Ikut Gaes! DWP 2020 Gelar Konser Virtual Gratis

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Festival Electronic Dance Music (EDM), Djakarta Warehouse Project (DWP) selalu ditunggu-tunggu masyarakat di penghujung akhir tahun. Namun, di masa pandemi ini, bagaimana nasib festival musik yang menampilkan para disc jockey itu?

Tahun ini, DWP 2020 bakal tetap hadir meski di tengah pandemi. Namun, kali ini DWP digelar dengan mengusung konsep virtual alias secara daring. Festival itu bakal disenggelarkan pada 19-20 Desember 2020.

David Ferdian, Operational Manager dari Ismaya Live mengatakan, untuk mengikuti acara secara virtual, publik hanya perlu melakukan pendaftaran secara online. Penonton bisa gabung di laman website Djakarta Warehouse Project kemudian mengikuti petunjuk yang tersedia. Terpenting, event ini akan berlangsung secara gratis!

“Kami melihat dari Maret tidak ada event offline, setelah WTF (We The Fest), dan DWPV (Djakarta Warehouse Project Virtual) juga ditunggu-tunggu kami akhirnya buat free event agar semua orang dari ujung ke ujung bisa melihat event ini, itu sih,” kata David.

Sementara itu, David juga menjelaskan cara untuk registrasi event yang hanya boleh dihadiri oleh pengunjung berusia di atas 18 tahun.

“Kalau untuk cara registrasi bisa masuk ke website djakartawarehouse.com, nanti ada dua section, Indonesia dan non-Indonesia, nanti yang Indonesia kami ada batas usia 18+, isi form registrasi lalu kita kirim kode booking, H-7 nanti kami kirim free pass link untuk nonton,” ucapnya.

Tenang! Meski digelar secara virtual, penonton tetap akan disuguhkan dari para musisi dan DJ ternama dari dalam dan luar negeri. Mulai dari Martin Garrix, Vini Vici, Armin van Buuren, Ramengvrl, Hizkia, Ridwan G, Trillions, Devarra, Fun on A Weekend, Joyo, Patricia Schuldtz, Preachja Crew, W.w, dan DJ Yasmin.

Sementara itu, untuk penampil internasional, pihak DWP telah mempersiapkan panggung khusus untuk merekam penampilan mereka sebelum ditayangkan secara langsung di gelaran DWP Virtual yakni dari Ibiza, Sydney, Bangkok dan China.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Ekonomi Hijau, Jalan Baru Pemerintah Menciptakan Jutaan Lapangan Kerja Masa Depan

Oleh: Naufal AkbarDi tengah tantangan perlambatan ekonomi global, ancaman perubahan iklim, dandinamika pasar tenaga kerja yang terus berubah, Indonesia membutuhkan strategipembangunan yang tidak hanya mampu menjaga pertumbuhan ekonomi, tetapi jugamenciptakan lapangan kerja yang berkelanjutan. Dalam konteks tersebut, komitmenpemerintah mendorong transformasi ekonomi hijau menjadi salah satu langkahstrategis yang patut diapresiasi karena menawarkan solusi ganda: menjaga lingkungansekaligus membuka peluang kerja baru bagi masyarakat.Selama beberapa dekade, pembangunan ekonomi sering kali dihadapkan pada dilemaantara pertumbuhan dan pelestarian lingkungan. Namun paradigma tersebut kini mulaiberubah. Berbagai negara di dunia membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi dapatberjalan beriringan dengan upaya perlindungan lingkungan melalui penerapan ekonomihijau. Indonesia pun semakin menunjukkan keseriusannya untuk mengambil perandalam transformasi tersebut.Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Mohammad Jumhur Hidayat menegaskan bahwa kebutuhan terhadap profesi berbasiskeberlanjutan akan terus meningkat seiring percepatan transformasi ekonomi hijau di Indonesia. Pandangan tersebut menunjukkan bahwa agenda lingkungan bukan sekadarupaya konservasi, tetapi telah berkembang menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baruyang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.Berbagai profesi baru diperkirakan akan tumbuh pesat pada masa mendatang. Mulaidari ahli energi terbarukan, pengelola sampah modern, insinyur lingkungan, penelitibiodiversitas, analis karbon, spesialis ekonomi sirkular, hingga wirausaha hijau akanmenjadi bagian penting dari ekosistem ekonomi masa depan. Kehadiran profesi-profesitersebut memperlihatkan bahwa transformasi hijau bukan ancaman bagi dunia kerja, melainkan peluang yang membuka ruang bagi lahirnya jutaan pekerjaan baru yang lebih berkualitas.Komitmen pemerintah ini juga selaras dengan visi Asta Cita Presiden PrabowoSubianto yang menempatkan keberlanjutan ekologis sebagai salah satu fondasi menujuIndonesia Emas 2045. Melalui pendekatan tersebut, pembangunan tidak hanyaberorientasi pada pencapaian angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memastikanbahwa manfaat pembangunan dapat dirasakan secara lebih inklusif dan berkelanjutan.Potensi penciptaan lapangan kerja hijau semakin besar karena Indonesia memilikimodal yang sangat kuat. Sebagai negara dengan hutan tropis terbesar ketiga di dunia, kawasan mangrove yang luas, keanekaragaman hayati yang tinggi, serta garis pantaiterpanjang kedua di dunia, Indonesia memiliki sumber daya yang dapat menjadi fondasipengembangan ekonomi hijau. Upaya menjaga hutan, melindungi gambut danmangrove, mengelola sampah, menjaga kualitas sungai dan laut, hinggamengembangkan ekonomi sirkular bukan hanya penting untuk lingkungan, tetapi jugaberpotensi menciptakan rantai ekonomi baru yang menyerap banyak tenaga kerja.Salah satu contoh konkret dapat dilihat dari target pemerintah untuk mencapaipengelolaan sampah 100 persen pada tahun 2029. Untuk mewujudkan target tersebut, pemerintah mendorong pengembangan berbagai teknologi pengolahan sampah sepertiRefuse Derived Fuel (RDF), Pengolah Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL), hinggateknologi pirolisis. Pengembangan sektor ini tentu membutuhkan sumber daya manusiayang kompeten, mulai dari tenaga teknis, operator, peneliti, hingga pelaku usaha yang bergerak dalam industri daur ulang dan ekonomi sirkular.Optimisme terhadap ekonomi hijau juga mendapatkan dukungan dari berbagaikalangan. Ketua Dewan Pembina IKA Unpad, Burhanuddin Abdullah, berpandanganbahwa biaya mempertahankan model pembangunan lama justru semakin mahaldibandingkan melakukan transisi menuju ekonomi hijau. Menurutnya, ekonomi hijauharus dipandang sebagai peluang besar untuk menciptakan sumber pertumbuhanekonomi baru sekaligus membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat.Pandangan tersebut sejalan dengan berbagai lembaga internasional. United Nations Environment Programme (UNEP) mendefinisikan ekonomi hijau sebagai sistemekonomi yang meningkatkan kesejahteraan manusia dan keadilan sosial sekaligusmengurangi risiko lingkungan. Sementara World Bank memperkenalkan konsepinclusive green...
- Advertisement -

Baca berita yang ini