa olahraga dengan intensitas rendah sampai sedang justru dapat membantu para pasien HIVD/AIDS terhindar dari berbagai risiko infeksi virus lainnya.

Pilihlah jenis olahraga yang kamu suka dan tidak terlalu berat. Entah itu yoga, berlari, bersepeda, berenang, atau bahkan sekadar jalan kaki. Melakukan sesuatu hal yang memang kamu sukai dapat membuatmu bahagia karena melakukannya tanpa beban.

3. Berhenti Merokok

Jika kamu memiliki kebiasaan merokok, maka harus segera setop. Pasalnya, efek dari rokok jauh lebih berbahaya untuk pasien HIV/AIDS. Maka, dengan menghindari dan berhenti merokok bisa membuat pasien HIV/AIDS jauh lebih sehat dan bugar.

Tak cuma lebih sehat secara fisik, tapi juga mental. Kondisi emosionalmu jadi lebih stabil. Hal tersebut juga sangat berpengaruh pada kondisi kesehatan pasien HIV/AIDS.

4. Jaga Pola Makan

Tak cuma aktivitasnya saja yang perlu kamu ubah, pola makan juga harus berubah jika kamu terinfeksi virus HIV/AIDS. Asupan makanan yang baik dapat membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh penderita Aids dan HIV, meringankan gejala, serta mencegah terjadinya komplikasi HIV.

Pastikan makanan yang kamu konsumsi mengandung gizi seimbang yang meliputi protein, karbohidrat, serat, lemak baik, serta vitamin dan mineral. Jangan lupa, hitung juga asupan kalori yang masuk ke dalam tubuh.

5. Kelola Stres dengan Baik

Satu lagi pola hidup untuk pasien HIV/AIDS ialah menjaga stres dengan baik. Tanamkanlah semangat bahwa terinfeksi virus tersebut bukanlah akhir dari segalanya.

Kamu tetap bisa hidup normal layaknya masyarakat biasa. Hanya saja kamu perlu memperhatikan kondisi kesehatan dengan lebih hati-hati. Jangan merasa depresi dengan kondisimu karena bisa berdampak buruk pada sistem imun.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Konsistensi Negara Mengawal Keadilan dan Percepatan Pembangunan Papua melalui Otonomi Khusus

Oleh: Manta Wabimbo *) Papua bukan sekadar wilayah administratif di ujung timur Indonesia, melainkan ruangstrategis tempat negara menguji komitmennya terhadap keadilan pembangunan. SejakOtonomi Khusus Papua diberlakukan pada 2001 dan diperkuat melalui Undang-UndangNomor 2 Tahun 2021, arah kebijakan pemerintah semakin tegas: menghadirkan pendekatanpembangunan yang afirmatif, terukur, dan berpihak pada Orang Asli Papua. Dalam kontekstersebut, Otsus tidak lagi dapat dipahami sebagai kebijakan sementara, melainkan sebagaiinstrumen jangka panjang untuk mengoreksi ketimpangan struktural yang diwariskan olehsejarah dan kondisi geografis. Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menunjukkan kesinambungan dan penguatanterhadap agenda Otsus. Hal ini tercermin dari intensifikasi koordinasi antara pemerintah pusatdan kepala daerah seluruh Papua yang dilakukan secara langsung di Istana Negara. Langkahtersebut menandakan bahwa Papua tidak diposisikan sebagai wilayah pinggiran, melainkansebagai prioritas nasional yang membutuhkan orkestrasi kebijakan lintas sektor. Pemerintahpusat tidak hanya menyalurkan anggaran, tetapi juga memastikan bahwa desainpembangunan Papua selaras antara pusat dan daerah. Salah satu capaian yang paling nyata dari implementasi Otsus adalah percepatanpembangunan infrastruktur dasar. Jalan penghubung, bandara perintis, dan fasilitas logistiktelah membuka isolasi wilayah yang selama puluhan tahun menjadi penghambat utamapembangunan. Infrastruktur ini tidak semata menghadirkan konektivitas fisik, tetapimenciptakan fondasi ekonomi baru yang memungkinkan distribusi barang lebih efisien danmenurunkan beban biaya hidup masyarakat. Dalam konteks ini, pembangunan infrastrukturmenjadi wujud kehadiran negara yang konkret dan dirasakan langsung oleh rakyat. Dampak lanjutan dari keterbukaan akses tersebut terlihat pada penguatan ekonomi lokal. Pemerintah mendorong agar aktivitas produksi masyarakat Papua, baik di sektor pertanian, perikanan, maupun usaha mikro, dapat terhubung dengan pasar yang lebih luas. Otsusmemberi ruang fiskal bagi daerah untuk merancang kebijakan ekonomi yang sesuai dengankarakter lokal, sekaligus menjaga agar manfaat pembangunan tidak terkonsentrasi padakelompok tertentu. Pendekatan ini menegaskan bahwa agenda pemerintah di Papua berorientasi pada pemerataan, bukan sekadar pertumbuhan angka statistik. Pada saat yang sama, Otsus Jilid II menempatkan pembangunan sumber daya manusiasebagai prioritas strategis. Program afirmasi pendidikan, termasuk beasiswa bagi siswa danmahasiswa asli Papua, menjadi investasi jangka panjang yang menentukan arah masa depanPapua. Otsus telah membuka ruang mobilitas sosial yang sebelumnya sulit dijangkau, sekaligus membangun rasa percaya diri generasi muda Papua untuk berkompetisi secaraglobal. Pandangan tersebut memperkuat keyakinan bahwa pendidikan adalah kunci utamakemandirian Papua di masa depan. Di sektor kesehatan, kebijakan Otsus juga menunjukkan wajah negara yang protektif. Pemerintah memastikan bahwa akses layanan kesehatan bagi Orang Asli Papua tidak lagiterhambat oleh keterbatasan biaya dan fasilitas. Penguatan rumah sakit daerah, distribusitenaga kesehatan, serta jaminan kesehatan khusus bagi OAP mencerminkan pendekatanpembangunan yang berorientasi pada hak dasar warga negara. Dalam kerangka yang sama, pemberdayaan ekonomi perempuan Papua melalui dukungan usaha mikro menjadi strategipenting untuk memperkuat ketahanan keluarga dan ekonomi lokal. Keunikan Otsus juga tercermin dalam pengakuan terhadap struktur sosial dan politikmasyarakat Papua. Keberadaan Majelis Rakyat Papua serta mekanisme afirmasi politik bagiOrang Asli Papua merupakan bentuk penghormatan negara terhadap identitas dan hakkolektif masyarakat adat. Tokoh agama Papua, Pdt. Alberth Yoku, menekankan bahwa Otsusmemberikan ruang bagi orang Papua untuk menjadi subjek pembangunan di tanahnya sendiri, selama dijalankan dengan semangat kolaborasi dan kejujuran. Perspektif ini menegaskanbahwa Otsus bukan ancaman bagi integrasi nasional, melainkan penguat persatuan berbasiskeadilan. Pemerintah juga menunjukkan keseriusan dalam memperbaiki tata kelola Otsus. Pembentukan Badan Pengarah Percepatan Otonomi Khusus Papua yang dipimpin langsungoleh Wakil Presiden merupakan sinyal kuat bahwa pengawasan dan efektivitas menjadiperhatian utama. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian secara konsisten menekankanpentingnya sinkronisasi program antara kementerian dan pemerintah daerah agar dana Otsusbenar-benar menghasilkan dampak nyata. Langkah ini menjawab kritik lama tentangfragmentasi kebijakan dan memperlihatkan kemauan politik pemerintah untuk melakukankoreksi. Ke depan, tantangan implementasi tentu masih ada. Namun dengan peningkatan alokasianggaran Otsus menjadi 2,25 persen dari Dana Alokasi Umum nasional serta pengawasanyang semakin ketat, fondasi pembangunan Papua kian kokoh. Yang dibutuhkan kini adalahkonsistensi pelaksanaan dan kepemimpinan daerah yang berorientasi pada pelayanan publik. Papua hari ini adalah Papua yang sedang bergerak maju. Mendukung Otsus berartimendukung agenda besar negara dalam menyempurnakan keadilan pembangunan danmemperkuat persatuan nasional. Ketika Papua tumbuh melalui jalur yang damai, inklusif, danberkelanjutan, Indonesia sedang meneguhkan dirinya sebagai bangsa besar yang tidakmeninggalkan satu pun wilayahnya dalam perjalanan menuju kemajuan. *) Analis Kebijakan Publik
- Advertisement -

Baca berita yang ini