Cina Belum Memberikan Izin Masuk untuk Tim Penyidik WHO

Baca Juga

MATA INDONESIA, INTERNASIONAL – Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengaku kecewa karena Cina masih belum mengizinkan masuknya tim ahli internasional untuk memeriksa asal-usul virus corona.

Tim yang beranggotakan 10 orang itu dijadwalkan berangkat awal Januari sebagai bagian dari misi yang telah lama ditunggu. Tim dari WHO ini rencananya akan menyelidiki kasus awal virus corona yang pertama kali dilaporkan di kota Wuhan, Cina, tahun lalu.

“Hari ini kami mengetahui bahwa pejabat Cina belum menyelesaikan izin yang diperlukan untuk kedatangan tim kami di Cina,” kata Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam konferensi pers yang diadakan secara online di Jenewa.

“Saya telah melakukan kontak dengan pejabat senior Cina dan saya sekali lagi menegaskan bahwa misi kami adalah prioritas WHO,” sambungnya, melansir Reuters, Rabu, 6 Januari 2021.

Misi tersebut akan dipimpin oleh Peter Ben Embarek, ahli penyakit hewan yang melintasi batas spesies, yang pergi ke Cina dalam misi pendahuluan pada Juli. Kepala Darurat, Mike Ryan melaporkan bahwa dua anggota tim internasional telah memulai perjalanan ke Cina. Satu orang telah kembali, sedangkan satu lainnya transit di negara ketiga.

“Kami percaya dan berharap ini hanyalah masalah logistik dan birokrasi yang dapat diselesaikan dengan sangat cepat,” sambungnya.

Menjelang kedatangan tim penyelidik WHO, Beijing justru berusaha membentuk narasi tentang kapan dan di mana pandemi dimulai, dengan diplomat senior Wang Yi mengatakan “semakin banyak penelitian menunjukkan bahwa itu muncul di berbagai wilayah.”

Cina telah menepis kritik atas penanganan kasus awal yang muncul akhir 2019, meskipun beberapa termasuk Presiden Amerika Serikat, Donald Trump telah mempertanyakan tindakan Beijing selama wabah tersebut.

Washington, yang telah mengumumkan rencana untuk keluar dari WHO, telah menyerukan penyelidikan transparan dan mengkritik persyaratannya di mana para ahli Cina melakukan penelitian tahap pertama.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Aksi OPM Merusak Pendidikan dan Menghambat Kemajuan Papua

Oleh: Petrus Pekei* Papua adalah tanah harapan, tempat masa depan generasi muda bertumbuh melalui pendidikan, kerja keras, dan persaudaraan. Setiap upaya yang mengganggu ketenangan dan merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat Papua sejatinya berseberangan dengan cita-citabesar tersebut. Karena itu, penguatan narasi damai dan dukungan terhadap kehadiran negara menjadi energi utama untuk memastikan Papua terus melangkah maju. Di tengah dinamikakeamanan, bangsa ini menunjukkan keteguhan sikap bahwa keselamatan warga sipil, keberlanjutan pendidikan, dan pembangunan berkeadilan adalah prioritas yang tidak dapatditawar. Peristiwa kekerasan yang menimpa pekerja pembangunan fasilitas pendidikan di Yahukimomenggugah solidaritas nasional. Respons publik yang luas memperlihatkan kesadarankolektif bahwa pendidikan adalah fondasi masa depan Papua. Sekolah bukan sekadarbangunan, melainkan simbol harapan, jembatan menuju kesejahteraan, dan ruang aman bagianak-anak Papua untuk bermimpi. Ketika ruang ini dilindungi bersama, optimisme tumbuhdan kepercayaan terhadap masa depan kian menguat. Dukungan masyarakat terhadap langkahtegas aparat keamanan merupakan bentuk kepercayaan pada negara untuk memastikan rasa aman hadir nyata hingga ke pelosok. Narasi persatuan semakin kokoh ketika tokoh-tokoh masyarakat Papua menyampaikanpandangan yang menyejukkan. Sekretaris Jenderal DPP Barisan Merah Putih Republik Indonesia, Ali Kabiay, menegaskan pentingnya perlindungan warga sipil dan keberlanjutanpembangunan, khususnya pendidikan. Pandangannya menekankan bahwa stabilitas adalahprasyarat utama bagi kesejahteraan, dan negara perlu bertindak tegas serta terukur agar ketenangan sosial terjaga. Ajakan kepada masyarakat untuk tetap waspada, memperkuatkomunikasi dengan aparat, dan menolak provokasi menjadi penopang kuat bagi ketertibanbersama. Sikap serupa juga disuarakan oleh...
- Advertisement -

Baca berita yang ini