Bupati TTU Buka Pameran Pembangunan dan Festival Budaya Satu Abad Kota Kefamenanu

Baca Juga

MATA INDONESIA, KEFAMENANU – Bupati TTU Juandi David resmi membuka kegiatan pameran pembangunan, Festival Budaya Biinmaffo dan TTU EXPO Tahun 2022 dalam rangka memperingati HUT Kota Kefamenanu yang ke-100 atau 1 abad yang di gelar di lapangan oemanu depan kantor Bupati TTU.

Dalam sambutannya, Bupati mengajak seluruh masyarakat Kabupaten TTU untuk bersyukur karena dalam bimbingan dan penyertaan Tuhan, Kota Kefamenanu akhirnya akan mencapai usia 1 abad pada tanggal 22 September mendatang.

“Untuk mengenang peristiwa bersejarah tersebut, kita mengisinya dengan aneka kegiatan kreatif dan rekreatif, sejak acara pembukaan yang gegap gempita sore hari ini,” ujarnya Sabtu 10 September 2022.

Juandi mengungkapkan selama dua belas hari ke depan akan menyedot perhatian seluruh warga Biinmaffo hal itu lantaran Ibu Kota Kabupaten TTU sedang merayakan HUT yang ke-100 tahun.

“Suatu usia yang menurut ukuran manusia sudah tergolong MANULA (manusia lanjut usia),sudah kakek-kakek, sudah nenek-nenek,” katanya.

Juandi menambahkan bahwa lapangan Oemanu juga tampak seperti sebuah pemukiman baru lintas etnis, menampilkan beragam kekayaan kultur dan kreasi yang membuat pusat Ibu kota TTU.

“Kita hendak menunjukkan kepada dunia, betapa besar cinta dan perhatian kita, terhadap ‘Sang mama’ dari Kota ini, yang selama sepuluh dasawarsa telah dengan penuh perhatian membesarkan setiap anak Biinmaffo termasuk juga etnis-etnis di Indonesia yang berdomisili di Kabupaten Timor Tengah Utara sehingga dapat bertumbuh menjadi manusia yang sungguh membanggakan,” ujarnya.

Adapun rangkaian acara ini mengusung tema “Dengan Semangat Nekaf Mese Ansaof Mese,Kita Bangkit Menuju Masyarakat Sejahtera, Adil dan Mandiri; Kefamenanu Untuk Indonesia”.

Kontributor TTU: Emanuel Taena

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Ramadan: Menanam Benih Toleransi, Menggugurkan Akar Radikalisme

Oleh: Juana Syahril)* Bulan Ramadan tidak hanya menjadi momentum ibadah spiritual bagi umat Islam, tetapi juga ruang refleksi untuk memperkuat nilai-nilai sosial seperti toleransi dan pengendalian diri. Di tengah meningkatnya polarisasi di era digital, semangatRamadan dapat menjadi fondasi penting untuk mencegah berkembangnya pahamradikalisme dalam masyarakat. Anggota Komisi Perempuan Remaja, dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia (MUI), Rabicha Hilma Jabar Sasmita mengatakan bahwa toleransi beragama di Indonesia pada dasarnya bukanlah sesuatu yang baru. Sejak lama masyarakatIndonesia telah hidup dalam keberagaman dan mampu menjalin kehidupan sosialyang harmonis. Keberagaman suku, agama, dan budaya menjadi bagian dariwarisan peradaban yang telah membentuk karakter masyarakat Nusantara. Dalam pandangannya, kehidupan masyarakat Indonesia sejak dahulu telahmencerminkan praktik toleransi yang kuat. Masyarakat terbiasa hidup berdampinganmeskipun memiliki latar belakang keyakinan yang berbeda. Tradisi tersebut juga sejalan dengan nilai-nilai keislaman yang memandang keberagaman sebagai bagiandari kehendak Tuhan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini