Wajib Tahu! Ini Dampak Buruk Jika Sering Tidur dengan Lampu Menyala

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA-Setiap orang membutuhkan waktu tidur yang cukup untuk menunjang kesehatan dan energi agar bisa kembali beraktivitas esok harinya.

Waktu terbaik untuk tidur 7 hingga 8 jam sehari, dan terutama adalah mematikan lampu kamar agar lebih nyaman.

Karena, kalau tidak dimatikan paparan cahaya dari lampu kamar sebelum tidur bisa mengganggu produksi hormone melatonin yang merangsang rasa kantuk, lho. Saat produksi hormon melatonin berkurang, maka kamu akan sulit untuk tidur dan mendapatkan kualitas tidur yang cukup.

Selain itu, terbiasa tidur dengan lampu menyala juga bisa membawa dampak buruk untuk kesehatan. Berikut di antaranya!

  1. Mengganggu kesehatan reproduksi

Menurut beberapa penelitian, seseorang yang terbiasa dengan lampu menyala saat tidur, siklus kesehatan reproduksinya menjadi lebih mudah terganggu. Riset yang diterbitkan jurnal Epidemiologi juga menyatakan hal yang serupa.

Sebanyak 71.077 wanita yang diteliti dalam riset tersebut menunjukkan hasil bahwa wanita yang mendapatkan paparan cahaya berlebihan di malam hari menunjukkan gangguan siklus menstruasi.

  1. Kelelahan

Lampu menyala saat tidur juga bisa menyebabkan seseorang mengalami kelelahan saat bangun di keesokan harinya. Paparan cahaya sebelum atau selama waktu tidur akan membuat seseorang kesusahan tidur karena otak tidak cukup memproduksi melatonin yang merangsang tidur.

Cahaya yang menyala selama tidur membuat otak terus bekerja, mengganggu kualitas tidur dan siklus tidur. Akibatnya kamu akan merasa lelah keesokan harinya meskipun sudah tidur lebih dari 7 jam.

  1. Depresi

Tidak hanya menyebabkan kelelahan, lampu menyala saat tidur juga dapat mengganggu kesehatan mental, Ladies. Cahaya lampu saat tidur dapat memengaruhi suasana hati dan perasaan yang berakhir pada depresi.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Molecular Psychiatry membuktikan bahwa cahaya di malam hari meskipun intensitasnya redup, tetap akan meningkatkan perubahan fisiologis yang mengarah pada depresi.

Hal ini juga dapat membuatmu kurang tidur. Umumnya kurang tidur dapat membuat perasaan jadi lebih sensitif, mudah sedih, marah, dan tersinggung.

  1. Melemahkan imunitas tubuh

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, lampu yang menyala saat tidur dapat menyebabkan orang sulit dan kurang tidur. Padahal tidur yang cukup memegang peranan penting dalam menjaga sistem imunitas manusia.

Tubuh manusia melepaskan protein sitokin saat tidur, sebuah protein yang dibutuhkan untuk menangkal infeksi atau peradangan. Bahkan dalam jangka panjang, kurang tidur juga dapat meningkatkan risiko obesitas, diabetes, dan penyakit jantung.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Refocusing Anggaran MBG Makin Berpihak pada Kerentanan

Oleh: Alexander Royce*)Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memasuki babak baru. Setelah lebih dari satutahun berjalan dan menjangkau jutaan penerima manfaat di berbagai daerah, pemerintah kini melakukan refocusing atau penajaman sasaran program. Langkahtersebut bukan sekadar upaya efisiensi anggaran, melainkan bagian dari strategi untukmemastikan setiap rupiah yang dibelanjakan negara benar-benar memberikan dampakmaksimal terhadap perbaikan gizi masyarakat, khususnya kelompok yang paling rentan.Di tengah tantangan fiskal global, tekanan ekonomi internasional, serta kebutuhanpembangunan di berbagai sektor, pemerintah memilih pendekatan yang lebih terukur. Fokus tidak lagi semata-mata pada besarnya jumlah penerima manfaat, tetapi padakualitas intervensi dan ketepatan sasaran. Pendekatan ini menunjukkan bahwapemerintah tidak sedang mengurangi komitmen terhadap pembangunan sumber dayamanusia, melainkan memperkuat efektivitas program agar hasilnya lebih nyata.Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S. Deyang, menjadi figur yang pertama kali menjelaskan arah kebijakan baru tersebut. Menurutnya, pemerintah telah memutuskanuntuk menggeser orientasi program dari mengejar kuantitas menuju peningkatankualitas pelaksanaan. Dalam berbagai kesempatan, Nanik menegaskan bahwa BGN tidak lagi menjadikan target puluhan juta penerima sebagai satu-satunya ukurankeberhasilan program. Sebaliknya, perhatian diarahkan pada kelompok yang paling membutuhkan intervensi gizi, terutama masyarakat di daerah tertinggal, terdepan, danterluar (3T), wilayah dengan prevalensi stunting tinggi, serta kelompok rentan lainnya. Ia juga menjelaskan bahwa pemerintah sedang membenahi tata kelola program melaluirefocusing penerima manfaat, optimalisasi dapur yang sudah ada, moratorium pembangunan dapur baru, serta pencarian sumber pendanaan alternatif agar bebanAPBN dapat lebih terkendali. Langkah tersebut diyakini dapat menghasilkanpenghematan yang signifikan sekaligus meningkatkan kualitas layanan gizi yang diterima masyarakat.Lebih jauh, Nanik menilai bahwa keberhasilan program MBG tidak hanya ditentukanoleh jumlah paket makanan yang dibagikan setiap hari. Yang jauh lebih penting adalahsejauh mana program mampu menurunkan angka stunting, memperbaiki status gizianak, serta meningkatkan kualitas kesehatan ibu hamil dan kelompok rentan. Karenaitu, pemerintah memilih untuk mengarahkan sumber daya pada wilayah yang selama inijustru belum banyak tersentuh layanan gizi. Pendekatan tersebut sejalan denganarahan Presiden agar manfaat program dapat lebih dahulu dirasakan oleh masyarakatyang menghadapi kerentanan paling tinggi. Setelah arah kebijakan tersebut dijelaskan oleh Kepala BGN, Wakil Kepala BGN Agustina Arumsari kemudian memberikan gambaran lebih rinci mengenai implementasirefocusing yang sedang disiapkan pemerintah. Menurut Agustina, BGN saat inimelakukan berbagai simulasi untuk memastikan bahwa indikator keberhasilan program dapat dicapai secara lebih efektif dan spesifik. Evaluasi dilakukan terhadap komposisipenerima manfaat agar intervensi gizi benar-benar menyasar kelompok yang memilikikebutuhan paling besar. Ia menjelaskan bahwa pemerintah sedang menelaah kembalicakupan penerima manfaat yang sebelumnya dirancang sangat luas, sehingga program dapat menjadi lebih tepat sasaran dan berkelanjutan dalam jangka panjang.Agustina juga menekankan bahwa proses penyesuaian tersebut merupakan bagiannormal dari perencanaan anggaran pemerintah. Dengan mempertimbangkan efektivitasprogram dan kondisi fiskal negara, pemerintah berupaya memastikan bahwa setiapalokasi anggaran memberikan manfaat yang optimal. Dalam berbagai pembahasananggaran tahun 2027, BGN mengkaji kemungkinan pengurangan penerima manfaatyang dinilai tidak lagi menjadi prioritas utama, sehingga ruang fiskal dapat difokuskankepada kelompok yang memiliki tingkat kerentanan lebih tinggi. Pendekatan inimenunjukkan bahwa pemerintah tidak mengurangi perhatian terhadap isu gizi, melainkan memperkuat ketepatan sasaran kebijakan.Pandangan tersebut mendapat dukungan dari kalangan pasar dan pelaku ekonomi. Head of Research Kiwoom Sekuritas,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini