Stephen King Akui Tak Suka Film ‘Transformers’, Kenapa?

Baca Juga

MATA INDONESIA, LOS ANGELES – Stephen King adalah seorang penulis novel horror, ilmiah, dan fantasi yang terkenal dan hampir semua novelnya sudah diadaptasi ke layar lebar. Namun belum lama ini, sang penulis mengakui bahwa ia tak menyukai film ‘Transformers’ lho.

Melansir dari Just Jared, Stephen mengungkapkan satu-satunya film yang ia tak pernah selesaikan ditonton adalah ‘Transformers’. Ia mengakuinya melalui cuitan di akun Twitter pribadinya.

Ia awalnya menanggapi cuitan dari Linwood di mana ia telah keluar dari bioskop lebih awal untuk film ‘Jurassic World Dominion’.

“’Jurassic World Dominion’ memiliki perbedaan sebagai film pertama yang aku tinggalkan selama bertahun-tahun,” kata Linwood.

“Aku hanya keluar dari satu film sebagai orang dewasa adalah ‘Transformers’,” balas Stephen.

Bahkan ia juga menanyakan pada netizen film apa yang pernah mereka tinggalkan dan tak pernah diselesaikan untuk ditonton. Sempat dibuat bingung, Stephen pun menjelaskan lebih rinci film ‘Transformers’ mana yang tidak ia sukai.

Ia mengaku film itu adalah arahan Michael Bay yang dibintangi Shia LaBeouf dan Megan Fox yang pertama. Sayangnya, Stephen tak menjelaskan lebih rinci alasan ia tak menyukai film-film tersebut.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Trauma Healing, Upaya Strategis Negara Pulihkan Generasi Pascabencana Sumatra

Oleh : Nancy Dora  Bencana ekologis yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra dan Aceh kembali menegaskanbahwa dampak kebencanaan tidak berhenti pada kerusakan fisik dan kerugian material. Di balikrumah yang runtuh, jalan yang terputus, dan fasilitas umum yang rusak, terdapat luka psikis yang jauh lebih dalam, terutama pada anak-anak sebagai kelompok paling rentan. Dalam konteks ini, trauma healing bukan sekadar program pelengkap pascabencana, melainkan menjadi upayastrategis negara untuk memulihkan dan melindungi masa depan generasi terdampak. Data yang dihimpun menunjukkan bahwa anak-anak mencakup sekitar sepertiga dari total pengungsi pascabencana di Sumatra dan Aceh. Kondisi tersebut menempatkan mereka padasituasi krisis berlapis, mulai dari kehilangan rasa aman, keterputusan akses pendidikan, hinggatekanan psikologis akibat pengalaman traumatis. Wakil Ketua Komisi Perlindungan AnakIndonesia (KPAI), Jasra Putra, menegaskan bahwa pemulihan mental dan sosial anak harusditempatkan sebagai prioritas utama dalam penanganan bencana, karena trauma yang tidaktertangani berpotensi menghambat perkembangan kognitif dan emosional anak dalam jangkapanjang. Pendekatan trauma healing yang didorong KPAI menempatkan anak bukan hanya sebagaikorban, tetapi sebagai subjek pemulihan yang aktif. Melalui konsep eco-healing, anak-anakdiajak berinteraksi kembali dengan lingkungan secara positif. Pendekatan ini menggabungkanpemulihan psikologis dengan edukasi ekologi, sehingga anak tidak tumbuh dengan rasa takutterhadap alam, melainkan dengan kesadaran untuk menjaga keseimbangan lingkungan. Dalampraktiknya, material sisa bencana dimanfaatkan sebagai sarana ekspresi kreatif, seperti karya seniatau fasilitas belajar sederhana, yang membantu anak memaknai ulang pengalaman traumatissecara konstruktif. Lebih jauh, eco-healing juga diarahkan untuk membangun resiliensi jangka panjang denganmengintegrasikan kearifan lokal. Pelibatan tokoh adat seperti Ninik Mamak di Sumatra Barat dan Tuha Peuet di...
- Advertisement -

Baca berita yang ini