Vasily Grossman, Jurnalis yang Ditangkap KGB karena Karyanya yang Berjudul “Life and Fate” Menimbulkan Kontroversi di Rusia

Baca Juga

MATA INDONESIA, MOSKOW – Vasily Grossman, seorang penulis sekaligus jurnalis yang bekerja pada surat kabar militer Soviet Krasnaya Zvezda.

Ia menghabiskan sekitar 1.000 hari berada di garis depan dalam peperangan antara Jerman dan Uni Soviet. Grossman juga merupakan salah satu jurnalis pertama yang menulis tentang peristiwa genosida yang terjadi di Eropa Timur dan hadir di banyak pertempuran bersejarah Soviet.

Hadir di Pertempuran Stalingrad, Grossman adalah salah satu outsider pertama yang menyaksikan kekejaman Nazi di kamp-kamp pemusnahan mereka. Ia juga berani melakukan konfrontasi beberapa kali atas dasar kepercayaan Yahudi dan fakta bahwa ibunya sendiri yang terbunuh oleh Nazi.

Grossman menulis segalanya di karyanya yang berjudul “The Hell of Treblinka”, yang kemudian ia bacakan dalam Pengadilan Nuremberg untuk mengadili para pelaku tindakan busuk itu.

Namun naas, pada bulan Juni 1941, Jerman meluncurkan invasi yang menghancurkan Uni Soviet dalam skala yang sangat besar. Sehingga pengadilannya tersebut tidak berjalan. Selain “The Hell of Treblinka”, ada pula bukunya yang berjudul “Life and Fate” yang kemudian menjadi buku paling kontroversial di Rusia pada masanya.

Ia menulis Life and Fate pada tahun 1950-an dan publikasi di majalah Znamya sekitar Oktober 1960. Sesaat setelah publish, KGB langsung menggerebek apartemennya. KGB mengambil manuskrip dan buku catatan, serta segala salinan/tulisan yang ada.

Karena hal itu, karyanya tersebut akhirnya bisa terbit setelah mengalami banyak sensor. Ada rumor yang mengatakan bahwa Stalin yang membaca sendiri setiap halaman buku tersebut sebelum terbit. Sebagai jurnalis perang pada masa itu, Vasily Grossman menyaksikan segalanya lebih dari apa yang ia tulis.

Sebagian besar peristiwa Life and Fate terjadi di Uni Soviet selama akhir musim gugur dan musim dingin tahun 1942 sampai 1943. Jerman yang mengepung kota saat itu ingin mencoba menaklukkannya. Ada berbagai referensi mengenai kota yang perlahan membusuk dan kerusakan dari pengeboman udara serta artileri yang berbasis di sekitar kota.

Banyak pula karakter di buku tersebut yang gambarannya menderita kelaparan dan kehausan. Buku ini kemudian berakhir dengan penyerahan sisa-sisa Angkatan Darat ke-6 panglima perang Jerman Friedrich Paulus dan kembalinya warga sipil ke kota.

Tokoh-tokoh di bukunya merupakan gabungan antara tokoh fiksi dan tokoh sejarah. Tokoh-tokoh sejarah termasuk Joseph Stalin dan Adolf Hitler. Banyak karakter berdasarkan pada tokoh sejarah terutama tokoh-tokoh yang ada di Rusia.

Dalam tulisannya, Vasily Grossman memberikan pengalaman yang sangat berbeda dari peristiwa perang yang biasanya ia ceritakan melalui penggambaran umum kehidupan kota. Ia menyoroti pemerintahan yang totaliter, serta perasaan terisolasi yang ekstrem. Baik dari pemerintah, politik, maupun birokrasi. Di buku ini, ia lebih fokus pada persepsi individu yang realistis sebagai korban dari peperangan tersebut. Sudut pandang keluarga, kekasih, teman, hingga “kampung halaman” menjadi inti dari nilai buku ini.

Vasily Grossman berusaha untuk memisahkan arti sebenarnya tentang perang dan ideologi yang mengaturnya. Selain itu, perasaan dan emosi mereka yang tertindas mengakibatkan kerusakan hubungan antar sesama dan trauma secara mental yang berkepanjangan. Dan semua hal itu murni karena kekacauan perang.

Perang betul-betul menelan habis seluruh pihak yang terlibat. Hal ini seringkali sebagai solusi alternatif untuk meninggalkan realita buruk yang ada sebelumnya. Selain menimbulkan resiko kematian yang pahit, perang juga memberikan sedikit kebebasan berdemokrasi dan pelarian diri bagi ketidakadilan. Hal ini kemudian menimbulkan kecenderungan bagi individu yang terlibat. Kecenderungan untuk menyerah dan menjadi korban atau terus bertahan dan menjadi pahlawan.

Penulis: Keshatita

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Pemerintah Bangun IKN Dengan Tetap Memberdayakan Masyarakat Lokal

Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur bukan hanya tentang memindahkan pusat pemerintahan, tapi juga tentang membangun masa...
- Advertisement -

Baca berita yang ini