Miris! Atlet Penyumbang Emas di PON Papua Dijemput Pulang dengan Angkutan Umum

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Jagat maya dihebohkan oleh nasib seorang atlet selam, Dhea Nazhira Nuramalina yang memboyong medali emas di PON Papua. Atlet berusia 17 tahun itu disebut-sebut dijemput hanya dengan angkutan umum usai pulang bertanding di Papua.

Videonya viral di sosial media dan turut diunggah channel YouTube, Rully Alwas Yogiswara. Dalam video itu, terlihat Dhea melanjutkan perjalanan menuju rumahnya dengan menumpang bus umum setelah mendarat di Bandara Husein Sastranegara, Bandung, pada Selasa 12 Oktober 2021.

Dhea yang mengenakan pakaian santai berwarna krim, turun di pinggir jalan dengan sejumlah barang bawaannya yang cukup banyak. Ada dua koper besar, kotak berisi boneka besar, serta beberapa tas yang cukup besar. 

Terlihat suasana penjemputan Dhea yang hanya dihadiri oleh keluarga dan satu orang polisi berpakaian dinas. Polisi itulah yang membantu menurunkan koper dan barang-barang bawaan Dhea setelah turun dari bus. 

Tak hanya itu, Atlet yang mengharumkan nama Jawa Barat itu lalu menumpang mobil Humas Polres Ciamis untuk menuju rumahnya. Para polisi tersebut turut mebantu membawakan barang-barang Dhea.

Meski hanya disambut sederhana, Dhea pun tetap menebarkan senyuman. Ia juga turut memperlihatkan medali emas yang ia berhasil raih.

Lebih lanjut, para atlet asal Ciamis yang ikut berlaga di PON XX Papua mewakili Jawa Barat, berhasil mendapat tujuh emas, empat perak, dan empat perunggu. Medali emas tersebut turut diperoleh oleh Dhea sebagai atlet selam.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Employment from the Village: Koperasi Merah Putih dan Ekonomi Kerakyatan

Oleh : Pratama Dika SaputraGagasan membangun ekonomi nasional dari desa kembali menemukan momentumnya melalui program Koperasi Merah Putih yang digagas pemerintah. Dalam konteks ketimpanganpembangunan yang masih menjadi pekerjaan rumah, pendekatan berbasis desa menjadi strategi yang tidak hanya relevan, tetapi juga mendesak. Desa bukan lagi dipandang sebagai objek pembangunan semata, melainkan sebagai subjek utama yang memiliki potensi besar dalammenciptakan lapangan kerja, memperkuat ketahanan ekonomi, serta mendorong kemandirian nasional. Program Koperasi Merah Putih menjadi representasi nyata dari upaya tersebut, denganorientasi pada penciptaan employment from the village yang berbasis ekonomi kerakyatan.Target ambisius pemerintah untuk membangun lebih dari 25 ribu koperasi dalam waktu singkatmencerminkan keseriusan dalam mengakselerasi pembangunan ekonomi berbasis komunitas. Presiden Prabowo Subianto menilai bahwa koperasi harus menjadi institusi ekonomi yang nyata, bukan sekadar formalitas administratif. Oleh karena itu, koperasi dirancang memiliki fasilitaslengkap seperti gudang, alat pendingin, hingga kendaraan distribusi agar mampu beroperasisecara efektif dan efisien. Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya berfokuspada kuantitas, tetapi juga kualitas kelembagaan yang mampu menjawab kebutuhan riilmasyarakat desa.Kehadiran koperasi sebagai agregator ekonomi desa memiliki implikasi besar terhadappenciptaan lapangan kerja. Dengan memotong rantai distribusi yang panjang, koperasi dapatmeningkatkan nilai tambah produk lokal sekaligus membuka peluang kerja baru di sektorlogistik, pengolahan, hingga pemasaran. Model ini memungkinkan masyarakat desa untuk tidaklagi bergantung pada pusat-pusat ekonomi di kota, melainkan menciptakan ekosistem ekonomiyang mandiri di wilayahnya sendiri. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi menekanurbanisasi serta mengurangi kesenjangan ekonomi antarwilayah.Lebih jauh, Koperasi Merah Putih juga dirancang sebagai solusi terhadap persoalan klasik yang dihadapi petani dan nelayan, yakni keterbatasan akses pasar dan pembiayaan. Dengan adanyalayanan simpan pinjam, distribusi pupuk, hingga fasilitas penyimpanan seperti cold storage, koperasi dapat menjadi tulang punggung bagi sektor produktif di desa. Hal ini sejalan denganupaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional, yang sangatbergantung pada optimalisasi potensi daerah.Namun demikian, skala besar program ini juga menghadirkan tantangan yang tidak kecil. Direktur Eksekutif INDEF Esther Sri Astuti mengingatkan bahwa keberhasilan koperasi sangatditentukan oleh kualitas sumber daya manusia dan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini