Sudah 6 Bulan Hiatus dari Medsos, Ardhito Pramono Minta Maaf Lewat Instagram

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Sudah enam bulan Ardhito Pramono menghilang dari media sosial sejak dirinya ditangkap. Selama rentang waktu itu, ia melakukan rehabilitasi usai ‘terciduk’ menggunakan narkoba jenis ganja di kediamannya.

Ardhito pun meminta maaf pada penggemarnya dengan membagikan foto terbarunya melalui Instagram.

“Halo teman-teman, izinkan saya untuk kembali,” tulisnya.

Ia mengaku sudah menjalani rehabilitasi di Rumah Sakit Ketergantungan Obat Jakarta Timur selama enam bulan. Di mana proses hukumannya telah ditetapkan oleh Badan Narkotika Nasional DKI Jakarta.

Penyanyi ini juga mengaku menyesal karena telah mengecewakan penggemar. Ia juga memastikan akan kembali menghibur penggemar segera mungkin.

“Sekali lagi, saya meminta maaf yang sebesar-besarnya jika saya mengecewakan teman-teman. Izinkan-lah saya kembali berkarya, kembali berjalan untuk  menghibur teman-teman semua,” sambungnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Teknologi dan Infrastruktur Air Menjadi Andalan Menghadapi Tantangan Kemarau

Oleh: Rendra Fathian )*Pemerintah terus memperkuat berbagai langkah antisipatif dalammenghadapi musim kemarau 2026 yang diperkirakan berlangsung lebihkering dibandingkan kondisi normal. Tantangan perubahan iklim dan potensi fenomena El Nino mendorong pemerintah untuk mengedepankanpemanfaatan teknologi serta penguatan infrastruktur air sebagaiinstrumen utama dalam menjaga ketahanan masyarakat, keberlanjutansektor pertanian, dan stabilitas pembangunan nasional.Upaya pemerintah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanyaberfokus pada penanganan dampak setelah bencana terjadi, tetapi juga menempatkan mitigasi sebagai bagian penting dari strategi pembangunan. Pendekatan yang berbasis data, teknologi, dan koordinasilintas sektor menjadi fondasi untuk memastikan masyarakat dapatmenghadapi musim kemarau dengan kesiapan yang lebih baik.Peringatan mengenai potensi kemarau yang lebih kering telahdisampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa Indonesia berpotensi mengalami fenomena El Nino pada tahun 2026. Prediksitersebut telah disampaikan sejak Maret 2026 dan kemudian diperkuatoleh informasi yang dirilis Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada awal Juni 2026.Menurut Faisal, El Nino dan musim kemarau merupakan dua fenomenayang berbeda, namun keduanya dapat memengaruhi kondisi curah hujandi berbagai wilayah Indonesia. Hasil pemantauan BMKG hingga akhir Mei menunjukkan indeks ENSO telah mencapai angka yang mengindikasikankondisi El Nino, sementara sebagian wilayah Indonesia telah memasukimusim kemarau.Pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan risiko iklim menjadi salah satukekuatan yang dimiliki Indonesia saat ini. Dukungan data dari BMKG, pemantauan satelit, serta sistem peringatan dini memungkinkanpemerintah daerah dan berbagai instansi terkait mengambil keputusanberdasarkan kondisi aktual di lapangan. Pendekatan ini jauh lebih efektifdibandingkan mengandalkan respons setelah dampak kekeringan mulaidirasakan masyarakat.Di Jawa Barat, misalnya,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini