Cenderawasih Sang Burung Surga yang Masyhur di Eropa

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Tanah Papua terkenal dengan keindahan hutan dan flora maupun fauna yang diam di dalamnya. Salah satu kebanggaan Orang Asli Papua adalah Burung Cenderawasih. Burung ini diklaim sebagai burung para dewa atau burung yang datang dari surga karena keindahan bulu-bulunya. Bahkan burung ini dipercaya tak pernah menginjakkan kakinya ke tanah.

Keindahan Cenderawasih ini tentu membuat banyak pihak ingin mengoleksinya sebagai hewan peliharaan. Bahkan, burung ini diburu untuk diambil bulunya untuk dijadikan sebagai bahan pembuatan mahkota cenderawasih.

Berbicara tentang mahkota cenderawasih, sebenarnya hal ini berkaitan erat dengan adat istiadat para suku di Tanah Papua. Mahkota ini cuma layak dipakai oleh seorang Ondoafi (kepala suku) atau orang yang memiliki jabatan tinggi. Rakyat biasa tak boleh memakainya.

Maka wajar saja kalau rencana penggunaan mahkota cenderawasih untuk hajatan PON XX Papua pada Oktober 2021 mendatang menuai penolakan dari beragam pihak. Mulai dari para pemimpin daerah setempat hingga para pemuka adat.

Berbicara tentang Cenderawasih, Indonesia patut berbangga lantaran burung yang terdiri atas 42 jenis spesies ini, 30 dari mereka berada di hutan Papua.

Cendrawasih sendiri memiliki jenis yang berbeda-beda, ada Cendrawasih Merah, Cendrawasih Botak, Cendrawasih 12 Antena dan semuanya memiliki ciri yang berbeda. Yang menjadi daya tariknya memang kecantikan burung ini. Keunikan ini membuatnya dikenal dunia dan mendapat julukan sebagai Bird of Paradise.

Istilah ‘burung surga’ tersebut ini bermula dari kisah seorang ilmuwan dan penjelajah Venesia bernama Antonio Pigaffeta. Ia melakukan perjalanan keliling dunia di tahun 1522. Salah satu tempat yang ia singgahi adalah Indonesia.

Ketika itu, Antonio dibekali kulit burung Cendrawasih kuning oleh Raja Bacan dari Maluku Utara. Kulit itu ditujukan untuk Raja Spanyol. Hadiah tersebut kemudian diteliti secara ilmiah dan membuat banyak orang Eropa takjub. Mereka tidak menyangka kalau ada burung seindah Cendrawasih. Atas dasar kepercayaan tersebut, burung Cendrawasih akhirnya dijuluki Bird of Paradise. Salah seorang peneliti biologi dari Inggris, Alfred Wallace, juga memberi nama latin burung ini yakni Paradisea apoda.

Selain dipercaya punya warna yang indah. Cendrawasih juga dipercaya oleh banyak orang tak pernah menapakkan kakinya ke tanah. Orang Eropa percaya kalau burung ini tak pernah turun ke bumi, ia hanya berada di luar angkasa. Makanannya adalah embun, proses kawin dilakukan di udara, telur dierami dengan betina yang duduk di atas pejantannya. Kalau sudah lelah terbang, maka burung ini hanya akan hinggap di pohon.

Karena mengetahui bahwa Cendrawasih memang ada, banyak sekali orang Eropa yang melakukan perjalanan ke Nusantara untuk memburu hewan ini. Bulunya yang halus dan indah bisa dijadikan sebagai hiasan mahkota dan topi para bangsawan. Masalah harga jangan ditanya lagi, burung ini sangat mahal sekali. Para pemburu menangkap kemudian memotong kakinya lalu mengawetkan burung dengan teknik pengasapan sederhana.

Saat datang ke daratan Eropa, burung ini sudah tidak memiliki kaki. Hal inilah yang membuat banyak orang percaya kalau Cenderawasih memang tak hidup di bumi. Padahal, kakinya dipotong oleh para pemburu. Gelar ‘paradisaea’ juga membuat harganya tetap mahal, walaupun saat datang sudah dalam bentuk awet karena pengasapan. Nama ilmiah ‘apoda’ sendiri artinya tanpa kaki.

Untungnya, saat ini keberadaan Cendrawasih sudah dilindungi dan tak boleh diburu secara liar, apalagi untuk dijual dan dijadikan sebagai hiasan. Burung ini masuk ke dalam daftar hewan yang dilindungi dan jarang menampakkan diri ke hadapan manusia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Koperasi Merah Putih dan Pemerataan Manfaat APBN bagi Rakyat

Oleh : Siti Fatimah Rahma*Kehadiran Koperasi Desa Merah Putih menjadi salah satu terobosan strategis dalam memperkuatpemerataan manfaat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga ke tingkat akarrumput. Dalam konteks pembangunan nasional, tantangan utama bukan semata pada besarnyaalokasi anggaran, melainkan pada efektivitas distribusi dan dampaknya terhadap kesejahteraanmasyarakat. Oleh karena itu, pendekatan berbasis desa melalui koperasi menjadi instrumenpenting untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan negara benar-benar dirasakanoleh rakyat secara langsung, merata, dan berkelanjutan.Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa skema pembiayaan KoperasiMerah Putih dirancang secara hati-hati agar tidak membebani APBN secara berlebihan. Ia menjelaskan bahwa meskipun sebagian dana bersumber dari alokasi dana desa, kebijakan initetap memberikan nilai tambah karena mendorong efisiensi ekonomi di tingkat lokal. Pendekatanini memperlihatkan bahwa pengelolaan fiskal tidak hanya berorientasi pada pengeluaran, tetapijuga pada penciptaan manfaat jangka panjang yang dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional.Lebih lanjut, Purbaya memaparkan bahwa kondisi fiskal tetap terjaga seiring denganmeningkatnya pendapatan negara, terutama dari sektor komoditas seperti batu bara dan minyak. Hal ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk melakukan akselerasi belanja di awal tahunsebagai strategi mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Dengan demikian, percepatan belanja tidak dipandang sebagai risiko, melainkan sebagai instrumen kebijakan untukmengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah.Dari sisi pembiayaan, penggunaan skema pinjaman melalui perbankan Himbara menjadi langkahinovatif untuk memitigasi risiko fiskal. Pemerintah tidak langsung menanggung beban besarsebagaimana dalam skema Penyertaan Modal...
- Advertisement -

Baca berita yang ini