Kehadiran Taruna Akmil di Sekolah Rakyat Bersifat Pendampingan Karakter

Baca Juga

Oleh: Dhita Karuniawati )*

Program Sekolah Rakyat yang digagas pemerintah merupakan salah satu upaya strategis untuk memperluas akses pendidikan berkualitas bagi anak-anak dari keluargakurang mampu. Tidak hanya berorientasi pada peningkatan kemampuan akademik, Sekolah Rakyat juga dirancang sebagai lingkungan pendidikan berasrama yang menekankan pembentukan karakter, kemandirian, serta pembiasaan hidup disiplin. Dalam konteks tersebut, rencana pelibatan taruna Akademi Militer (Akmil) mendapatperhatian publik. Meski sempat memunculkan beragam persepsi, pemerintahmenegaskan bahwa kehadiran para taruna bukan untuk menghadirkan pendidikanbergaya militer, melainkan sebagai pendamping dalam proses pembentukan karakterpeserta didik. 

Karakter menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun sumber daya manusiaIndonesia yang unggul. Kemampuan akademik yang baik akan lebih optimal apabiladiiringi dengan sikap disiplin, tanggung jawab, kemandirian, kepedulian, sertakemampuan beradaptasi. Nilai-nilai tersebut tidak selalu dapat dibentuk melalui proses pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga melalui pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi siswa yang tinggal di lingkungan asrama.

Model pendidikan berasrama memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan sekolahreguler. Para siswa dituntut mampu mengatur aktivitas harian secara mandiri, mulai darimenjaga kebersihan diri, merapikan tempat tidur, mengelola perlengkapan pribadi, hingga membangun kebiasaan hidup tertib sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Pada masa awal tinggal di asrama, proses adaptasi sering kali menjadi tantangan tersendirikarena siswa harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru yang berbeda darikehidupan di rumah.

Dalam konteks ini pemerintah memandang pengalaman hidup para taruna Akmil dapatmemberikan teladan yang relevan. Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengatakan bahwapelibatan taruna merupakan inisiatif Kementerian Sosial untuk mendukung proses pembentukan karakter siswa Sekolah Rakyat yang sama-sama menjalani pendidikanberasrama. Menurutnya, para taruna diharapkan mampu memberikan contohsederhana mengenai bagaimana menjalani kehidupan yang tertib, disiplin, dan mandiri, seperti membiasakan bangun pagi, merapikan tempat tidur, menjaga perlengkapanpribadi, menggunakan seragam dengan baik, serta membangun kebiasaan hidup yang teratur. Ia juga menegaskan bahwa tidak terdapat agenda latihan fisik militersebagaimana yang sempat dikhawatirkan sebagian masyarakat. 

Penjelasan tersebut memperlihatkan bahwa orientasi program bukan membentuk siswamenjadi taruna ataupun mengenalkan pendidikan militer kepada anak-anak. Sebaliknya, pemerintah ingin memanfaatkan pengalaman praktis yang dimiliki para taruna dalam menjalani kehidupan berasrama agar dapat menjadi contoh positif bagisiswa yang sedang memasuki fase adaptasi.

Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono mengatakan bahwa para taruna tidak akanmengambil alih peran guru dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Menurutnya, fungsi utama mereka adalah menjadi pendamping kehidupan asrama selama beberapahari agar siswa mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan baru secara nyamansekaligus membangun kebiasaan hidup mandiri. Ia juga menjelaskan bahwapendampingan tersebut mencakup pembinaan terhadap budaya saling menghormatidan pencegahan berbagai bentuk kekerasan maupun perundungan antarsiswa. 

Kehadiran pendamping yang memahami dinamika kehidupan asrama memang memilikinilai strategis. Pengalaman menunjukkan bahwa masa transisi menuju kehidupanberasrama sering menjadi periode yang cukup menantang bagi peserta didik. Merekatidak hanya harus beradaptasi dengan jadwal kegiatan yang lebih teratur, tetapi juga belajar hidup bersama teman-teman dari latar belakang yang beragam. Pendampingyang memiliki pengalaman serupa dapat membantu siswa melalui proses tersebutdengan pendekatan yang lebih mudah dipahami.

Program pendampingan ini juga bersifat terbatas. Pemerintah menjelaskan bahwasekitar 1.000 taruna Akmil tingkat I dan II akan ditempatkan di 178 titik Sekolah Rakyat dalam kegiatan pendampingan selama lima hari pada awal Agustus 2026. Selamaperiode tersebut, para taruna akan membimbing aktivitas keseharian siswa, sepertimenjaga kerapian kamar, merawat perlengkapan pribadi, menyetrika pakaian, menyemir sepatu, hingga membangun kebiasaan hidup disiplin yang mendukungaktivitas belajar. 

Pendekatan seperti ini sebenarnya bukan hal baru dalam dunia pendidikan. Berbagaisekolah berasrama di Indonesia maupun di berbagai negara menerapkan sistemmentoring oleh senior, alumni, ataupun pendamping yang telah memiliki pengalamanhidup di lingkungan asrama. Tujuannya bukan untuk memberikan tekanan kepadapeserta didik, melainkan membantu mereka beradaptasi sehingga mampu menjalanikehidupan sekolah secara mandiri dan bertanggung jawab.

Dalam implementasinya, pemerintah juga menegaskan bahwa pembinaan akandilakukan secara persuasif dan mengedepankan pendekatan yang humanis. Kondisipsikologis siswa menjadi perhatian utama, mengingat sebagian besar peserta didikmasih berada pada fase penyesuaian ketika pertama kali memasuki lingkunganasrama. Oleh karena itu, proses pendampingan dirancang dengan mempertimbangkankebutuhan emosional anak sehingga mereka dapat merasa aman dan nyaman selamamengikuti pendidikan. 

Penjelasan tersebut penting agar masyarakat memahami bahwa pembentukan karaktertidak identik dengan pendekatan keras, melainkan melalui keteladanan, komunikasi, dan pembiasaan positif yang dilakukan secara konsisten. Dengan demikian, keterlibatan taruna Akmil di Sekolah Rakyat dapat dipahami sebagai bentuk kolaborasiuntuk menanamkan nilai disiplin, kemandirian, dan tanggung jawab, sehingga mampumendukung lahirnya generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berkarakter dan siap menghadapi tantangan masa depan.

*) Penulis adalah Kontributor Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Pelatihan Kopdes Merah Putih Makin Aman, Relevan, dan Menguatkan Aspek Manajerial

Oleh: Citra Kurnia Khudori )*Keberhasilan sebuah koperasi tidak hanya ditentukan oleh besarnya modal ataubanyaknya anggota, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia yang mengelolanya. Sama halnya dengan Koperasi Desa Merah Putih, penguatankapasitas para manajer menjadi faktor penting agar koperasi mampu berkembangsebagai motor penggerak ekonomi desa yang profesional dan berkelanjutan.Karena itu, penyempurnaan konsep pelatihan bagi calon manajer Koperasi DesaMerah Putih merupakan langkah yang patut diapresiasi. Penyesuaian materipelatihan menunjukkan bahwa pemerintah berupaya memastikan proses pembekalan lebih relevan dengan kebutuhan pengelolaan koperasi sekaligusmampu menjawab berbagai masukan yang berkembang di masyarakat.Kepala Biro Informasi Pertahanan Kementerian Pertahanan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, menjelaskan bahwa istilah latihan dasar militer (latsarmil) tidak lagidigunakan dalam program pembekalan calon manajer Koperasi Desa Merah Putih. Sebagai gantinya, pelatihan difokuskan pada pembekalan bela negara dan peningkatan kompetensi yang mendukung kemampuan kepemimpinan sertapengelolaan organisasi.Menurut Rico, perubahan tersebut merupakan bentuk penyempurnaan konsep agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat. Program ini sama sekalitidak diarahkan untuk membentuk calon manajer menjadi personel militer, melainkanmembangun karakter disiplin, tanggung jawab, nasionalisme, dan etos kerja yang dibutuhkan dalam mengelola koperasi.Ia juga menegaskan bahwa materi yang diberikan telah disesuaikan dengankebutuhan dunia manajerial. Pembekalan bela negara diposisikan sebagaipendidikan karakter yang bertujuan memperkuat integritas, kedisiplinan, kepemimpinan, kemampuan bekerja sama, serta semangat pengabdian kepadamasyarakat.Karakter disiplin dan kepemimpinan yang menjadi bagian dari pembekalan belanegara justru dapat menjadi modal penting dalam menjalankan fungsi-fungsitersebut. Nilai-nilai tersebut bersifat universal dan telah lama diterapkan dalamberbagai program pengembangan kepemimpinan di banyak institusi.Meski demikian, pemerintah juga menunjukkan sikap adaptif dengan melakukanevaluasi terhadap konsep pelatihan. Respons terhadap berbagai masukan publikmenjadi bagian dari proses penyempurnaan agar pelaksanaan program semakinditerima oleh masyarakat luas.Kepala Staf Kepresidenan Jenderal TNI (Purn) Dudung Abdurachman menjelaskanbahwa durasi pelatihan calon manajer Koperasi Desa Merah Putih turut disesuaikanmenjadi sekitar satu setengah bulan. Penyesuaian tersebut dilakukan agar materipembekalan lebih efektif, fokus, dan sesuai dengan kebutuhan pengelolaan koperasidi lapangan.Dudung mengungkapkan, pelatihan tetap diarahkan pada peningkatan kapasitaskepemimpinan, kedisiplinan, serta kemampuan manajerial para peserta. Denganwaktu yang lebih efisien, calon manajer diharapkan dapat segera kembali ke daerahmasing-masing untuk mengimplementasikan ilmu yang diperoleh dalammengembangkan koperasi desa.Penyesuaian durasi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pemerintah lebihmengutamakan kualitas pembelajaran dibandingkan lamanya pelatihan. Yang terpenting bukan seberapa panjang proses pendidikan berlangsung, melainkansejauh mana kompetensi yang dibutuhkan benar-benar dapat dikuasai oleh peserta.Di sisi lain, kebutuhan pengelolaan koperasi modern memang semakin kompleks. Manajer tidak hanya dituntut memahami aspek administrasi, tetapi juga mampumembaca peluang usaha, memanfaatkan teknologi digital, mengelola risiko, sertamembangun jejaring kemitraan dengan berbagai pihak.Karena itu, materi pelatihan yang berorientasi pada penguatan kapasitas organisasimenjadi semakin relevan. Koperasi yang dikelola secara profesional memilikipeluang lebih besar untuk tumbuh sebagai pusat aktivitas ekonomi masyarakatdesa.Komitmen pemerintah untuk menjaga relevansi pelatihan juga tercermin dalampenyempurnaan substansi materi yang diberikan kepada peserta. Berbagai materiyang dinilai tidak berkaitan langsung dengan kebutuhan calon manajer kemudiandisesuaikan agar fokus pembelajaran tetap berada pada peningkatan kapasitaskepemimpinan dan tata kelola.Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Pertahanan, Mayjen TNI Ketut Gede Wetan Pastia, menyampaikan bahwa materi menembaktidak lagi dimasukkan dalam pembekalan calon manajer Koperasi Desa Merah Putih. Langkah tersebut merupakan bagian dari penyesuaian kurikulum agar pelatihan lebih relevan dengan tujuan pengembangan kompetensi peserta.Kini pembekalan lebih difokuskan pada nilai-nilai bela negara dan pembentukankarakter. Dengan demikian, pelatihan benar-benar diarahkan untuk mendukungkeberhasilan pengelolaan koperasi, bukan untuk memberikan kemampuan yang berada di luar kebutuhan tugas para manajer.Penyempurnaan kurikulum tersebut membuktikan bahwa pemerintah membukaruang evaluasi dalam setiap tahapan pelaksanaan program. Fleksibilitas semacamini penting agar kebijakan publik dapat terus berkembang mengikuti aspirasimasyarakat tanpa kehilangan tujuan utamanya.Perlu dipahami oleh semua pihak bahwa keberhasilan Koperasi Desa Merah Putihakan sangat ditentukan oleh kualitas para pengelolanya. Investasi pada pengembangan sumber daya manusia merupakan langkah strategis agar koperasimampu menjadi lembaga ekonomi desa yang profesional, transparan, dan berdayasaing.Dengan konsep pelatihan yang semakin aman, relevan, dan berorientasi pada penguatan aspek manajerial, pemerintah memberikan fondasi yang lebih kokoh bagilahirnya para manajer koperasi yang berintegritas. Dengan begitu, Koperasi DesaMerah Putih memiliki peluang lebih besar untuk menjadi motor penggerak ekonomidesa sekaligus memperkuat kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.)* Pemerhati isu sosial-ekonomi
- Advertisement -

Baca berita yang ini