Sutradara Jelaskan Akhir Cerita yang Kontroversial dalam Film ‘Blonde’

Baca Juga

MATA INDONESIA, LOS ANGELES – Film ‘Blonde’ telah tayang di Netflix. Namun, sutradara filmnya baru-baru ini menjelaskan akhir cerita dari filmnya.

Melansir dari The Wrap, Andrew Dominik selaku sutradara film ‘Blonde’ membahas akhir cerita yang digambarkan. Sebab, filmnya diakhiri dengan karakter Marilyn yang diperankan oleh Ana de Armas terlihat dalam keadaan rapuh saat menerima sebuah paket dari mantan kekasihnya, Cass (diperankan oleh Xavier Samuel).

Dalam filmnya, kotak itu berisi kenangan-kenangan dari masa kecilnya dan sepucuk surat yang berbunyi, ‘Tak pernah ada ayah Menangis.’

Menyimpulkan bahwa Marilyn Monroe patah hati dengan pengungkapan itu sampai dia memutuskan untuk meminum pil sampai overdosis dan meninggal dunia. Andrew menjelaskan alasan Marilyn meninggal dengan akhiran ini daripada mengakhirinya dengan cerita konspirasi terkenal lainnya bahwa dia dibunuh.

Andrew mengaku tak percaya dengan konspirasi Marilyn meninggal karena dibunuh. Menurutnya, teori itu tak masuk akal.

“Tak ada alasan untuk membunuhnya. Karena jika dia mengadakan konferensi pers dan mengatakan bahwa dia selingkuhan dari keluarga Kennedy, tidak ada yang akan melaporkannya,” jelas Andrew.

Andrew juga berbicara tentang alasan dia pikir Marilyn meninggal karena overdosis yang tak disengaja. Menurutnya, itu merupakan bentuk bunuh diri yang dilakukan oleh Marilyn saat itu, bukan dibunuh.

“Maksudku, dia jelas seorang pecandu. Kupikir dia mungkin meninggal karena overdosis yang tak disengaja, kalian tahu, yang merupakan hal paling umum di dunia untuk seorang pecandu. Tapi aku juga berpikir overdosis yang tak disengaja adalah bentuk bunuh diri,” katanya.

Ia menegaskan bahwa film ini merupakan apa yang dipercayainya. Dengan mengklaim, Marilyn Monroe adalah orang yang merusak dirinya sendiri.

“Aku tak berpikir siapa pun bisa tak setuju dengan itu, bahwa dia adalah orang yang sangat merusak diri sendiri. Dia seorang pecandu, kau tahu?” tambahnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

MBG sebagai Pilar Strategis Mewujudkan Generasi Emas Indonesia

Oleh: Dewi Puteri Lestari* Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto merupakan langkah visioner yang menegaskan keberpihakan negara terhadap masa depan generasi muda. Kebijakan ini tidak dapat dipandang secarasempit sebagai program distribusi makanan semata, melainkan sebagai strategi besar pembangunan sumber daya manusia yang dirancang secara sistematis, terukur, dan berorientasi jangka panjang. Dalam konteks persaingan global yang semakin kompetitif, kualitas manusia menjadi faktor penentu daya saing bangsa. Karena itu, intervensi negara pada aspek gizi anak sekolah merupakan keputusanstrategis yang mencerminkan kepemimpinan yang berpandangan jauh ke depan. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menegaskan bahwa MBG tidak mengurangiprogram maupun anggaran pendidikan. Anggaran pendidikan tetap berada pada porsi 20 persen APBN dengan nilai Rp 769,1 triliun, sesuai amanat konstitusi. Seluruh program pendidikan tetap berjalan sebagaimana mestinya dan bahkanmengalami penguatan. Penegasan ini menunjukkan bahwa pemerintah bekerjadengan perencanaan fiskal yang matang, berbasis data, serta melalui koordinasiintensif dengan DPR. Dengan fondasi anggaran yang kokoh dan legitimasi politikyang kuat, MBG hadir sebagai penguat ekosistem pendidikan nasional. Dukungan parlemen terhadap MBG juga memperlihatkan kesadaran kolektif bahwainvestasi pada generasi muda harus ditempatkan sebagai prioritas utama. KetuaBadan Anggaran DPR RI...
- Advertisement -

Baca berita yang ini