MATA INDONESIA, BRAZZAVILLE – Seorang jurnalis muda yang bekerja untuk Radio dan Televisi Nasional Kongo (RTNC) yang dikelola negara di Republik Demokratik Kongo (DRC) meninggal dunia dengan luka siksaan di sekujur badan.
Heritier Magayane yang baru berusia 26 itu meninggal dunia di lingkungan Bunyangula, sekitar 70 km (43 mil) dari kota Goma di wilayah Rutshuru provinsi Kivu Utara, kata Luc Albert Bakole Nyengeke yang merupakan seorang administrator militer di wilayah Rutshuru kepada wartawan.
Diceritakan bahwa Magayene menerima panggilan telepon dari seseorang yang meminta untuk bertemu dengannya. Setelah berada di tempat yang disepakati, Magayene terbunuh, kata Nyengeke.
Berdasarkan sebuah penyelidikan, Nyengeke mengatakan bahwa para pembunuh belum diidentifikasi. Ia meyakini bahwa milisi bersenjata yang beroperasi di daerah itu adalah tersangka utama dalam kasus pembunuhan sang jurnalis, seperti dilansir Anadolu Agency.
Mantan rekan Magayene, Roger Sebyeradu mengisahkan bahwa temannya adalah sosok yang hangat dan penuh kasih. Magayene bahkan turut menyelenggarakan program untuk kaum muda, menasihati mereka untuk merangkul perdamaian dalam menghadapi ketidakamanan di wilayah tersebut.
Namun, kebaikan hati Magayene tampaknya mengusik pihak lain yang justru menginginkan sebaliknya. Sebyeradu yakin bahwa pembunuhan itu terkait dengan pekerjaan jurnalistiknya karena stasiun radio melaporkan kasus penculikan. Ia menambahkan bahwa tubuh Magayene penuh dengan luka siksaan dan tikaman.
Untuk diketahui, Republik Demokratik Kongo diwarnai oleh kekerasan dan ketidakamanan selama bertahun-tahun yang mengakibatkan kemiskinan serta kelaparan yang meluas. Negara ini juga sering mengalami wabah penyakit mematikan, termasuk gelombang virus Ebola, yang kini diperumit oleh pandemi virus corona.
Sementara situasi di wilayah timur negara ini, khususnya di provinsi Kivu Utara, Kivu Selatan, dan Ituri, tak jauh berbeda, ya sangat tidak stabil! Dengan bentrokan antar kelompok bersenjata yang memperebutkan wilayah dan sumber daya alam.
Sedangkan warga sipil dipaksa menanggung beban konflik, dengan ribuan orang kehilangan nyawa dalam beberapa tahun terakhir dan sisanya mengalami kelaparan.
Milisi Pasukan Demokrat Sekutu (ADF), salah satu dari beberapa kelompok bersenjata di kawasan itu, telah aktif sejak tahun 1990-an. Mereka telah melakukan beberapa serangan terhadap pasukan keamanan dan Misi Stabilisasi Organisasi PBB di Republik Demokratik Kongo (MONUSCO) sejak 2010.