Ini Dia Rahasia Grab Terhindar Dari Fenomena PHK Massal

Baca Juga

MATA INDONESIA, SINGAPURA – Grab sebagai perusahaan transportasi dan pengiriman makanan terbesar di Asia tenggara, tidak merasa harus melakukan PHK massal seperti yang telah dilakukan oleh beberapa pesaingnya. Mereka dengan selektif merekrut sambil mengekang ambisi layanan keuangannya.

Chief Operating Officer Alex Hungate mengatakan bahwa tahun ini, Grab sebenarnya telah khawatir dengan resesi global. Oleh karena itu, Grab sangat hati-hati dan bijaksana dengan perekrutan apapun. Sebagai hasilnya, Grab tidak sampai pada titik putus asa dalam perekrutan, pembekuan, atau PHK massal.

Melansir dari Reuters, Hungate mengatakan “ Sekitar pertengahan tahun, kami melakukan semacam reorganisasi khusus, tetapi saya tahu perusahaan lain telah melakukan PHK massal, jadi kami tidak melihat diri kami dalam kategori itu.”

Perusahaan sedang merekrut untuk peran dalam data science, teknologi pemetaan, dan bidang khusus lainnya meskipun setiap perekrutan adalah keputusan yang jauh lebih besar daripada sebelumnya.

Grab yang telah berusia satu dekade, memiliki sekitar 8.800 staf pada akhir tahun 2021. Seperti para pesaingnya, Grab telah mendapatkan keuntungan dari ledakan layanan makanan selama pandemi Covid-19, sementara layanan transportasi online mengalami penurunan.

Saat ekonomi mulai pulih, permintaan pengiriman makanan menurun sementara ride-healing belum sepenuhnya pulih. Valuasi teknologi juga turun dratis dan inflasi. Pada akhirnya muncul risiko seperti pertumbuhan yang lebih lambat dan kenaikan suku bunga.

Dalam beberapa minggu terakhir perusahaan e-commerce terbesar di Asia Tenggara Shopee melakukan pemangkasan pekerjaan dan menutup beberapa operasi di luar negeri setelah perusahaan induk SEA melaporkan kerugian yang sangat besar.

Hungate sebagai seorang veteran di sektor jasa keuangan,logistik, dan makanan, telah mempelopori dorongan dari lini bisnis dengan margin rendah saat Grab berlomba untuk menghasilkan keuntungan.

Bulan lalu, Grab mengatakan telah menutup lusinan dark store, atau pusat distribusi bahan makanan sesuai permintaan dan memperlambat peluncuran fasilitas “cloud kitchen” untuk pengiriman.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Aksi OPM Merusak Pendidikan dan Menghambat Kemajuan Papua

Oleh: Petrus Pekei* Papua adalah tanah harapan, tempat masa depan generasi muda bertumbuh melalui pendidikan, kerja keras, dan persaudaraan. Setiap upaya yang mengganggu ketenangan dan merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat Papua sejatinya berseberangan dengan cita-citabesar tersebut. Karena itu, penguatan narasi damai dan dukungan terhadap kehadiran negara menjadi energi utama untuk memastikan Papua terus melangkah maju. Di tengah dinamikakeamanan, bangsa ini menunjukkan keteguhan sikap bahwa keselamatan warga sipil, keberlanjutan pendidikan, dan pembangunan berkeadilan adalah prioritas yang tidak dapatditawar. Peristiwa kekerasan yang menimpa pekerja pembangunan fasilitas pendidikan di Yahukimomenggugah solidaritas nasional. Respons publik yang luas memperlihatkan kesadarankolektif bahwa pendidikan adalah fondasi masa depan Papua. Sekolah bukan sekadarbangunan, melainkan simbol harapan, jembatan menuju kesejahteraan, dan ruang aman bagianak-anak Papua untuk bermimpi. Ketika ruang ini dilindungi bersama, optimisme tumbuhdan kepercayaan terhadap masa depan kian menguat. Dukungan masyarakat terhadap langkahtegas aparat keamanan merupakan bentuk kepercayaan pada negara untuk memastikan rasa aman hadir nyata hingga ke pelosok. Narasi persatuan semakin kokoh ketika tokoh-tokoh masyarakat Papua menyampaikanpandangan yang menyejukkan. Sekretaris Jenderal DPP Barisan Merah Putih Republik Indonesia, Ali Kabiay, menegaskan pentingnya perlindungan warga sipil dan keberlanjutanpembangunan, khususnya pendidikan. Pandangannya menekankan bahwa stabilitas adalahprasyarat utama bagi kesejahteraan, dan negara perlu bertindak tegas serta terukur agar ketenangan sosial terjaga. Ajakan kepada masyarakat untuk tetap waspada, memperkuatkomunikasi dengan aparat, dan menolak provokasi menjadi penopang kuat bagi ketertibanbersama. Sikap serupa juga disuarakan oleh...
- Advertisement -

Baca berita yang ini