Dirgahayu Seskoal ke-57, Ribuan Laksamana TNI AL Lahir di Sekolah Ini

Baca Juga

MATA INDONESIA , JAKARTA Mungkin anak muda masa kini tak banyak tahu soal Sekolah Staf dan Komando TNI Angkatan Laut (Seskoal). Namun, lembaga yang genap berusia 57 tahun pada 26 November 2019 ini tak bisa dipandang sebelah mata.

Lantaran Seskoal banyak melahirkan laksamana-laksamana TNI AL dalam dunia militer Indonesia. Lantas bagaimana sejarah terbentuknya sekolah perwira AL ini?

Didirikan Sebagai Wadah Mencetak Sosok Prajurit TNI AL Berkualitas
Awal kemunculan Seskoal dilatarbelakangi oleh keinginan Indonesia untuk memiliki Angkatan Laut (AL) yang besar, diperhitungkan dan disegani baik lawan maupun kawan serta mampu menegakkan kedaulatan dan keamanan di laut.

Maka pada tanggal 26 Nopember 1962, Seskoal pun lahir. Kelahirannya disahkan dalam Surat Keputusan Menteri/KSAL Laksamana TNI R. E. Martadinata pada tanggal 26 Nopember 1962 Nomor : 5401.52.

Gedung Yos Sudarso di kompleks Seskoal Cipulir (seskoal.tnial.mil.id)

Sejak berdirinya sampai sekarang, letak Seskoal tetap berada di Cipulir, Jakarta Selatan. Seskoal menjadi Badan Pelaksana Pusat TNI AL yang berkedudukan langsung di bawah Kepala Staf TNI AL dengan unsur pimpinan terdapat Komandan Seskoal (Danseskoal) dan Wakil Komandan Seskoal (Wadan Seskoal). Sekolah ini memiliki Motto, Hari Ini Harus Labih Baik Dari Hari Kemarin Dan Hari Esok Harus Lebih Baik Daripada Hari Ini.

Dengan demikian, tujuan pendidikan Seskoal adalah mendidik, membekali dan memantapkan Perwira Menengah (Pamen) TNI/TNI AL agar berjiwa prajurit pejuang sesuai Sapta Marga TNI, memiliki kesamaptaan jasmani serta profesionalisme matra laut.

Banyak Ilmu dan Keterampilan Yang Disediakan

Di Seskoal inilah, para perwira yang berstatus siswa ditempa untuk menjadi cedekia pertahanan negara matra laut level strategi. Kegiatan belajarnya meliputi pelajaran di kelas, diskusi maupun praktek yang menyangkut bidang studi Kejuangan, Strategi, Manajemen, Logistik, Operasi, Komunikasi Sosial serta Ilmu Pengetahuan dan Teknologi menyangkut masalah-masalah penting mutakhir, kertas karya perorangan (Taskap) dan analisis.

Gedung Perpustakaan Seskoal (seskoal.tnial.mil.id)

Kemudian terdapat beberapa kegiatan puncak seperti Latihan Sistem Perencanaan dan Strategi, Latihan Pengambilan Keputusan Keamanan Laut, Forum Strategi, Seminar Strategi, Seminar Lagistik, Penyajian Taskap, Program Kegiatan Bersama Operasi Gabungan dan Program Kegiatan Bersama Kejuangan.

Fasilitasnya Lengkap

Fasilitas belajar di Kampus Seskoal meliputi ruangan kelas dan ruang diskusi, fasilitas olah yudha dan perpustakaan, selain itu terdapat fasilitas lainnya seperti messing untuk pemondokan para Perwira Siswa, rumah sakit, fasilitas olah raga, seperti ruang fitness, lapangan tennis, tenis meja, basket, bola voli, golf dan lainnya temasuk fasilitas untuk beribadat sesuai agamanya masing-masing. Semua fasilitas yang ada ini diarahkan untuk mendukung kelancaran dan kebutuhan para Perwira Siswa yang sedang menuntut ilmu di Seskoal.

Ruangan makan Seskoal (seskoal.tnial.mil.id)

Berganti Pimpinan 37 Kali dan Sudah Luluskan 4.318 Perwira

Sejak berdirinya dari tahun 1962 sampai dengan tahun 2018 Seskoal telah mengalami pergantian Pimpinan sebanyak 37 kali. Yang pertama kali memimpin adalah Komodor Laut O. B. Syaaf. Saat ini pemegang Tongkat Komando Seskoal adalah Laksamana Muda TNI Dr.Amarulla Octavian,S.T.,M.Sc.,D.E.S.D.

Terhitung sejak tahun 1962 sampai tahun 2018, Seskoal telah menghasilkan alumni dari Pendidikan Reguler sejumlah 4.318 orang perwira. Di mana dari dari Korps Pelaut 1.380, Korps Teknik 636, Korps Elektronika 433, Korps Suplai 438, Korps Marinir 635, Korps Kesehatan 120, Korps Khusus 150, Korps Polisi Militer 23, TNI Angkatan Darat 93, TNI Angkatan Udara 98, Polri 67 orang.

Sementara untuk alumni Sekolah Staf dan Fungsional Seskoal sebanyak 275 orang perwira. Tak hanya itu, ternyata ada juga lulusan yang berasal dari mancanegara dan jumlahnya mencapai 220 orang. Mereka berasal dari Australia, Malaysia, Singapura, Amerika Serikat, Filipina, Korea, Jepang, Papua Nugini, Brunai Darussalam, India, Pakistan, Thailand, Ghana, New Zeland dan Chili. Salah satu alumni Seskoal angkatan ke-33 tahun 1996 dari Filipina bernama Laksamana Rogelio Calunsag. Ia saat ini telah menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Laut Filipina.

Mess Prajurit dari luar negeri yang ikut menimba ilmu di Seskoal (seskoal.tnial.mil.id)

Semoga ke depan Seskoal lebih maju dan jaya, kini, esok dan selamanya mengiringi setiap panggilan tugas dalam mendharmabaktikan diri kepada bangsa dan negara NKRI tercinta. Kibarkan terus bendara kewajiban. DharmaWiratama.

Berita Terbaru

Menghentikan Rantai Kekerasan OPM Demi Masa Depan Papua yang Damai

Oleh : Loa MuribRangkaian aksi kekerasan yang kembali terjadi di Papua menjadi pengingat bahwa ancamanterhadap keamanan masyarakat sipil masih menjadi tantangan serius yang harus dihadapi secarabersama. Insiden pembakaran pesawat perintis milik Associated Mission Aviation (AMA) di Lapangan Terbang Balinggama, Kabupaten Yahukimo, serta kontak tembak yang menewaskanseorang anggota TPNPB-OPM di Kabupaten Intan Jaya menunjukkan bahwa kekerasanbersenjata masih terus menghambat cita-cita mewujudkan Papua yang aman, damai, dansejahtera. Dalam situasi seperti ini, kepentingan utama yang harus dikedepankan adalahperlindungan terhadap masyarakat sipil, keberlangsungan pelayanan publik, serta terjaminnyapembangunan yang mampu meningkatkan kualitas hidup seluruh masyarakat Papua.Pembakaran pesawat AMA merupakan tindakan yang membawa dampak luas, bukan hanyaterhadap aspek keamanan, tetapi juga terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masyarakatpedalaman. Transportasi udara di Papua memiliki peran vital karena kondisi geografis yang sulitdijangkau melalui jalur darat. Pesawat perintis menjadi sarana utama untuk mengangkutmasyarakat, tenaga kesehatan, guru, logistik, hingga kebutuhan pokok. Ketika moda transportasitersebut menjadi sasaran kekerasan, maka yang paling dirugikan adalah masyarakat Papua sendiri yang bergantung pada layanan penerbangan tersebut untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol Cahyo Sukarnito menyampaikan bahwa aparatmemperoleh informasi dari jajaran Polres Yahukimo mengenai pembakaran pesawat sesaatsetelah mendarat di Lapangan Terbang Ipedehik, Distrik Sobaham. Ia juga menjelaskan bahwaproses evakuasi menghadapi tantangan besar karena lokasi kejadian hanya dapat dijangkaumelalui transportasi udara. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa aparat keamanan tidakhanya menghadapi ancaman kelompok bersenjata, tetapi juga hambatan geografis yang sangatkompleks dalam menjalankan tugas penyelamatan dan penegakan hukum.Sementara itu, Kaops Damai Cartenz Brigjen Pol Faizal Ramadhani menyatakan bahwa kasuspembakaran pesawat masih dalam proses penyelidikan. Langkah investigasi tersebut menjadibagian penting untuk mengungkap pelaku, memastikan fakta secara menyeluruh, sekaligusmemberikan kepastian hukum terhadap setiap aksi kekerasan yang terjadi. Penegakan hukumyang profesional dan berdasarkan bukti merupakan fondasi penting dalam menjaga kepercayaanmasyarakat terhadap negara.Di sisi lain, perkembangan di Kabupaten Intan Jaya memperlihatkan bahwa aparat keamananjuga menghadapi ancaman nyata ketika menjalankan tugas pengamanan wilayah. Berdasarkanpenjelasan Koops TNI Habema, kontak tembak bermula ketika personel mendeteksi pergerakanmencurigakan sejumlah orang yang mendekati pos secara sembunyi-sembunyi pada malam hari. Setelah peringatan tidak direspons dan terjadi serangan, aparat melakukan tindakan sesuaiprosedur operasi yang berlaku. Dalam proses penyisiran pada keesokan harinya ditemukanjenazah yang kemudian diidentifikasi sebagai Okto Tigau.Kepala Penerangan Koops TNI Habema Letkol Inf Wirya Arthadiguna menjelaskan bahwaberdasarkan data aparat keamanan, Okto Tigau merupakan anggota TPNPB-OPM yang menjabatsebagai Wakil Komandan Operasi Batalyon Metua Kodap VIII Intan Jaya. Ia jugamenyampaikan bahwa yang bersangkutan diduga terlibat dalam berbagai aksi kekerasan, mulaidari penembakan aparat keamanan, penembakan pekerja sipil, penyiksaan warga, hinggaintimidasi terhadap masyarakat. Penjelasan tersebut memberikan konteks mengenai tantangankeamanan yang dihadapi aparat di lapangan dalam menjalankan Operasi Militer Selain Perangsesuai ketentuan perundang-undangan.Meskipun demikian, aspek kemanusiaan tetap harus menjadi perhatian utama. Letkol Inf WiryaArthadiguna juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban serta berharap agar peristiwa serupa tidak terus berulang sehingga masyarakat Papua dapat hidup dalam suasanayang aman, damai, dan penuh harapan. Pernyataan tersebut mencerminkan bahwa penyelesaiankonflik tidak semata-mata berorientasi pada aspek keamanan, tetapi juga pada terciptanyakondisi sosial yang memungkinkan masyarakat menjalani kehidupan secara normal.Berbagai aksi kekerasan yang dilakukan kelompok bersenjata selama ini telah memberikandampak multidimensi terhadap Papua. Korban bukan hanya aparat keamanan, tetapi juga tenagakesehatan, guru, pekerja pembangunan, tokoh masyarakat, bahkan warga sipil yang tidakmemiliki keterkaitan dengan konflik. Ketika rasa aman terganggu, investasi menjadi terhambat, pelayanan publik terganggu, dan pembangunan infrastruktur berjalan lebih lambat. Akibatnya, masyarakat Papua kehilangan kesempatan memperoleh manfaat pembangunan yang seharusnyadapat meningkatkan kesejahteraan mereka.Papua saat ini tengah menjadi fokus berbagai program strategis pemerintah, mulai daripembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas pendidikan, pelayanan kesehatan, penguatanekonomi masyarakat adat, hingga pengembangan sumber daya manusia. Seluruh program tersebut membutuhkan situasi keamanan yang kondusif agar dapat berjalan secara berkelanjutan. Oleh karena itu, penghentian rantai kekerasan merupakan prasyarat penting bagi keberhasilanpembangunan di Tanah Papua.Di saat yang sama, dukungan masyarakat terhadap upaya menjaga keamanan menjadi faktoryang tidak kalah penting. Tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda, akademisi, dan seluruhelemen masyarakat memiliki peran strategis dalam membangun budaya damai, memperkuatdialog, serta mencegah berkembangnya provokasi yang dapat memperpanjang konflik. Pendekatan keamanan yang diiringi pembangunan, penghormatan terhadap hak masyarakat, sertapemberdayaan ekonomi akan memberikan fondasi yang lebih kuat dalam menciptakanperdamaian jangka panjang. Harapan besar masyarakat Papua sesungguhnya sederhana, yaituhidup dalam suasana aman, memperoleh pelayanan publik yang layak, menikmati hasilpembangunan, serta membesarkan generasi penerus tanpa bayang-bayang kekerasan. *Penulis adalah Mahasiswa Papua di Jawa Timur
- Advertisement -

Baca berita yang ini