Krisis LPG di Kupang: Alarm Rapuhnya Kemandirian Energi di Nusa Tenggara Timur

Baca Juga

Mata Indonesia, Kupang – Beberapa pekan terakhir, warga Kota Kupang mulai mengeluhkan sulitnya mendapatkan tabung LPG di pasaran.

Kelangkaan ini diikuti dengan lonjakan harga yang mencekik, memaksa warga mengantre panjang demi memenuhi kebutuhan dapur.

Meski sekilas tampak seperti kendala distribusi biasa, fenomena ini dinilai mengungkap borok lama, rapuhnya sistem ketahanan energi di daerah.

Kondisi ini dipicu oleh perpaduan faktor global dan lokal. Di tingkat global, ketegangan geopolitik di Timur Tengah terus mengguncang pasar energi dunia, mengingat Indonesia masih bergantung pada impor LPG.

Sementara di tingkat lokal, hambatan logistik seperti keterlambatan sandar kapal di pelabuhan dan terbatasnya titik pangkalan memperparah keadaan.

Menanggapi situasi ini, Founder Kenari.id – Kawan Energi Lestari, Teguh Takalapeta, angkat bicara. Menurutnya, ketergantungan NTT yang sangat tinggi terhadap pasokan energi dari luar wilayah adalah bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak kembali.

“Krisis LPG di Kupang ini seharusnya tidak hanya dilihat sebagai masalah teknis distribusi yang macet. Ini adalah alarm keras bahwa sistem energi kita di NTT sangat rentan karena 100 persen bergantung pada pasokan luar. Ketika rantai pasok global atau jalur logistik laut terganggu, rakyat kecil dan pelaku UMKM yang pertama kali tumbang,” ujar Teguh dalam keterangannya, Rabu 11 Maret 2026.

Ironi di Tengah Melimpahnya Potensi Lokal

Teguh menyayangkan kondisi ini mengingat NTT sebenarnya memiliki kekayaan sumber energi alternatif yang luar biasa.

Intensitas sinar matahari yang tinggi sepanjang tahun, potensi biomassa dari sektor pertanian, hingga limbah peternakan untuk biogas seharusnya bisa menjadi substitusi energi memasak di tingkat rumah tangga.

“Sangat ironis. Kita punya matahari yang berlimpah dan limbah ternak yang bisa diolah jadi biogas, tapi kita justru memilih untuk terus ‘disandera’ oleh fluktuasi harga LPG impor. Potensi lokal ini belum dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung kedaulatan energi di dapur warga,” tambah Teguh.

Langkah Strategis: Dari Transparansi hingga Kemandirian

Untuk mengatasi persoalan ini, diperlukan langkah konkret baik jangka pendek maupun jangka panjang.

Pertama, pemerintah daerah didorong untuk meningkatkan transparansi informasi mengenai stok dan harga resmi di tiap outlet guna mencegah aksi penimbunan dan permainan harga di tingkat pengecer.

Kedua, pentingnya penyediaan buffer stock atau cadangan energi daerah agar Kota Kupang tidak sepenuhnya bergantung pada ritme kedatangan kapal tangker. Namun, solusi yang paling fundamental adalah mulai mengalihkan ketergantungan ke energi berbasis komunitas.

“Solusi jangka panjangnya adalah energi terbarukan skala komunitas. Bayangkan jika desa-desa di NTT mampu menghasilkan energi sendiri dari biogas atau biomassa. Ini bukan soal teknologi canggih semata, tapi soal membangun ekonomi lokal dan menciptakan lapangan kerja baru bagi anak muda,” jelas Founder Kenari.id tersebut.

Peran Inovasi Generasi Muda

Teguh juga menekankan bahwa transformasi ini membutuhkan tangan dingin generasi muda.

Melalui inovasi teknologi sederhana dan kewirausahaan energi, anak muda NTT diharapkan mampu menjadi motor penggerak menuju kemandirian energi.

“Energi adalah fondasi kehidupan. Jika aksesnya tidak stabil, ekonomi rumah tangga pasti goyang. Krisis di Kupang ini jangan hanya jadi berita viral sesaat, tapi harus jadi titik balik bagi kita semua untuk membangun sistem energi yang lebih adil, mandiri, dan berkelanjutan bagi masyarakat NTT,” kata dia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Gunakan Drone Emprit, APMI Ajari Mahasiswa Cara Bedah Opini Publik Soal Sawit

Mata Indonesia - Asosiasi Planters Muda Indonesia (APMI) berkolaborasi dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) menggelar kegiatan "APMI Data Intelligence: Sentiment Analysis of Oil Palm".
- Advertisement -

Baca berita yang ini