Banjir Besar Melanda Seoul, Bagaimana Kondisi Maudy Ayunda dan Suami?

Baca Juga

MATA INDONESIA, SEOUL – Delapan orang dikabarkan meninggal dunia dan 14 mengalami cedera akibat banjir besar yang terjadi di Seoul, Korea Selatan. Lalu, bagaimana kondisi Maudy Ayunda dan suami yang berada di sana?

Hujan deras terjadi di Seoul sejak Senin 8 Agustus 2022. Banjir terjadi jalanan, stasiun kereta bawah tanah, dan menyebabkan padam listrik di seluruh kota dan provinsi tetangga.

Menurut Badan Meteorologi Korea, beberapa daerah mengalami tingkat curah hujan tertinggi dalam 80 tahun terakhir. Hujan kemungkinan akan berlanjut selama beberapa hari. Akibatnya, delapan orang dikabarkan meninggal dunia.

Kondisi tersebut membuat netizen khawatir dengan kondisi Maudy Ayunda dan suami, Jesse Choi, yang sedang berada di Seoul. Pelantun ‘Perahu Kertas’ itu mengabarkan kondisinya dan suami baik-baik saja.

“Terima kasih buat teman-teman yang udah cheking up on us. Memang Seoul itu kemarin malam hujan deras banget, banget, banget. Kebetulan kita ada plan dinner, kita stuck dua jam di jalan, nggak gerak,” ujar Maudy, dalam video yang diunggah di Instagram Story.

“Itu sebenarnya jarang banget terjadi di Seoul, but we’are all good, we’re safe, hope doesn’t rain again today. Thank you for cheking up on us, we’re good,” katanya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Danantara, PSEL, dan Masa Depan Pengelolaan Sampah Indonesia

*) Oleh: Citra Ningrum OktaviaPemerintah tengah menghadapi salah satu tantangan paling mendesak dalampembangunan nasional, yakni darurat sampah perkotaan yang selama bertahun-tahun berjalan tanpa penyelesaian menyeluruh. Timbunan sampah yang terusmeningkat tidak lagi sekadar persoalan kebersihan lingkungan, melainkan telahmenjadi ancaman serius bagi kesehatan publik, kualitas ekosistem, hingga ketahananenergi nasional. Di tengah situasi tersebut, langkah pemerintah menggandengDanantara Indonesia untuk mempercepat pembangunan fasilitas PengolahanSampah menjadi Energi Listrik (PSEL) merupakan keputusan strategis yang menunjukkan keberanian negara keluar dari pola lama pengelolaan sampah yang stagnan. Penandatanganan nota kesepahaman pembangunan PSEL di enam lokasibersama 13 pemerintah daerah menjadi sinyal bahwa pemerintah tidak lagi bekerjadengan pendekatan parsial, tetapi mulai membangun sistem pengelolaan sampahyang terintegrasi dan berorientasi jangka panjang.Lebih jauh, penerbitan Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 tentangpercepatan pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrikmemperlihatkan adanya keseriusan politik pemerintah dalam membenahi tata kelolasampah nasional. Menko Pangan, Zulkifli Hasan menegaskan bahwa regulasitersebut telah mendorong langkah konkret pemerintah pusat dan daerah untukbergerak lebih cepat dalam pembangunan PSEL. Target pembangunan sedikitnya 25 lokasi PSEL dalam dua hingga tiga tahun ke depan bukan hanya ambisi administratif, melainkan kebutuhan nyata untuk mengatasi kedaruratan sampah di puluhankabupaten dan kota. Selama ini, banyak proyek pengolahan sampah tersendat akibatbirokrasi panjang, lemahnya koordinasi antarlembaga, dan ketidakjelasan pembagiankewenangan. Karena itu, penyederhanaan prosedur serta pembagian peran yang jelas antara pemerintah, Danantara, dan pihak-pihak terkait menjadi fondasi pentingagar proyek strategis ini tidak kembali terjebak pada pola lamban yang merugikanmasyarakat.Selain itu, keterlibatan Danantara Indonesia memberi dimensi baru dalampembiayaan dan tata kelola proyek infrastruktur lingkungan di Indonesia. Selama ini, pengelolaan sampah kerap dipandang sebagai sektor yang minim nilai ekonomisehingga tidak menarik bagi investor besar. Padahal, di berbagai negara maju, pengolahan sampah telah berkembang menjadi industri energi hijau yang bernilaitinggi dan berkelanjutan....
- Advertisement -

Baca berita yang ini