Anak Haram Fidel Castro Dukung James Franco yang Kelahiran California Perankan Ayahnya di “Alina of Cuba”

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Putri almarhum Fidel Castro, Alina Fernández tidak keberatan sosok ayahnya diperankan James Franco yang sama sekali tidak memiliki darah Latin.

Seperti dilansir Miami Herarld, Alina menyatakan Franco sangat mirip dengan pemimpin kharismatik Cuba yang wafat 2016 tersebut.

“James Franco memiliki kemiripan fisik yang jelas dengan Fidel Castro, selain keterampilan dan karismanya,” kata perempuan 66 tahun, yang ibunya Natalia “Naty” Revuelta hamil dirinya setelah berselingkuh dengan Castro.

Alina kepada Deadline juga memberikan penilaian A-OK kepada aktris Argentina, Mía Maestro yang berperan sebagai ibunya, Natalia Revuelta.

Putri tidak sah Castro yang membelot ke Spanyol setelah mengkritik pemerintahan Cuba itu, mengaku tidak sabar untuk menonton “Alina of Cuba” yang dijadwalkan mulai syuting di Kolombia, Senin besok.

Film itu mendapat cercaan dari aktor Kolombia John Leguizamo yang menggunakan media sosial karena peran lelaki kelahiran 13 Agustus 1926 itu, diberikan kepada bintang Hollywood, bukan bangsa Latin seperti dia.

Penduduk asli Kota Bogota itu mengatakan tidak memiliki masalah dengan Franco yang kelahiran California, hanya saja menjadi terasa terasa “salah” memberikan peran “Castro” kepadanya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Teknologi dan Infrastruktur Air Menjadi Andalan Menghadapi Tantangan Kemarau

Oleh: Rendra Fathian )*Pemerintah terus memperkuat berbagai langkah antisipatif dalammenghadapi musim kemarau 2026 yang diperkirakan berlangsung lebihkering dibandingkan kondisi normal. Tantangan perubahan iklim dan potensi fenomena El Nino mendorong pemerintah untuk mengedepankanpemanfaatan teknologi serta penguatan infrastruktur air sebagaiinstrumen utama dalam menjaga ketahanan masyarakat, keberlanjutansektor pertanian, dan stabilitas pembangunan nasional.Upaya pemerintah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanyaberfokus pada penanganan dampak setelah bencana terjadi, tetapi juga menempatkan mitigasi sebagai bagian penting dari strategi pembangunan. Pendekatan yang berbasis data, teknologi, dan koordinasilintas sektor menjadi fondasi untuk memastikan masyarakat dapatmenghadapi musim kemarau dengan kesiapan yang lebih baik.Peringatan mengenai potensi kemarau yang lebih kering telahdisampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa Indonesia berpotensi mengalami fenomena El Nino pada tahun 2026. Prediksitersebut telah disampaikan sejak Maret 2026 dan kemudian diperkuatoleh informasi yang dirilis Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada awal Juni 2026.Menurut Faisal, El Nino dan musim kemarau merupakan dua fenomenayang berbeda, namun keduanya dapat memengaruhi kondisi curah hujandi berbagai wilayah Indonesia. Hasil pemantauan BMKG hingga akhir Mei menunjukkan indeks ENSO telah mencapai angka yang mengindikasikankondisi El Nino, sementara sebagian wilayah Indonesia telah memasukimusim kemarau.Pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan risiko iklim menjadi salah satukekuatan yang dimiliki Indonesia saat ini. Dukungan data dari BMKG, pemantauan satelit, serta sistem peringatan dini memungkinkanpemerintah daerah dan berbagai instansi terkait mengambil keputusanberdasarkan kondisi aktual di lapangan. Pendekatan ini jauh lebih efektifdibandingkan mengandalkan respons setelah dampak kekeringan mulaidirasakan masyarakat.Di Jawa Barat, misalnya,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini