Review Film ‘The Lost City’: Ketika Alur Cerita Novel Berubah Jadi Kenyataan yang Penuh Komedi

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Seorang penulis novel pastinya merasakan writer block saat tengah membuat alur cerita yang menarik untuk melanjutkan kisahnya. Namun apa jadinya jika semua alur cerita dalam novelmu jadi kenyataan dan jadi tempat inspirasi baru untuk melanjutkan kisahnya?

Seperti yang dikisahkan dalam film petualangan-komedi yang diperankan oleh Channing Tatum dan Sandra Bullock, ‘The Lost City’. Film ini menampilkan sederetan petualangan menakjubkan yang tak pernah dikira oleh Loretta Sage (diperankan oleh Sandra Bullock).

Film ini mengisahkan antara penulis novel erotis, Loretta Sage (Bullock), dan model sampul novelnya, Alan (diperankan oleh Tatum). Saat itu Sage tengah mengalami writer block di mana ia kehabisan ide untuk kelanjutan kisah novelnya.

Saat tengah mengalami cek-cok bersama manajer dan model sampulnya, Sage ingin kabur dan tak ingin melanjutkan konferensi promosi novel barunya. Namun tak disangka-sangka olehnya, ia ternyata diculik oleh pengusaha yang bernama Fairfax (Daniel Radcliffe).

Fairfax mencoba mencari tahu kebenaran dari misteri makhota api yang terkubur dalam sebuah pulau. Dengan menculik Loretta, diharapkan Fairfax menemukan The Lost City yang sesungguhnya.

Karena enggan membantu, Sage pun diselamatkan oleh Alan untuk melarikan diri dari Fairfax. Segala lika-liku pengejarannya selalu dibaluti dengan komedi yang menghibur.

Akankah mereka lolos dari kejaran Fairfax? Apakah Fairfax berhasil mendapatkan apa yang selama ini dicarinya?

‘The Lost City’ memiliki makna tersirat. Film ini mengajarkan kita untuk melihat sebuah ketulusan hati seseorang yang ada di sekitar kita.

Selain Tatum dan Bullock, film ini juga dibintangi oleh Daniel Radcliffe dan Brad Pitt juga lho.

Sementara itu, kalian bisa menyaksikan film ‘The Lost City’ pada 23 Maret 2022 di bioskop Indonesia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

MBG sebagai Pilar Strategis Mewujudkan Generasi Emas Indonesia

Oleh: Dewi Puteri Lestari* Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto merupakan langkah visioner yang menegaskan keberpihakan negara terhadap masa depan generasi muda. Kebijakan ini tidak dapat dipandang secarasempit sebagai program distribusi makanan semata, melainkan sebagai strategi besar pembangunan sumber daya manusia yang dirancang secara sistematis, terukur, dan berorientasi jangka panjang. Dalam konteks persaingan global yang semakin kompetitif, kualitas manusia menjadi faktor penentu daya saing bangsa. Karena itu, intervensi negara pada aspek gizi anak sekolah merupakan keputusanstrategis yang mencerminkan kepemimpinan yang berpandangan jauh ke depan. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menegaskan bahwa MBG tidak mengurangiprogram maupun anggaran pendidikan. Anggaran pendidikan tetap berada pada porsi 20 persen APBN dengan nilai Rp 769,1 triliun, sesuai amanat konstitusi. Seluruh program pendidikan tetap berjalan sebagaimana mestinya dan bahkanmengalami penguatan. Penegasan ini menunjukkan bahwa pemerintah bekerjadengan perencanaan fiskal yang matang, berbasis data, serta melalui koordinasiintensif dengan DPR. Dengan fondasi anggaran yang kokoh dan legitimasi politikyang kuat, MBG hadir sebagai penguat ekosistem pendidikan nasional. Dukungan parlemen terhadap MBG juga memperlihatkan kesadaran kolektif bahwainvestasi pada generasi muda harus ditempatkan sebagai prioritas utama. KetuaBadan Anggaran DPR RI...
- Advertisement -

Baca berita yang ini