Percaya Gak? 5 Kartun Ini Ramalkan Insiden yang Bikin Gempar Dunia, Termasuk Kematian Kobe Bryant

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Ingat Mamah Laurent? Dulu, sosoknya pernah meramalkan bakal terjadi kiamat pada tahun 2012. Pernyataannya itu tidak terbukti sama sekali.

Tapi bagaimana kalau beberapa cerita kartun yang kamu tonton bisa meramalkan nasib seseorang. Bahkan, menjadi kenyataan beberapa tahun setelahnya, termasuk kematian Kobe Bryan Pebasket ternama dunia.

Judul kartun apa saja yang tak sengaja meramal insiden yang menghebohkan? Benarkah itu sebuah ramalan atau kebetulan saja? Ini dia infonya untuk kalian.

1. Insiden Miss Universe 2015

Kejadian yang memalukan dialami oleh Miss Universe Colombia Ariadna Gutierrez karena MC salah menyebutkan nama pemenang Miss Universe dunia yang seharusnya jatuh kepada Miss Universe Pilipphines Pia Alono Wurtzbach.

Ternyata kejadian itu pernah ditayangkan dalam kartun “Futurama” pada tahun 1999 sampai 2013 di Amerika Serikat. Salah satu potongan kartunnya menceritakan terjadi kesalahan saat memberi penobatan kepada Miss Universe yang mencuri perhatian banyak orang.

2. Gedung WTC Amerika Serikat

Peristiwa bom 11 September 2001 masih berbekas bagi warga Amerika Serikat. Kejadian yang mengerikan tersebut menewaskan 2.996 dan 6.000 orang lainnya mengalami luka-luka.

Siapa sangka peristiwa sejarah tersebut pernah diramalkan dalam sebuah poster di adegan serial kartun Johnny Bravo yang pupoler di Amerika Serikat dari tahun 1995 sampai 2004 lalu.

Poster tersebut mengambarkan sebuah gedung tinggi yang mirip dengan WTC, lalu digambarkan pula gedung tersebut mengalami kebakaran yang telah terjadi pada gedung WTC. Kebetulan di poster tersebut menuliskan “Coming Soon” yang bermakna segera akan terjadi.

3. Kecelakaan Paul Walker

Kabar duka dari salah satu pemeran utama film Fast and Furious Paul Walker memang menjadi duka mendalam bagi para pemeran film, keluarga, rekan, sahabat, maupun penggemar setia film Fast dan Furious.

Paul mengalami kecelakaan tunggal. Mobil yang dibawa oleh Paul lepas kendali di Santa Clarita, California, lalu menabrak tiang listik dan pohon.

Kisah kecelakaan Paul pada dua tahun lalu berhasil diramalkan dalam kartun “American Dad” musim kedepalan di episode “American Stepdad” yang memperlihatkan seseorang yang tewas dalam kecelakaan sambil membawa naskah “Fast and Furious” di pangkuannya. Lalu, dalam naskah tersebut orang itu memperlihatkan sosok Paul Walker dan Vin Diesel.

4. Trump jadi presiden

Terpilihnya Trump jadi presiden cukup mengagetkan karena pasalnya tidak ada yang menduga kalau ia akan menjadi presiden Amerika Serikat. Namun, tidak demikian dengan film kartun “The Simpsons” dengan judul episode “Bart to The Future” yang tayang 18 tahun lalu itu meramalkan Trump akan menjadi presiden AS.

5. Meninggalnya Kobe Bryant

Dunia telah kehilangan sosok legenda pebasket andal Kobe Bryant. Tepat tanggal 27 Januari 2020, Kobe beserta anaknya Gianna Bryant tewas karena kecelakaan helikopter saat akan menuju Mamba Academy.

Sebelum kecelakaan nahas itu terjadi, pada tahun 2016 sebuah kartun pendek Comedy Central, Legend of Chamberlain Heights telah meramalkan kecelakaan yang menewaskan Bryant.

Dalam kartun itu Bryant diceritakan terjebak di dalam puing-puing helikopter dengan piala NBA-nya sebelum akhirnya helikopter itu meneledak dan hanya meninggalkan cincin yang dipakai Bryant, secara tidak langsung menyatakan bahwa pebasket ternama dunia itu sudah meninggal dunia.

Ramalan-ramalan di atas bisa saja hanya sebuah kebetulan yang dibuat sendiri oleh manusia dan ditampilkan dalam sebuah film kartun. Karena pada hikikatnya, semua kehidupan di dunia ini sudah diatur oleh Tuhan Yang Mahakuasa. (Anita Rahim)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Teror di Balik Dalih Perjuangan: Mengutuk Aksi Biadab OPM yang Menumbalkan Masa Depan Anak Papua

Oleh: Silas Tabuni *) Papua kembali berduka. Ruang kelas yang seharusnya menjadi persemaian peradaban dan masa depan bangsa justru ternoda oleh aksi kekerasan yang melampaui batas kemanusiaan. Peristiwayang terjadi di Sekolah Yakpesmi, Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo pada Senin pagi, 2 Februari 2026, bukan sekadar catatan kriminal biasa. Pembunuhan keji terhadap Frengki, seorang tenaga kependidikan yang tengah mendedikasikan hidupnya untuk memperbaiki fasilitasbelajar siswa, adalah serangan langsung terhadap nalar publik dan martabat bangsa. Aksi brutal yang dilakukan oleh kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM), atau yang seringmengatasnamakan diri sebagai Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB), menegaskan bahwa kelompok ini tidak lagi berjuang demi rakyat, melainkan telah menjadimesin teror yang menghambat kemajuan Papua. Kejadian bermula ketika ketenangan sekolah pecah oleh suara tembakan. Frengki, pria berusia55 tahun yang dikenal sebagai sosok pekerja keras, berusaha menyelamatkan diri ke ruang guru saat para pelaku mengejarnya. Meski sempat ada upaya penghalangan dari rekan sejawatnya, Dason Wakla, keganasan para pelaku tidak terbendung. Frengki tewas dengan luka senjata tajamdi tempat yang seharusnya menjadi ruang paling aman bagi para pendidik. Tindakan inimerupakan puncak dari demanusiualisasi yang dilakukan oleh OPM, di mana nyawa manusiadianggap sebagai komoditas politik yang murah. Narasi yang dibangun oleh TPNPB Kodap XVI Yahukimo setelah kejadian tersebut adalah polalama yang sangat klise dan tidak berdasar. Melalui siaran persnya, kelompok ini secara sepihakmelabeli korban sebagai agen intelijen negara yang menyamar. Klaim tak berdasar ini adalahupaya putus asa untuk melegitimasi pembunuhan warga sipil di mata internasional. Tanpa buktihukum maupun administratif yang valid, pelabelan "intelijen" menjadi vonis mati instan yang dikeluarkan oleh kelompok bersenjata tanpa proses peradilan apa pun. Sebaliknya, faktalapangan menunjukkan bahwa Frengki adalah warga sipil murni yang direkrut pihak sekolahsejak Desember 2025 untuk membantu pengadaan kursi dan meja belajar. Ia bukan aparat, bukanpemegang senjata, dan sama sekali tidak memiliki rekam jejak militer. Klaim sepihak Mayor Kopitua Heluka yang menyatakan Yahukimo sebagai zona perang danmemerintahkan penutupan fasilitas publik seperti sekolah serta rumah sakit adalah bentukpembangkangan terhadap hak asasi manusia yang paling dasar. Menginstruksikan wargapendatang untuk angkat kaki dan mengancam keselamatan siapa pun yang bekerja sama denganpemerintah merupakan strategi intimidasi yang bertujuan menciptakan kekosongan sosial di Papua. Jika sekolah, rumah sakit, dan kantor pemerintahan ditutup, maka yang paling dirugikanadalah masyarakat asli Papua sendiri yang akan kehilangan hak pendidikan dan kesehatan. OPM secara sadar sedang menghancurkan fondasi kesejahteraan Papua demi agenda sempit mereka. Pemerintah, melalui langkah-langkah strategisnya, harus menyikapi fenomena ini denganketegasan yang tidak setengah-setengah. Agenda pemerintah untuk mempercepat pembangunandan integrasi kesejahteraan di Papua tidak boleh surut hanya karena teror. Justru, kehadirannegara harus semakin nyata untuk mengisi ruang-ruang yang coba dikuasai oleh rasa takut. Penguatan keamanan di objek vital seperti sekolah dan fasilitas kesehatan adalah harga mati. Direktur Eksekutif Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini