7 Langkah Ini Bakal Membuat Indonesia Bangkit dari Pandemi

Baca Juga

MATA INDONESIA, – Sudah hampir dua tahun lamanya seluruh penduduk di dunia mengalami pandemi COVID-19. Di Indonesia khususnya, pandemi ini berdampak luas dalam berbagai aspek kehidupan. Berbagai sektor termasuk fasilitas-fasilitas kesehatan nyaris kolaps. Kondisi perekonomian masyarakat secara signifikan mengalami kemerosotan.

Bagaimanapun, di tengah segala keterpurukan, kita harus meyakini bahwa Bangsa Indonesia adalah bangsa yang kuat. Menatap ke depan, mencari solusi, dan melangkah dengan pasti, seluruh rakyat Indonesia harus percaya bahwa Indonesia dapat bangkit dari kondisi akibat pandemi.

Dengan kontribusi dan kerjasama dari semua pihak, tujuh langkah berikut ini dapat mendorong kebangkitan bangsa kita :

  1. Taat protokol kesehatan.

Disiplin dalam menjalankan adaptasi kebiasaan baru, sangat penting dalam upaya mengendalikan serta mencegah penyebaran dan penularan virus COVID-19. Menumbuhkan rasa bertanggungjawab demi kebaikan diri sendiri maupun orang lain, setiap individu perlu meningkatkan kesadaran dalam menjalankan protokol kesehatan di antaranya : pakai masker, hindari kerumunan, rajin mencuci tangan, serta mendapatkan vaksinasi COVID-19.

  1. Menekan harga kebutuhan medis dan biaya fasilitas pelayanan kesehatan.

Ketersediaan beberapa jenis obat-obatan yang terbatas, serta harga sebagian obat yang tidak terjangkau seluruh lapisan masyarakat, dapat menjadi penghalang bagi masyarakat untuk mendapatkan pengobatan yang sesuai dengan penyakit yang dideritanya. Begitu juga dengan biaya pemeriksaan yang masih harus mengharuskan seorang pasien merogoh kocek cukup dalam untuk mendapatkannya, akan menghambat berjalannya serangkaian proses penegakkan diagnosa serta pemberian terapi yang tepat.

Sebaliknya, jika biaya fasilitas pelayanan medis dan harga obat cenderung terjangkau, maka siapapun dapat segera mendapatkan penanganan yang tepat atas diagnosa penyakit yang dialaminya.

  1. Sediakan bahan pokok dan bahan makanan dengan harga terjangkau.

Kehilangan pekerjaan dan sumber mata pencaharian dialami oleh sebagian besar masyarakat selama masa pandemi ini. Jangankan untuk memenuhi kebutuhan sekunder apalagi tersier, bahkan untuk memenuhi kebutuhan primer pun bagi sebagian orang masih mengalami ketidakpastian. Kondisi pandemi yang berkepanjangan telah memangkas daya beli di berbagai lapisan masyarakat.

Karena itu, jika negara belum bisa mengadakan bantuan secara merata, paling tidak bisa dibuat regulasi yang meringankan warga. Sedemikian rupa sehingga harga-harga barang kebutuhan pokok dapat terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.

  1. Suburkan dunia wirausaha, buka lapangan pekerjaan seluas-luasnya.

Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk mencapai pemulihan ekonomi nasional adalah dengan membuka peluang seluas-luasnya untuk dunia wirausaha bertumbuh dan berkembang, termasuk berbagai usaha industri kreatif. Dengan menjamurnya usaha, maka semakin banyak pula lapangan pekerjaan yang terbuka.

Pemerintah dapat membantu mewujudkan hal tersebut dengan melakukan deregulasi, yang mendukung pelaku usaha, serta memberikan keleluasaan bagi pelaku usaha sehingga tidak terkekang dengan aturan-aturan yang selama ini menghambat perkembangan usahanya. Harus ada keberpihakan pemerintah terhadap pertumbuhan dunia usaha oleh anak negeri.

  1. Manfaatkan aktivitas online.

Life must go on… Ya, meskipun kondisi pandemi sedang menghantam kita, namun kehidupan tetap harus berjalan. Tak bisa dipungkiri, kondisi pandemi ini menghadirkan berbagai keterbatasan. Berjualan tak bisa lagi di pusat perbelanjaan. Belajar tak bisa lagi dilakukan di ruang publik. Kegiatan yang mengumpulkan banyak orang dalam satu ruangan seperti kelas-kelas seminar tak mungkin lagi diadakan.

Namun hal ini jangan sampai menghentikan langkah kita untuk beraktivitas dan berkembang, karena saat ini apapun bisa go online. Bagi para pedagang, bisa memanfaatkan toko online maupun marketpace sebagai tempat menjajakan produknya. Belajar dapat dioptimalkan melalui berbagai kelas-kelas pembelajaran maupun seminar online, yang bisa diakses dari aplikasi Whatsapp, Zoom, maupun berbagai aplikasi lain serta situs-situs tertentu di internet.

Saat ruang gerak di dunia offline terbatas, maka dunia online menawarkan ruang gerak seluas-seluasnya bagi kita untuk beraktivitas, maju dan berkembang.

  1. Ketahanan keluarga.

Keluarga, sebagai lingkungan terkecil, memiliki andil yang sangat besar dalam membentuk keadaan seseorang. Dari keluarga yang kuat, akan terlahir individu yang kuat pula.

Dalam kondisi pandemi seperti saat ini, bangkitnya sebuah bangsa akan sangat dipengaruhi oleh bangkitnya keluarga di masing-masing rumah. Setiap rumah, setiap keluarga, harus memperjuangkan ketahanannya dengan mengoptimalkan berbagai potensi yang ada.

Di antara ketahanan keluarga yang bisa diwujudkan di rumah adalah ketahanan pangan dan ketahanan ekonomi. Ketahanan pangan bisa tercukupi dengan menghadirkan berbagai sumber pangan di rumah. Misalnya dengan menanam tumbuhan sayur-sayuran, buah-buahan, serta memelihara hewan yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan pangan seperti ayam dan ikan.

Sementara ketahanan ekonomi bisa didapatkan jika seluruh anggota keluarga bahu-membahu dalam menjalankan berbagai aktivitas produktif. Misalnya, berjualan pangan hasil bertanam, mencari penghasilan melalui aktivitas online, dan lain sebagainya.

  1. Peduli tetangga, peduli sesama.

Last but not least, memupuk kepedulian terhadap sesama, dimulai dari lingkungan terdekat kita yaitu tetangga. Dalam kondisi pandemi seperti saat ini, kepekaan kita perlu diasah. Cobalah tengok ke kanan dan kiri rumah kita. Adakah tetangga yang kehilangan sumber penghasilan? Adakah tetangga yang tak sanggup mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarganya? Adakah yang belum punya apapun untuk dimakan hari ini? Adakah yang sedang sakit? Adakah yang sedang isolasi mandiri dan membutuhkan bantuan untuk mengadakan keperluan sehari-harinya di rumah?

Meskipun tidak dianjurkan untuk sering bertatap-muka, namun kita bisa tetap selalu bertegur sapa. Misalnya dengan menanyakan kabar melalui obrolan di Whatsapp. Jika ada yang tidak mampu dan kekurangan, bantu dengan apapun yang bisa kita kerahkan. Dengan begitu, tak akan ada lagi orang-orang yang kelaparan dalam diam di rumahnya.

Mari kita bergandengan tangan. Melewati badai pandemi. Meskipun sulit dan belum kelihatan ujungnya, namun kita harus tetap optimis melaluinya. Mari bangkit bersama, Indonesia pasti bisa.

Penulis: Arsdiani Syatria

  • Instagram: @arsdiani

 

6 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Konsistensi Negara Mengawal Keadilan dan Percepatan Pembangunan Papua melalui Otonomi Khusus

Oleh: Manta Wabimbo *) Papua bukan sekadar wilayah administratif di ujung timur Indonesia, melainkan ruangstrategis tempat negara menguji komitmennya terhadap keadilan pembangunan. SejakOtonomi Khusus Papua diberlakukan pada 2001 dan diperkuat melalui Undang-UndangNomor 2 Tahun 2021, arah kebijakan pemerintah semakin tegas: menghadirkan pendekatanpembangunan yang afirmatif, terukur, dan berpihak pada Orang Asli Papua. Dalam kontekstersebut, Otsus tidak lagi dapat dipahami sebagai kebijakan sementara, melainkan sebagaiinstrumen jangka panjang untuk mengoreksi ketimpangan struktural yang diwariskan olehsejarah dan kondisi geografis. Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menunjukkan kesinambungan dan penguatanterhadap agenda Otsus. Hal ini tercermin dari intensifikasi koordinasi antara pemerintah pusatdan kepala daerah seluruh Papua yang dilakukan secara langsung di Istana Negara. Langkahtersebut menandakan bahwa Papua tidak diposisikan sebagai wilayah pinggiran, melainkansebagai prioritas nasional yang membutuhkan orkestrasi kebijakan lintas sektor. Pemerintahpusat tidak hanya menyalurkan anggaran, tetapi juga memastikan bahwa desainpembangunan Papua selaras antara pusat dan daerah. Salah satu capaian yang paling nyata dari implementasi Otsus adalah percepatanpembangunan infrastruktur dasar. Jalan penghubung, bandara perintis, dan fasilitas logistiktelah membuka isolasi wilayah yang selama puluhan tahun menjadi penghambat utamapembangunan. Infrastruktur ini tidak semata menghadirkan konektivitas fisik, tetapimenciptakan fondasi ekonomi baru yang memungkinkan distribusi barang lebih efisien danmenurunkan beban biaya hidup masyarakat. Dalam konteks ini, pembangunan infrastrukturmenjadi wujud kehadiran negara yang konkret dan dirasakan langsung oleh rakyat. Dampak lanjutan dari keterbukaan akses tersebut terlihat pada penguatan ekonomi lokal. Pemerintah mendorong agar aktivitas produksi masyarakat Papua, baik di sektor pertanian, perikanan, maupun usaha mikro, dapat terhubung dengan pasar yang lebih luas. Otsusmemberi ruang fiskal bagi daerah untuk merancang kebijakan ekonomi yang sesuai dengankarakter lokal, sekaligus menjaga agar manfaat pembangunan tidak terkonsentrasi padakelompok tertentu. Pendekatan ini menegaskan bahwa agenda pemerintah di Papua berorientasi pada pemerataan, bukan sekadar pertumbuhan angka statistik. Pada saat yang sama, Otsus Jilid II menempatkan pembangunan sumber daya manusiasebagai prioritas strategis. Program afirmasi pendidikan, termasuk beasiswa bagi siswa danmahasiswa asli Papua, menjadi investasi jangka panjang yang menentukan arah masa depanPapua. Otsus telah membuka ruang mobilitas sosial yang sebelumnya sulit dijangkau, sekaligus membangun rasa percaya diri generasi muda Papua untuk berkompetisi secaraglobal. Pandangan tersebut memperkuat keyakinan bahwa pendidikan adalah kunci utamakemandirian Papua di masa depan. Di sektor kesehatan, kebijakan Otsus juga menunjukkan wajah negara yang protektif. Pemerintah memastikan bahwa akses layanan kesehatan bagi Orang Asli Papua tidak lagiterhambat oleh keterbatasan biaya dan fasilitas. Penguatan rumah sakit daerah, distribusitenaga kesehatan, serta jaminan kesehatan khusus bagi OAP mencerminkan pendekatanpembangunan yang berorientasi pada hak dasar warga negara. Dalam kerangka yang sama, pemberdayaan ekonomi perempuan Papua melalui dukungan usaha mikro menjadi strategipenting untuk memperkuat ketahanan keluarga dan ekonomi lokal. Keunikan Otsus juga tercermin dalam pengakuan terhadap struktur sosial dan politikmasyarakat Papua. Keberadaan Majelis Rakyat Papua serta mekanisme afirmasi politik bagiOrang Asli Papua merupakan bentuk penghormatan negara terhadap identitas dan hakkolektif masyarakat adat. Tokoh agama Papua, Pdt. Alberth Yoku, menekankan bahwa Otsusmemberikan ruang bagi orang Papua untuk menjadi subjek pembangunan di tanahnya sendiri, selama dijalankan dengan semangat kolaborasi dan kejujuran. Perspektif ini menegaskanbahwa Otsus bukan ancaman bagi integrasi nasional, melainkan penguat persatuan berbasiskeadilan. Pemerintah juga menunjukkan keseriusan dalam memperbaiki tata kelola Otsus. Pembentukan Badan Pengarah Percepatan Otonomi Khusus Papua yang dipimpin langsungoleh Wakil Presiden merupakan sinyal kuat bahwa pengawasan dan efektivitas menjadiperhatian utama. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian secara konsisten menekankanpentingnya sinkronisasi program antara kementerian dan pemerintah daerah agar dana Otsusbenar-benar menghasilkan dampak nyata. Langkah ini menjawab kritik lama tentangfragmentasi kebijakan dan memperlihatkan kemauan politik pemerintah untuk melakukankoreksi. Ke depan, tantangan implementasi tentu masih ada. Namun dengan peningkatan alokasianggaran Otsus menjadi 2,25 persen dari Dana Alokasi Umum nasional serta pengawasanyang semakin ketat, fondasi pembangunan Papua kian kokoh. Yang dibutuhkan kini adalahkonsistensi pelaksanaan dan kepemimpinan daerah yang berorientasi pada pelayanan publik. Papua hari ini adalah Papua yang sedang bergerak maju. Mendukung Otsus berartimendukung agenda besar negara dalam menyempurnakan keadilan pembangunan danmemperkuat persatuan nasional. Ketika Papua tumbuh melalui jalur yang damai, inklusif, danberkelanjutan, Indonesia sedang meneguhkan dirinya sebagai bangsa besar yang tidakmeninggalkan satu pun wilayahnya dalam perjalanan menuju kemajuan. *) Analis Kebijakan Publik
- Advertisement -

Baca berita yang ini