Intip ITZY dan Treasure Seru-seruan di Acara Tokopedia, Member Punya Nama Indonesia

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – ITZY dan Treasure, tampil dalam acara televisi Tokopedia WIB TV Show pada Jumat malam, 25 September 2020. Dua grup idol K-Pop itu tampil dengan lagu andalan masing-masing.

ITZY , mantap membawakan dua lagu yang menjadi hit single milik mereka, yakni berjudul Not Shy dan Wannabe. Sedangkan Treasure yang baru saja menjalani debut, menyanyikan dua tembang populer mereka yang berjudul I Love You dan Boy.

Selain bernyanyi dan menari, dua kelompok musik asal Korea Selatan itu juga menjalani sesi wawancara eksklusif dan main game yang dipandu oleh Jang Hansol tersebut.

ITZY yang baru saja melakukan aksi comeback, membahas lagu Not Shy yang menjadi single terbaru mereka. Menariknya, Anggota ITZY juga mengaku sudah mempersiapkan nama Indonesia mereka.

Yeji memakai nama Mika, Lia adalah Fany, Ryujin adalah Prima, Chaeryeong ialah Adelia dan Yuna sebagai Adena. Selain itu, mereka juga membahas siapa personel yang paling percaya diri hingga lagu apa yang memiliki koreografi tarian yang paling sulit.

Sementara itu, para personel Treasure mendapat tantangan bermain kata-kata dalam bahasa Indonesia. Mereka dibagi menjadi empat tim dan maju secara bergantian untuk membacakan kalimat berbahasa Indonesia yang telah disiapkan sebelumnya.

Salah satu kalimat yang diucapkan adalah, “Ular melingkar di atas pagar”. Pengucapan huruf ‘R’ pada setiap kata di kalimat tersebut sedikit sulit diucapkan para member.

Selain Treasure dan ITZY , helatan Tokopedia Waktu Indonesia Belanja (WIB) juga dimeriahkan oleh Setia Band, Lesti Kejora, Rizky Billar, Baim Wong, Rizky Febian, Paula Verhoeven, Sisca Soewitomo, Jang Hansol hingga Sinyorita.

Setelah disiarkan serentak di stasiun televisi SCTV, Indosiar, dan NET TV, helatan Tokopedia WIB TV Show juga dapat sisaksikan di saluran YouTube resmi Tokopedia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Sekolah Rakyat, Ruang Perubahan Generasi

Oleh: Jaya Abdi Keningar *) Sekolah Rakyat tidak lahir sebagai proyek pendidikan biasa. Ia hadir sebagai jawaban ataspersoalan yang selama puluhan tahun menjadi simpul ketimpangan pembangunan manusiaIndonesia: kemiskinan ekstrem yang diwariskan lintas generasi melalui keterbatasan aksespendidikan bermutu. Dalam konteks ini, Sekolah Rakyat bukan sekadar institusi belajar, melainkan ruang perubahan, tempat negara secara sadar mencoba memutus rantaiketertinggalan dari hulunya. Berbeda dengan sekolah formal pada umumnya, Sekolah Rakyat dirancang denganpendekatan yang menyentuh akar persoalan sosial. Pendekatan ini menjelaskan mengapaleading sector program ini berada di Kementerian Sosial, bukan semata di kementerianpendidikan. Anggota Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih, menilai desain tersebut sebagaipilihan kebijakan yang logis karena sasaran utama Sekolah Rakyat adalah kelompok desilsatu dan dua, masyarakat miskin ekstrem yang selama ini tertinggal dari sistem pendidikanreguler. Menurutnya, orientasi ini menegaskan bahwa pendidikan diposisikan sebagaiinstrumen mobilitas sosial, bukan hanya pemenuhan administratif. Dalam perspektif pendidikan, kebijakan ini mencerminkan pergeseran paradigma negara. Pendidikan tidak lagi dipahami semata sebagai proses transfer pengetahuan, tetapi sebagaistrategi intervensi struktural untuk memperbaiki kualitas hidup. Presiden Prabowo Subianto, dalam berbagai kesempatan, menekankan bahwa tujuan pembangunan bukanlah mengejarstatus negara berpendapatan tinggi, melainkan memastikan rakyat hidup layak, makan cukup, sehat, dan anak-anak memperoleh pendidikan yang baik. Penempatan Sekolah Rakyat dalamkerangka besar Asta Cita menunjukkan bahwa pendidikan ditempatkan sejajar denganswasembada pangan dan energi sebagai fondasi kedaulatan bangsa. Namun, tantangan terbesar Sekolah Rakyat justru terletak pada kualitas proses belajar itusendiri. Banyak anak yang masuk ke Sekolah Rakyat membawa beban ketertinggalan literasiyang serius. Dalam dialog publik bertema “Menjaga Literasi Sekolah Rakyat” di TVRI,Kepala Perpustakaan Nasional, E. Aminudin Aziz menegaskan bahwa literasi tidak bolehdipersempit hanya pada kemampuan membaca teks, melainkan kemampuan mengolahinformasi secara kritis untuk meningkatkan kualitas hidup. Pandangan ini menegaskan bahwaliterasi adalah inti dari transformasi, bukan pelengkap kebijakan. Di sinilah perpustakaan Sekolah Rakyat mengambil peran strategis. Perpustakaan tidak lagidiposisikan sebagai ruang sunyi penyimpanan buku, tetapi sebagai ruang aman bagi anak-anak untuk belajar tanpa stigma. Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa ketikaperpustakaan dikelola secara aktif, dengan kegiatan membaca bersama, diskusi buku, dan kelas menulis, anak-anak yang semula pasif mulai berani menyampaikan pendapat. Perubahan ini mungkin tidak langsung terlihat dalam angka, tetapi sangat menentukan arahmasa depan mereka. Pendekatan hibrida yang menggabungkan buku cetak dan teknologi digital juga menjadikunci adaptasi Sekolah Rakyat dengan realitas zaman....
- Advertisement -

Baca berita yang ini