Dor, Dendam Orang Sikh untuk Indira Gandhi

Baca Juga

MATA INDONESIA, NEW DEHLI  – 31 Oktober 1984 menjadi salah satu tanggal kenangan masyarakat India. Karena di tanggal tersebut, 37 tahun silam, Perdana Menteri (PM) India, Indira Priyadarshini Nehru atau yang lebih dikenal sebagai Indira Gandhi, tewas ditembak pengawal pribadinya di depan pintu gerbang Kantor Perdana Menteri India.

Kronologinya terjadi saat Indira Gandhi sedang bersiap untuk wawancara dengan Peter Ustinov, seorang aktor Inggris. Peter memiliki proyek shooting film dokumenter televisi Irlandia. Pukul 09.20 waktu setempat, Indira  berjalan dari rumah dinas Perdana Menteri kediamannya di Safdarjung Road, New Delhi, menuju kantor Perdana Menteri di Jalan Akbar 1, karena Peter Ustinov telah menunggunya disana.

Peristiwa mengerikan itu terjadi pada saat Indira tiba di gerbang yang dijaga oleh dua pengawal pribadinya, Beant Singh dan Satwant Singh. Secara tiba-tiba, kedua pengawal tersebut menembakkan peluru ke arah Indira. Dor..dor..dor tiga peluru yang ditembakkan oleh Beant Singh berhasil membuat Indira tumbang. Sementara 27 peluru ditembakkan oleh Satwant Singh untuk mengeksekusi Indira.

Ilustrasi Saat Indira Gandhi terbunuh
Ilustrasi Saat Indira Gandhi terbunuh

Usai aksi penembakan tersebut, kedua pengawal tersebut melemparkan senjata mereka dan berkata, ”Saya sudah melakukan apa yang harus saya lakukan, kamu lakukan apa yang mau kamu lakukan.”

Sepuluh menit pasca penembakan, sekitar pukul 09.30 waktu setempat, Indira dibawa ke All India Institute of Medical Sciences (AIIMS-New Delhi)  untuk mendapatkan tindak lanjut segera dan dioperasi. Namun Indira dinyatakan meninggal sekitar pukul 14.20 waktu setempat.

Terdapat 30 peluru yang menghujani tubuh Indira. Sebanyak 23 peluru tembus, dan 7 lainnya bersarang di dalam tubuh. Pagi hari di tanggal 1 November 1984, jenazah Indira dibawa ke Teen Murti Bhawan, tempat mendiang ayahnya tinggal dan disemayamkan. Lalu dua hari kemudian, pada 3 November 1984, ia dikremasi dan sari berdarah yang dikenakannya saat itu disimpan di Indira Gandhi Memorial Museum, New Delhi.

Motif penembakan Indira diduga karena dendam. Kedua penembak Indira adalah keturunan Sikh yang hendak membalas dendam atas penyerbuan kuil suci Sikh dari Kuil Emas di kota Amritsar, Punjab, pada Juni 1984. Penyerbuan ini diperintahkan oleh Indira untuk menyerbu Bhindranwale dan para pengikutnya. Akibat dari serangan ini, kompleks kuil dan perpustakaan yang mengoleksi literatur penting terkait Sikhisme hancur.  Bhindranwale dan ribuan pengikutnya juga meninggal.

Empat hari setelah kematian Indira menjadi masa-masa genting bagi ribuan orang Sikh. Mereka dibunuh dan rumah-rumah mereka dibakar. Gelombang pengungsian kembali naik. Konflik masih terus membara hingga beberapa tahun setelahnya.

Dan rupanya, satu hari sebelum kematiannya, ia seolah sudah mengetahui nasibnya. Dalam rapat umum politik, ia menyampaikan sebuah pidato tentang kemungkinan akhir hidupnya yang kejam.

Kala itu ia mengatakan ia tidak tahu berapa banyak percobaan yang dilakukan orang-orang untuk membunuhnya. Dan ia bangga, karena selama hidupnya ia gunakan untuk melayani rakyatnya. Mengutip dari BBC, di akhir pidatonya ia mengatakan “Jika aku mati hari ini, setiap tetes darahku akan memperkuat bangsa..,”.

Reporter: Intan Nadhira Safitri

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Sidak Ramadan sebagai Instrumen Stabilitas Pasar

Oleh: Yusuf Rinaldi)* Setiap memasuki bulan suci Ramadan dan menjelang Idulfitri, pemerintahmemastikan stabilitas harga dan ketersediaan pangan nasional tetap terjaga melaluilangkah pengawasan yang aktif dan terukur. Peningkatan aktivitas konsumsimasyarakat dipandang sebagai momentum positif yang mencerminkan perputaranekonomi yang dinamis. Dalam kerangka tersebut, inspeksi mendadak (sidak) menjadi instrumen strategis untuk memperkuat tata kelola pangan, memastikandistribusi berjalan lancar, serta menjaga keterjangkauan harga bahan pokok. Kehadiran langsung pemerintah di lapangan menegaskan komitmen kuat dalammelindungi kepentingan masyarakat, memperkuat transparansi rantai pasok, sertamembangun kepercayaan publik terhadap sistem pangan nasional yang tangguhdan responsif. Langkah tersebut terlihat nyata ketika Sekretaris Utama Badan Pangan Nasional (Bapanas), Sarwo Edhy, turun langsung melakukan pemantauan di Pasar Jonggol, yang selama ini dikenal sebagai pasar penyangga bagi wilayah Bogor, Bekasi, hingga Jakarta. Kehadiran pejabat tinggi di titik distribusi akhir menunjukkan bahwapemerintah mengedepankan pengawasan berbasis kondisi riil lapangan. SarwoEdhy menegaskan bahwa selama Ramadan pemerintah tidak boleh lengah dan harus memastikan harga tetap terkendali serta distribusi berjalan lancar. Jika ditemukan ketidaksesuaian, langkah pembenahan akan segera dilakukan di lokasi. Hasil pemantauan memperlihatkan mayoritas komoditas pangan strategis beradadalam kondisi relatif stabil. Harga beras medium lokal berada di kisaran Rp13.000 per kilogram dan beras premium Rp14.500 per...
- Advertisement -

Baca berita yang ini