Gus Sholah Wafat, Inilah Anak-anak Wahid Hasyim yang Berjasa Besar bagi Indonesia

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Nama Wahid Hasyim cukup harum di kalangan umat Muslim tanah air. Ia juga memiliki kontribusi besar bagi Indonesia. Maka tak heran dia digelari pahlawan nasional.

Semasa hidupnya, Wahid pernah menjabat sebagai menteri agama dalam kabinet Indonesia yang pertama. Ia juga tergabung dalam anggota BPUPKI, PPKI dan turut serta dalam perumusan sila pertama pancasila.

Namun, Wahid tak berumur panjang. Ia wafat di usia 38 tahun akibat insiden kecelakaan di Cimahi. Ia pergi saat sang istri, Nyai Solichah Wahid, sedang mengandung anak keenam mereka, Hasyim Wahid.

Meski tanpa didampingi sang ayah, keenam anak Wahid Hasyim tersebut tumbuh menjadi orang sukses dan berperan besar bagi kemajuan Indonesia.

Kini, tiga dari enam anak Wahid Hasyim telah tiada. Mereka adalah Abdurrahman Wahid, Aisyah Hamid Baidlowi dan Salahuddin Wahid. Seperti sang ayah, sebelum meninggal, ketiga anak Wahid ini pun pernah memegang peran besar dalam kemajuan negara.

Abdurrahman Wahid pernah menjadi Presiden Republik Indonesia yang ke-4, Aisyah Hamid Baidlowi adalah mantan anggota DPR, sedangkan Salahuddin Wahid pernah memegang jabatan sebagai Wakil Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. Lalu, siapa saja penerus Wahid Hasyim yang masih hidup? Berikut ulasannya.

1. Umar Wahid

Umar Wahid

Umar Wahid adalah anak ke-4 dari Wahid Hasyim. Berbeda dengan ketiga kakaknya yang cenderung memiliki kiprah di dunia politik, Umar lebih memilih terjun dalam bidang kesehatan. Meski demikian, Umar pernah tercatat menjadi anggota DPR RI pada tahun 2007 sampai 2009.

Setelah menyelesaikan pendidikan terakhirnya di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Umar memulai karir dengan menjadi Asisten ahli Bagian Paru FKUI di Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta. Hingga pada tahun 1975, Umar pun mulai resmi menjadi Dokter Spesialis Paru Rumah Sakit Pusat UPTB Pangkalpinang Bangka.

Dalam perjalanan karirnya, Umar pernah menjadi Direktur di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD). Pria kelahiran Jombang, 6 April 1945, ini bahkan pernah menjabat sebagai Ketua Tim Dokter Kepresidenan Republik Indonesia. Sedangkan dalam organisasi, ia pernah menjadi Ketua Dewan Penyantun PERSI pada tahun 2015 hingga 2018.

2. Lily Chodidjah Wahid

Lily Chodidjah Wahid

Sama seperti sang kakak, Aisyah Hamid Baidlowi, Lily juga sempat menduduki kursi DPR RI pada periode 2009-2014. Perempuan dari fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) mewakili Daerah Pilih (Dapil) Jawa Timur. Kala itu, ia ditempatkan di Komisi I DPR RI.

Belum menyelesaikan masa jabatannya, pada tahun 2013 Lily diberhentikan secara tidak adil karena dianggap terlalu kritis dalam menentang kenaikan BBM dan mendukung Panitia Khusus Hak Angket Bank Century. Selepasnya dari PKB, Lily pun berpindah partai ke Hanura.

3. Hasyim Wahid

Hasyim Wahid

Si bungsu ini memiliki nama yang sama dengan sang ayah dengan penempatan kata yang hanya dibalik saja. Pria yang kerap disapa Gus Iim ini merupakan salah satu tokoh Nahdlatul’ Ulama (NU).

Dalam pemerintahan, ia pernah menjabat di di Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Selain itu, ia juga pernah menjadi salah satu anggota dan pengurus dari PDI Perjuangan dan anggota YKPK (Yayasan Keluarga Pembina Kesatuan). (Marizke)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Koperasi Merah Putih dan Pemerataan Manfaat APBN bagi Rakyat

Oleh : Siti Fatimah Rahma*Kehadiran Koperasi Desa Merah Putih menjadi salah satu terobosan strategis dalam memperkuatpemerataan manfaat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga ke tingkat akarrumput. Dalam konteks pembangunan nasional, tantangan utama bukan semata pada besarnyaalokasi anggaran, melainkan pada efektivitas distribusi dan dampaknya terhadap kesejahteraanmasyarakat. Oleh karena itu, pendekatan berbasis desa melalui koperasi menjadi instrumenpenting untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan negara benar-benar dirasakanoleh rakyat secara langsung, merata, dan berkelanjutan.Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa skema pembiayaan KoperasiMerah Putih dirancang secara hati-hati agar tidak membebani APBN secara berlebihan. Ia menjelaskan bahwa meskipun sebagian dana bersumber dari alokasi dana desa, kebijakan initetap memberikan nilai tambah karena mendorong efisiensi ekonomi di tingkat lokal. Pendekatanini memperlihatkan bahwa pengelolaan fiskal tidak hanya berorientasi pada pengeluaran, tetapijuga pada penciptaan manfaat jangka panjang yang dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional.Lebih lanjut, Purbaya memaparkan bahwa kondisi fiskal tetap terjaga seiring denganmeningkatnya pendapatan negara, terutama dari sektor komoditas seperti batu bara dan minyak. Hal ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk melakukan akselerasi belanja di awal tahunsebagai strategi mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Dengan demikian, percepatan belanja tidak dipandang sebagai risiko, melainkan sebagai instrumen kebijakan untukmengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah.Dari sisi pembiayaan, penggunaan skema pinjaman melalui perbankan Himbara menjadi langkahinovatif untuk memitigasi risiko fiskal. Pemerintah tidak langsung menanggung beban besarsebagaimana dalam skema Penyertaan Modal...
- Advertisement -

Baca berita yang ini