Mengenang Pramoedya Ananta Toer dalam 7 Kutipan Abadi di Bumi Manusia

Baca Juga

MINEWS, JAKARTA – Pramoedya Ananta Toer telah meninggalkan kita semua pada 30 April 2006, tepat 13 tahun lalu. Ia telah menitipkan semangatnya yang tertuang dalam banyak karya untuk Indonesia.

Meski setengah hidupnya habis di penjara akibat kekejaman rezim, api Pram tak pernah padam. Dari balik jeruji besi, ia menciptakan buku karya terbaiknya yang diagung-agungkan bahkan di seluruh dunia. Ya, itulah Bumi Manusia, seri pertama dari Tetralogi Buru yang ditulis Pram ketika ia dipenjara oleh rezim Soeharto tanpa proses pengadilan.

Bumi Manusia pertama kali diterbitkan tahun 1980. Baru terbit, buku itu langsung dilarang oleh pemerintah. Banyak aktivis dan orang-orang pergerakan yang tergugah setelah membaca Bumi Manusia. Selain cerita penuh gejolak sang tokoh utama Minke, Pram juga menyusupkan pesan-pesan penting yang membangkitkan semangat para pembacanya.

Setidaknya, ada 7 kutipan paling terkenal dari buku Bumi Manusia:

1. “Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.”

2. “Kalau kemanusiaan tersinggung, semua orang berperasaan dan berpikiran waras ikut tersinggung, kecuali orang gila dan orang yang berjiwa kriminil, biar pun dia sarjana”

3. “Cerita tentang kesenangan selalu tidak menarik. Itu bukan cerita tentang manusia dan kehidupannya, tapi tentang surga, dan jelas tidak terjadi di atas bumi kita ini”

4. “Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri”

5. “Berterimakasihlah pada segala yang memberi kehidupan.”

6. “Duniaku bukan jabatan, pangkat, gaji, dan kecurangan. Duniaku bumi manusia dengan persoalannya.”

7. “Mereka membela apa yang menjadi haknya tanpa mengindahkan maut. Semua orang, sampai pun kanak-kanak!”

Berita Terbaru

Aksi OPM Merusak Pendidikan dan Menghambat Kemajuan Papua

Oleh: Petrus Pekei* Papua adalah tanah harapan, tempat masa depan generasi muda bertumbuh melalui pendidikan, kerja keras, dan persaudaraan. Setiap upaya yang mengganggu ketenangan dan merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat Papua sejatinya berseberangan dengan cita-citabesar tersebut. Karena itu, penguatan narasi damai dan dukungan terhadap kehadiran negara menjadi energi utama untuk memastikan Papua terus melangkah maju. Di tengah dinamikakeamanan, bangsa ini menunjukkan keteguhan sikap bahwa keselamatan warga sipil, keberlanjutan pendidikan, dan pembangunan berkeadilan adalah prioritas yang tidak dapatditawar. Peristiwa kekerasan yang menimpa pekerja pembangunan fasilitas pendidikan di Yahukimomenggugah solidaritas nasional. Respons publik yang luas memperlihatkan kesadarankolektif bahwa pendidikan adalah fondasi masa depan Papua. Sekolah bukan sekadarbangunan, melainkan simbol harapan, jembatan menuju kesejahteraan, dan ruang aman bagianak-anak Papua untuk bermimpi. Ketika ruang ini dilindungi bersama, optimisme tumbuhdan kepercayaan terhadap masa depan kian menguat. Dukungan masyarakat terhadap langkahtegas aparat keamanan merupakan bentuk kepercayaan pada negara untuk memastikan rasa aman hadir nyata hingga ke pelosok. Narasi persatuan semakin kokoh ketika tokoh-tokoh masyarakat Papua menyampaikanpandangan yang menyejukkan. Sekretaris Jenderal DPP Barisan Merah Putih Republik Indonesia, Ali Kabiay, menegaskan pentingnya perlindungan warga sipil dan keberlanjutanpembangunan, khususnya pendidikan. Pandangannya menekankan bahwa stabilitas adalahprasyarat utama bagi kesejahteraan, dan negara perlu bertindak tegas serta terukur agar ketenangan sosial terjaga. Ajakan kepada masyarakat untuk tetap waspada, memperkuatkomunikasi dengan aparat, dan menolak provokasi menjadi penopang kuat bagi ketertibanbersama. Sikap serupa juga disuarakan oleh...
- Advertisement -

Baca berita yang ini