Jauh Sebelum Pandemi Covid-19, Kovid Ternyata Sudah Lahir di India

Baca Juga

MATA INDONESIA, NEW DELHI Nama adalah sebuah doa dan bentuk harapan orang tua terhadap anaknya. Namun, tidak sedikit orang tua yang beranggapan ‘apalah arti sebuah nama’.

Seperti pendiri start-up travel di India yang namanya kini menjadi sensasi di dunia maya. Bagaimana tidak, nama pria tersebut bak virus yang telah menelan jutaan jiwa di seluruh dunia itu, Covid-19.

Eits, tentu saja namanya bukan Covid-19, melainkan Kovid Kapoor. Dalam profil di akun Twitter-nya, pria berusia 31 tahun itu menulis: “Nama saya Kovid dan saya bukan virus.”

Kovid mengunggahnya pekan ini bahwa ia telah melakukan perjalanan ke luar India untuk yang pertama kalinya sejak awal pandemi. Dan ia mengaku banyak orang yang terhibur dengan namanya.

“Perjalanan ke luar negeri di masa depan akan menyenangkan!” tulis Kovid di akun Twitter-nya yang telah disukai 40.000 kali dan menerima 4.000 retweet, melansir Arab News.

Kicauan Kovid itu pun memicu berbagai candaan, meme, pesan, dan bahkan permintaan wawancara. Pria itu juga menyatakan bahwa ia telah “positif Kovid sejak 1990” dan memposting gambar memegang sebotol bir Corona.

“Saya Kovid yang menginginkan lebih banyak perjalanan,” ucap co-founder Holidify.

Lonjakan perhatian, khususnya di dunia maya yang terjadi secara tiba-tiba ini membuatnya tak percaya. Namun, ia berharap itu akan membawa berkah untuk bisnis travelnya selama masa sulit ini.

Kovid itu menceritakan bahwa sejak awal pandemi, ia meminta kepada staf kedai kopi untuk tidak memanggil namanya ketika pesanan minumannya telah selesai.

Nama Kovid sebenarnya tidak umum di India. Namun, memiliki makna seorang sarjana atau individu terpelajar dalam bahasa Hindi dan Sansekerta, dengan ‘d’ diucapkan dengan penekanan yang sangat lembut.

Sang ibu mengaku bahwa Kovid adalah nama yang ia berikan, bahkan sebelum melahirkan putranya.

“Itu adalah nama yang mudah diingat dengan makna yang indah. Itu membuat perkenalan yang mencolok dengan siapa pun. Saya tidak akan pernah mengubahnya,” katanya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Teknologi dan Infrastruktur Air Menjadi Andalan Menghadapi Tantangan Kemarau

Oleh: Rendra Fathian )*Pemerintah terus memperkuat berbagai langkah antisipatif dalammenghadapi musim kemarau 2026 yang diperkirakan berlangsung lebihkering dibandingkan kondisi normal. Tantangan perubahan iklim dan potensi fenomena El Nino mendorong pemerintah untuk mengedepankanpemanfaatan teknologi serta penguatan infrastruktur air sebagaiinstrumen utama dalam menjaga ketahanan masyarakat, keberlanjutansektor pertanian, dan stabilitas pembangunan nasional.Upaya pemerintah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanyaberfokus pada penanganan dampak setelah bencana terjadi, tetapi juga menempatkan mitigasi sebagai bagian penting dari strategi pembangunan. Pendekatan yang berbasis data, teknologi, dan koordinasilintas sektor menjadi fondasi untuk memastikan masyarakat dapatmenghadapi musim kemarau dengan kesiapan yang lebih baik.Peringatan mengenai potensi kemarau yang lebih kering telahdisampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa Indonesia berpotensi mengalami fenomena El Nino pada tahun 2026. Prediksitersebut telah disampaikan sejak Maret 2026 dan kemudian diperkuatoleh informasi yang dirilis Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada awal Juni 2026.Menurut Faisal, El Nino dan musim kemarau merupakan dua fenomenayang berbeda, namun keduanya dapat memengaruhi kondisi curah hujandi berbagai wilayah Indonesia. Hasil pemantauan BMKG hingga akhir Mei menunjukkan indeks ENSO telah mencapai angka yang mengindikasikankondisi El Nino, sementara sebagian wilayah Indonesia telah memasukimusim kemarau.Pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan risiko iklim menjadi salah satukekuatan yang dimiliki Indonesia saat ini. Dukungan data dari BMKG, pemantauan satelit, serta sistem peringatan dini memungkinkanpemerintah daerah dan berbagai instansi terkait mengambil keputusanberdasarkan kondisi aktual di lapangan. Pendekatan ini jauh lebih efektifdibandingkan mengandalkan respons setelah dampak kekeringan mulaidirasakan masyarakat.Di Jawa Barat, misalnya,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini