Sejak Insiden Tampar Chris Rock, Pertama Kalinya Will Smith dan Istri Tampil Bareng di Depan Publik

Baca Juga

MATA INDONESIA, MALIBU – Will Smith dan istrinya, Jada Pinkett-Smith, terlihat bersama di depan umum untuk pertama kalinya sejak insiden tamparan kepada Chris Rock di ajang Oscar para Maret lalu.

Pasangan itu menikmati kencan sore di Nobu Malibu pada hari Sabtu 13 Agustus 2022. Keduanya tak lagi menghindari jepretan kamera. Bahkan, Will tampak tersenyum ketika seorang fan menyapanya.

Will menjadi sorotan ketika aksi tamparannya kepada Chris Rock di atas panggung Oscar. Saat itu, Rock melontarkan candaan kepada Jada terkait kepala botaknya yang mirip tokoh di film ‘G.I Jane’ diperankan Demi Moore.

Setelah candaan tersebut, Will maju ke atas panggung dan menampar Rock sangat keras. Dia meminta Rock tak menjadikan istrinya sebagai candaan. Aksinya tersebut membuat Academy melarangnya tampil di acara Oscar selama 10 tahun.

Will sudah berkali-kali meminta maaf atas insiden tersebut. Ucapan maaf terbaru diungkapkan via video yang diposting di Instagram beberapa waktu lalu.

“Saya telah menghubungi Chris dan balasan yang saya dapat bahwa dia belum siap untuk berbicara, dan ketika dia siap, dia akan menghubungi saya,” ujarnya.

“Jadi saya akan mengatakan kepada Anda, Chris, saya meminta maaf. Perilaku saya tidak dapat diterima, dan saya di sini kapan pun Anda siap untuk berbicara,” katanya.

Will Smith mengatakan, bahwa Jada tidak menyuruhnya untuk berbuat sesuatu usai candaan yang dilontarkan Rock.

“Saya membuat pilihan sendiri dari pengalaman saya sendiri, dari sejarah saya dengan Chris. Jada tidak ada hubungannya dengan itu. Maafkan aku, sayang. Saya ingin meminta maaf kepada anak-anak dan keluarga atas insiden yang aku bawa kepada kita semua,” ungkapnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

MBG 3T: Pemerataan Program Gizi Nasional

Oleh : Andika PratamaPendekatan pemerataan pembangunan tidak dapat hanya diukur dari besarnya investasi yang masuk ke wilayah perkotaan atau dari pesatnya pembangunan infrastruktur di pusat-pusatekonomi. Tolok ukur keberhasilan pembangunan nasional juga terletak pada kemampuan negara menghadirkan layanan dasar secara adil hingga menjangkau masyarakat di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Dalam konteks tersebut, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu kebijakan strategis yang menunjukkan komitmen pemerintah untukmemastikan tidak ada warga negara yang tertinggal dalam memperoleh hak atas pemenuhan giziyang layak. Kehadiran skema khusus MBG bagi wilayah 3T merupakan bukti bahwa pemerintahmemahami tantangan geografis Indonesia sekaligus berupaya menghadirkan solusi yang adaptifterhadap kondisi di lapangan.Pemerintah melalui Badan Gizi Nasional bersama Badan Komunikasi Pemerintah menunjukkankeseriusan dalam merancang mekanisme khusus pelaksanaan MBG di daerah 3T. Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Muhammad Qodari menjelaskan bahwa karakteristik wilayah 3T berbeda dengan kawasan perkotaan sehingga membutuhkan skema pelayanan tersendiri. Kondisigeografis yang sulit dijangkau, jumlah penduduk yang relatif sedikit, hingga keterbatasaninfrastruktur menjadi faktor yang menyebabkan model pelayanan konvensional melalui SatuanPelayanan Pemenuhan Gizi belum sepenuhnya dapat diterapkan secara optimal. Pernyataantersebut mencerminkan bahwa pemerintah tidak sekadar memaksakan satu pola kebijakannasional, melainkan memilih pendekatan yang lebih fleksibel agar manfaat program benar-benardapat dirasakan masyarakat sesuai kebutuhan masing-masing daerah.Langkah pemerintah untuk mengevaluasi berbagai alternatif mekanisme distribusi juga menunjukkan adanya kebijakan yang berbasis pada realitas lapangan. Pemanfaatan kantinsekolah sebagai salah satu opsi pelayanan merupakan bentuk inovasi yang patut diapresiasi. Namun pemerintah juga memahami bahwa tidak seluruh sekolah di wilayah 3T memiliki fasilitastersebut. Karena itu, berbagai alternatif lain masih terus dikaji agar pelaksanaan MBG tetapberjalan efektif tanpa mengurangi kualitas pelayanan. Program MBG sesungguhnya memiliki dimensi pembangunan yang jauh lebih luas dibandingsekadar penyediaan makanan bergizi. Program ini menjadi investasi jangka panjang dalammenciptakan generasi Indonesia yang sehat, cerdas, produktif, dan mampu bersaing di tingkatglobal. Perbaikan status gizi sejak usia dini akan berkontribusi terhadap penurunan angkastunting, peningkatan kemampuan belajar anak, serta penguatan kualitas pendidikan nasional. Dalam jangka panjang, kualitas sumber daya manusia yang lebih baik akan meningkatkan dayasaing bangsa, termasuk dalam berbagai indikator pendidikan internasional seperti Programme for International Student...
- Advertisement -

Baca berita yang ini