Rakus! Wanita di Inggris Ini Miliki Kebiasaan Unik Konsumsi Bedak Bayi

Baca Juga

MATA INDONESIA, INTERNASIONAL – Seorang wanita asal Inggris bernama Lisa Anderson secara diam-diam memiliki kebiasaan tak wajar, yaitu menyantap bedak bayi. Kebiasaan ini diketahui oleh mantan rekannya pada saat menerobos ke kamar mandi dan menemukan Lisa sedang melakukan kebiasaan anehnya tersebut.

Lisa mengatakan bahwa gejala ini muncul pertama kali saat setelah ia melahirkan putra kelimanya, yaitu 15 tahun yang lalu. Pada saat itu Lisa seperti biasa menaburkan bedak bayi pada anaknya yang usai dimandikan.

“Suatu hari saya ingat berada di kamar mandi dan baunya menyengat. Ada sedikit debu yang keluar dari bagian atas botol. Tiba-tiba saya memiliki keinginan untuk memakannya dan saya tidak bisa melawannya. Saya hanya menjilatnya dari tangan saya dan benar-benar menikmatinya”, ujar Lisa sebagaimana dikutip dari Fox News.

Sejak saat itu kecanduan Lisa akan bedak bayi tidak dapat dielakkan. Lisa mengaku tidak bisa menahan untuk tidak menyantap bedak bayi lebih dari 30 menit. Saat di depan umum, Lisa berusaha mengalihkan hasratnya tersebut dengan mengunyah permen mint.

“Yang terlama saya tanpanya (mengonsumsi bedak bayi) adalah dua hari. Dan itu adalah waktu terburuk dalam hidup saya. Saya benci itu”, ujarnya.

Lisa menghabiskan uang sebesar 13 dolar AS atau sekitar Rp 170-an ribu per minggunya untuk membeli berbotol-botol bedak bayi demi memenuhi kebiasaannya tersebut. Saat ini Lisa tengah mencari bantuan profesional agar kebiasaan anehnya ini dapat teratasi.

Mulanya, Lisa terlebih dahulu sudah mengalami depresi dan kecemasan. Sehingga sebuah diagnosis mengatakan bahwa ia menderita pica, yakni gangguan makan yang ditunjukkan dengan perilaku senantiasa memakan makanan yang tak layak, seperti debu, rambut, logam, kerikil, abu, tanah liat dan lain sebagainya.

Gangguan kesehatan mental seperti skizofrenia atau autisme dapat menjadi resiko dari pica. Tak hanya itu, penderitanya juga dapat terkena anemia defisiensi besi dan kekurangan gizi.

Lisa sekarang sedang mencari waktu untuk menemui terapis agar memperoleh diagnosis formal akan kebiasaannya tersebut. Ia ingin mengatakan kepada semua orang yang memiliki kebiasaan aneh seperti dirinya bahwa sesungguhnya mereka tidak sendiri.

“Saya menghabiskan waktu bertahun-tahun tanpa mengetahui apa yang sedang dan akan terjadi. Tetapi ternyata itu adalah suatu kondisi. Dan saya hanya ingin memberi tahu orang lain bahwa mereka tidak sendirian”, ucap Lisa.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Koperasi Merah Putih dan Pemerataan Manfaat APBN bagi Rakyat

Oleh : Siti Fatimah Rahma*Kehadiran Koperasi Desa Merah Putih menjadi salah satu terobosan strategis dalam memperkuatpemerataan manfaat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga ke tingkat akarrumput. Dalam konteks pembangunan nasional, tantangan utama bukan semata pada besarnyaalokasi anggaran, melainkan pada efektivitas distribusi dan dampaknya terhadap kesejahteraanmasyarakat. Oleh karena itu, pendekatan berbasis desa melalui koperasi menjadi instrumenpenting untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan negara benar-benar dirasakanoleh rakyat secara langsung, merata, dan berkelanjutan.Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa skema pembiayaan KoperasiMerah Putih dirancang secara hati-hati agar tidak membebani APBN secara berlebihan. Ia menjelaskan bahwa meskipun sebagian dana bersumber dari alokasi dana desa, kebijakan initetap memberikan nilai tambah karena mendorong efisiensi ekonomi di tingkat lokal. Pendekatanini memperlihatkan bahwa pengelolaan fiskal tidak hanya berorientasi pada pengeluaran, tetapijuga pada penciptaan manfaat jangka panjang yang dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional.Lebih lanjut, Purbaya memaparkan bahwa kondisi fiskal tetap terjaga seiring denganmeningkatnya pendapatan negara, terutama dari sektor komoditas seperti batu bara dan minyak. Hal ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk melakukan akselerasi belanja di awal tahunsebagai strategi mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Dengan demikian, percepatan belanja tidak dipandang sebagai risiko, melainkan sebagai instrumen kebijakan untukmengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah.Dari sisi pembiayaan, penggunaan skema pinjaman melalui perbankan Himbara menjadi langkahinovatif untuk memitigasi risiko fiskal. Pemerintah tidak langsung menanggung beban besarsebagaimana dalam skema Penyertaan Modal...
- Advertisement -

Baca berita yang ini