Pemimpin Hong Kong Dapat Kiriman Silet, Disantet?

Baca Juga

MATA INDONESIA, HONG KONG – Kepala Eksekutif Hong Kong, Carrie Lam mendapat surat bernada ancaman dan silet. Pemerintah menegaskan bahwa pihaknya tidak akan mentolerir tindakan intimidasi seperti itu.

Surat mengintimidasi tersebut ditemukan dalam tumpukan surat selama pemeriksaan rutin di kantornya dan ditujukan langsung untuknya. Media lokal melaporkan bahwa pihak kepolisian telah mengambil surat tersebut untuk penyelidikan lebih lanjut.

“Hong Kong adalah masyarakat yang mematuhi aturan hukum. Itu tidak akan mentolerir tindakan ilegal seperti kekerasan dan intimidasi,” bunyi pernyataan itu, melansir The News.co.uk.

“Jika cara yang melanggar hukum digunakan dengan tujuan untuk memberikan pengaruh pada pelaksanaan tugas seorang perwira, tidak peduli apakah itu melibatkan Kepala Eksekutif atau pejabat publik lainnya, Pemerintah Daerah Administratif Khusus Hong Kong akan menangani kasus ini dengan serius dan tidak berusaha keras dalam membawa pelakunya ke pengadilan untuk menjaga keamanan petugas publik dan perdamaian publik,” tutur juru bicara tersebut.

Pernyataan itu tidak memberikan informasi lebih lanjut mengenai isi surat tersebut. Namun, menurut laporan South China Morning Post, surat itu berisi pesan politik dan terdapat silet.

Insiden itu terjadi ketika Hong Kong bergulat dengan represi politik sebagai akibat dari Undang-Undang Keamanan Nasional yang kontroversial dan tindakan keras terhadap kritikus Cina.

Kota ini telah menyaksikan perjuangan sengit antara suara-suara pro-demokrasi dan pemerintah Lam yang telah memperketat kontrol Cina.

Undang-Undang itu telah memicu protes luas di negara itu. Ini telah digunakan untuk menangkap aktivis dan jurnalis oleh pemerintah yang mengutip keamanan nasional, meskipun ada kecaman global.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Aksi OPM Merusak Pendidikan dan Menghambat Kemajuan Papua

Oleh: Petrus Pekei* Papua adalah tanah harapan, tempat masa depan generasi muda bertumbuh melalui pendidikan, kerja keras, dan persaudaraan. Setiap upaya yang mengganggu ketenangan dan merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat Papua sejatinya berseberangan dengan cita-citabesar tersebut. Karena itu, penguatan narasi damai dan dukungan terhadap kehadiran negara menjadi energi utama untuk memastikan Papua terus melangkah maju. Di tengah dinamikakeamanan, bangsa ini menunjukkan keteguhan sikap bahwa keselamatan warga sipil, keberlanjutan pendidikan, dan pembangunan berkeadilan adalah prioritas yang tidak dapatditawar. Peristiwa kekerasan yang menimpa pekerja pembangunan fasilitas pendidikan di Yahukimomenggugah solidaritas nasional. Respons publik yang luas memperlihatkan kesadarankolektif bahwa pendidikan adalah fondasi masa depan Papua. Sekolah bukan sekadarbangunan, melainkan simbol harapan, jembatan menuju kesejahteraan, dan ruang aman bagianak-anak Papua untuk bermimpi. Ketika ruang ini dilindungi bersama, optimisme tumbuhdan kepercayaan terhadap masa depan kian menguat. Dukungan masyarakat terhadap langkahtegas aparat keamanan merupakan bentuk kepercayaan pada negara untuk memastikan rasa aman hadir nyata hingga ke pelosok. Narasi persatuan semakin kokoh ketika tokoh-tokoh masyarakat Papua menyampaikanpandangan yang menyejukkan. Sekretaris Jenderal DPP Barisan Merah Putih Republik Indonesia, Ali Kabiay, menegaskan pentingnya perlindungan warga sipil dan keberlanjutanpembangunan, khususnya pendidikan. Pandangannya menekankan bahwa stabilitas adalahprasyarat utama bagi kesejahteraan, dan negara perlu bertindak tegas serta terukur agar ketenangan sosial terjaga. Ajakan kepada masyarakat untuk tetap waspada, memperkuatkomunikasi dengan aparat, dan menolak provokasi menjadi penopang kuat bagi ketertibanbersama. Sikap serupa juga disuarakan oleh...
- Advertisement -

Baca berita yang ini