Kepincut Pesona Berondong, 4 Selebriti Ini Kencani Pria yang Lebih Muda

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Hubungan antara Wulan Guritno dengan Sabda Ahessa memang belum dikonfirmasi oleh keduanya. Namun kemesraan mereka yang tersebar di media sosial membuat netizen berspekulasi bahwa mereka tengah menjalin hubungan asmara.

Apalagi dalam momen ulang tahun Sabda yang ke-26 belum lama ini menunjukkan momen keduanya menggenggam tangan. Kedekatan mereka berdua menjadi sorotan di media sosial karena perbedaan usia mereka berdua yang terpaut 15 tahun.

Tentu hal tersebut mengundang berbagai macam komentar dari netizen. namun ternyata, Wulan bukanlah saru-satunya aktris yang tertarik dengan berondong, lho! Berikut adalah 4 selebriti wanita yang kepincut pesona berondong.

1. Yuni Shara dan Rafi Ahmad

Terungkapnya hubungan asmara antara Yuni Shara dan Raffi Ahmad menghebohkan dunia entertaintment pada masanya. Ia menjalin hubungan dengann Raffi pada 2009 silam. Pasalnya, keduanya sama-sama merupakan public figure yang pupularitasnya tidak main-main.

Selain itu, perbedaan usia mereka yang terpaut 15 tahun juga menjadi salah satu alasan mengapa hubungan mereka menjadi sorotan. Hubungan mereka bertahan cukup lama, bahkan lebih lama jika dibandingkan dengan mantan-mantan Raffi sebelumnya. Mereka berpacaran selama 4 tahun kemudian putus.

2. Tamara Bleszynski dan Mike Lewis

Siapa yang tidak kenal Tamara Bleszyinski? Tamara mulai menjalin hubungan dengan Mike Lewis pada tahun 2009. Tamara dan Mike menjadi pasangan serasi walau keduanya terpaut perbedaan usia 7 tahun.

Mereka kemudian memutuskan untuk menikah. Pada 2 Februari 2010, mereka mengadakan pernikahan mereka di Pulau Dewata dengan mengadakan acara pernikahan yang tertutup. Sayangnya, pernikahan mereka kandas di tahun kedua. Hingga akhirnya resmi bercerai pada 28 Mei 2012.

3. Emma Waroka dan Bagoes Soeharto

Emma Waroka adalah artis senior yang sudah lama malang melintang di dunia hiburan tanah air. Emma Waroka menikah dengan seorang pria yang usianya terpaut jauh 18 tahun darinya, Bagoes Soeharto.

Kedekatan antara Emma dan Bagoes sudah terjalin saat keduanya sama-sama menjalani bisnis olahraga selama tiga tahun. Ia menegaskan bahwa tidak ada pertentangan sama sekali dari pihak keluarganya terkait pernikahannya.

  1. Jessica Iskandar dan Vincent Verhaag

Jessica Iskandar atau akrab disapa dengan Jedar juga merupakan salah satu selebriti yang kepincut dengan pesona berondong. Ia dinikahi oleh Vincent Verhaag yang usianya lebih muda darinya.

Meskipun begitu, perbedaan usia mereka tidak terlalu jauh. Jessica hanya lebih tua 4 tahun daripada suaminya. Perbedaan usia itu pun tak membuat keduanya sulit beradaptasi sebagai pasangan, justru membuat mereka saling melengkapi. Kini mereka sedang menanti buah hatinya yang sebentar lagi akan lahir.

Itulah 4 selebriti wanita Indonesia yang kepincut dengan pesona berondong, mereka mengencani pria yang lebih muda dari dirinya. Bahkan beberapa dari mereka berhasil menikah dan memiliki buah hati.

Reporter: Dinda Nurshinta

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Evaluasi Berkala Koperasi Desa Jadi Kunci Keberlanjutan Program Pemberdayaan Ekonomi

Oleh: Firly Tsaqila )*Komitmen pemerintah dalam memperkuat fondasi ekonomi desa terusdiwujudkan melalui pengembangan Koperasi Desa/Kelurahan MerahPutih sebagai instrumen strategis pemberdayaan masyarakat. Koperasi Desa dirancang bukan sekadar menjadi wadah aktivitasekonomi lokal, melainkan sebagai infrastruktur ekonomi nasional yang mampu memperluas akses masyarakat desa terhadap layanan usaha, distribusi kebutuhan pokok, pembiayaan produktif, hingga penguatankesejahteraan berbasis komunitas. Sehingga evaluasi berkala menjadi elemen penting agar implementasiprogram berjalan tepat sasaran, adaptif terhadap tantangan lapangan, dan mampu memberikan manfaat berkelanjutan.Langkah cepat Kementerian Koperasi dalam merespons berbagaimasukan masyarakat menunjukkan keseriusan pemerintah menjagakualitas pelaksanaan program ini. Berbagai sorotan yang muncul di ruangpublik dipandang sebagai bentuk partisipasi konstruktif yang justrumemperkuat proses pembenahan. Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, menilai perhatian masyarakatterhadap kondisi dan kesiapan Kopdes Merah Putih merupakan bagiandari pengawasan publik yang sangat dibutuhkan untuk memastikanprogram berkembang sesuai tujuan awal.Menurut Ferry, setiap laporan, masukan, dan perhatian masyarakatmenjadi bahan evaluasi yang sangat berharga bagi kementerian untukmelakukan koreksi secara menyeluruh. Ia menegaskan bahwa pemerintahmemandang keterlibatan publik sebagai bagian dari mekanismepengawasan yang memperkuat akuntabilitas tata kelola. Denganketerbukaan terhadap kritik, pemerintah menunjukkan pendekatan adaptifdalam memastikan program ini terus mengalami penyempurnaan.Pendekatan evaluatif ini penting karena skala program Kopdes MerahPutih sangat luas dan menyentuh langsung berbagai aspek kehidupanekonomi desa. Pemerintah tidak menempatkan evaluasi sebagai responsatas persoalan semata, melainkan sebagai instrumen manajemen modern yang memungkinkan setiap kelemahan terdeteksi lebih awal untuk segeradiperbaiki. Dengan demikian, proses pembenahan dapat dilakukan secarasistematis tanpa mengganggu tujuan besar pembangunan ekonomi desa.Ferry juga menekankan bahwa pemerintah akan terus menyelaraskankoordinasi lintas lembaga agar evaluasi yang dilakukan menghasilkanlangkah perbaikan konkret. Kolaborasi antara kementerian, pengelola koperasi, dan masyarakat diyakini menjadi kunci agar setiap temuanlapangan dapat segera ditindaklanjuti secara efektif. Pendekatan inimencerminkan keseriusan pemerintah membangun tata kelola koperasiyang terbuka dan responsif.Di sisi lain, penguatan evaluasi juga tampak dari keterlibatan berbagaiinstitusi pendukung. Badan Pengawas Obat dan Makanan melalui Kepala BPOM, Taruna Ikrar, mempertegas peran pengawasan distribusi obat danpangan dalam ekosistem Kopdes Merah Putih. Kehadiran BPOM memperlihatkan bahwa pemerintah tidak hanya fokus pada aspekkelembagaan koperasi, tetapi juga memastikan kualitas layanan dankeamanan produk yang sampai kepada masyarakat desa.BPOM menyiapkan sistem pengawasan yang menjangkau hingga level desa, termasuk melalui pelibatan puluhan ribu kader terlatih. Langkah inimenjadi bukti bahwa evaluasi program dilakukan secara terintegrasidengan penguatan kapasitas pengawasan di lapangan. Pemerintahmemahami bahwa keberlanjutan koperasi tidak dapat dilepaskan dariterjaminnya standar mutu, keamanan, dan keandalan distribusi produk.Kepala BPOM menilai pengawasan distribusi obat dan pangan di koperasidesa membutuhkan mekanisme yang presisi karena cakupan wilayahyang luas menuntut sistem kendali yang kuat. Oleh sebab itu, pemerintahterus merancang skema baru agar distribusi tetap terkendali sekaligusmenjangkau masyarakat secara merata. Upaya ini memperlihatkanorientasi evaluasi yang tidak berhenti pada identifikasi masalah, melainkan diarahkan pada inovasi kebijakan.Pandangan mengenai pentingnya evaluasi berkala juga diperkuat ekonom CORE Indonesia, Dipo Satria Ramli. Ia menilai bahwa pengawasanberlapis sangat diperlukan mengingat fungsi Kopdes Merah Putihmencakup aspek komersial, sosial, hingga layanan distribusi strategis. Menurutnya, pembagian peran pengawasan lintas lembaga akanmemperkuat akuntabilitas sekaligus meminimalkan potensipenyimpangan.Dipo menekankan pentingnya audit independen secara berkala sebagaiinstrumen untuk mendeteksi potensi moral hazard sejak dini. Ia jugamemandang bahwa tata kelola internal yang kuat harus ditopang olehrekrutmen pengelola profesional yang tetap berbasis komunitas lokal. Keterlibatan warga desa dinilai penting untuk menumbuhkan rasa memilikisehingga keberlanjutan koperasi terjaga secara alamiah.Pandangan Dipo sejalan dengan arah kebijakan pemerintah yang menempatkan evaluasi sebagai fondasi penguatan kelembagaan. Pemerintah memahami bahwa keberhasilan program tidak cukup diukurdari jumlah koperasi yang terbentuk, tetapi dari kualitas operasional, efektivitas layanan, dan dampak nyata terhadap kesejahteraanmasyarakat.Koperasi Desa Merah Putih diproyeksikan menjadi simpul distribusi hasilpertanian, penyalur barang strategis, penyedia layanan keuangan, hinggapenggerak aktivitas ekonomi produktif di tingkat akar rumput. Denganperan sebesar itu, evaluasi berkala menjadi syarat mutlak agar setiapfungsi berjalan optimal.Melalui keterbukaan terhadap masukan, sinergi lintas lembaga, sertapenguatan pengawasan berjenjang, pemerintah menunjukkan keseriusanmenjaga keberlanjutan program ini. Evaluasi yang konsisten bukanlahtanda kelemahan, melainkan bukti hadirnya tata kelola modern yang mengedepankan perbaikan berkelanjutan demi memastikan KopdesMerah Putih benar-benar menjadi motor penggerak pemberdayaanekonomi desa di masa depan.*) Pengamat Ekonomi Desa
- Advertisement -

Baca berita yang ini