Gofar Hilman Bantah Dirinya Ancam Wanita yang Ngaku Dilecehkan: Gue Gak Powerfull

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Gofar Hilman kembali buka suara terkait kasus dirinya yang diduga melakukan pelecehan seksual pada wanita bernama Hafsyarina. Setelah wanita itu buka suara, Gofar justru mendapat banyak serangan dari netizen.

Lewat channel YouTube, Deddy Corbuzier, Selasa 15 Februari 2022, mantan penyiar radio ini akhirnya menceritakan kronologi kejadian itu secara gamblang. Ia bahkan membantah tuduhan bahwa dirinya mengancam Hafsyarina untuk mengakui Gofar tidak melakukan pelecehan seksual.

“Gue gak powerfull, kalo gue gitu gue gak mungkin melakukan jalan untuk meminta Komnas, memberikan kesempatan ke cewek itu untuk mencari bukti dan saksi,” ungkap Gofar.

Tak hanya itu, ia juga meluruskan soal dirinya melaporkan Hafsyarina ke polisi. Ia menjelaskan dirinya terpaksa melakukannya karena selama sembilan bulan, pihak Hafsyarina tidak memberi kabar dan kelanjutan kasus ini padanya.

“Polisi itu jalan terakhir, setelah beberapa jalan gue tempuh tapi gak ada titik terang,” katanya.

Lebih lanjut, Gofar mengaku dirinya sangat terpukul atas kasus ini. Terlebih, para netizen terus menghujat dirinya saat ia masih tertuduh, dan belum resmi sebagai tersangka pelecehan seksual.

Sebelumnya, sosok Hafsyarina atau pemilik akun Twitter, @quweenjojo akhirnya muncul ke publik. Ia yang mengaku sebagai korban pelecehan seksual Gofar Hilman buka suara dan membuat pengakuan.

Ia mengatakan dirinya selama ini hanya delusi semata. Dan tuduhan dia pada Gofar itu tidak benar.

Namun, di tengah kehebohan itu, warganet justru curiga. Mereka berpikir, Hafsyarina sudah diancam oleh Gofar untuk membuat pengakuan tersebut.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Sekolah Rakyat, Ruang Perubahan Generasi

Oleh: Jaya Abdi Keningar *) Sekolah Rakyat tidak lahir sebagai proyek pendidikan biasa. Ia hadir sebagai jawaban ataspersoalan yang selama puluhan tahun menjadi simpul ketimpangan pembangunan manusiaIndonesia: kemiskinan ekstrem yang diwariskan lintas generasi melalui keterbatasan aksespendidikan bermutu. Dalam konteks ini, Sekolah Rakyat bukan sekadar institusi belajar, melainkan ruang perubahan, tempat negara secara sadar mencoba memutus rantaiketertinggalan dari hulunya. Berbeda dengan sekolah formal pada umumnya, Sekolah Rakyat dirancang denganpendekatan yang menyentuh akar persoalan sosial. Pendekatan ini menjelaskan mengapaleading sector program ini berada di Kementerian Sosial, bukan semata di kementerianpendidikan. Anggota Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih, menilai desain tersebut sebagaipilihan kebijakan yang logis karena sasaran utama Sekolah Rakyat adalah kelompok desilsatu dan dua, masyarakat miskin ekstrem yang selama ini tertinggal dari sistem pendidikanreguler. Menurutnya, orientasi ini menegaskan bahwa pendidikan diposisikan sebagaiinstrumen mobilitas sosial, bukan hanya pemenuhan administratif. Dalam perspektif pendidikan, kebijakan ini mencerminkan pergeseran paradigma negara. Pendidikan tidak lagi dipahami semata sebagai proses transfer pengetahuan, tetapi sebagaistrategi intervensi struktural untuk memperbaiki kualitas hidup. Presiden Prabowo Subianto, dalam berbagai kesempatan, menekankan bahwa tujuan pembangunan bukanlah mengejarstatus negara berpendapatan tinggi, melainkan memastikan rakyat hidup layak, makan cukup, sehat, dan anak-anak memperoleh pendidikan yang baik. Penempatan Sekolah Rakyat dalamkerangka besar Asta Cita menunjukkan bahwa pendidikan ditempatkan sejajar denganswasembada pangan dan energi sebagai fondasi kedaulatan bangsa. Namun, tantangan terbesar Sekolah Rakyat justru terletak pada kualitas proses belajar itusendiri. Banyak anak yang masuk ke Sekolah Rakyat membawa beban ketertinggalan literasiyang serius. Dalam dialog publik bertema “Menjaga Literasi Sekolah Rakyat” di TVRI,Kepala Perpustakaan Nasional, E. Aminudin Aziz menegaskan bahwa literasi tidak bolehdipersempit hanya pada kemampuan membaca teks, melainkan kemampuan mengolahinformasi secara kritis untuk meningkatkan kualitas hidup. Pandangan ini menegaskan bahwaliterasi adalah inti dari transformasi, bukan pelengkap kebijakan. Di sinilah perpustakaan Sekolah Rakyat mengambil peran strategis. Perpustakaan tidak lagidiposisikan sebagai ruang sunyi penyimpanan buku, tetapi sebagai ruang aman bagi anak-anak untuk belajar tanpa stigma. Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa ketikaperpustakaan dikelola secara aktif, dengan kegiatan membaca bersama, diskusi buku, dan kelas menulis, anak-anak yang semula pasif mulai berani menyampaikan pendapat. Perubahan ini mungkin tidak langsung terlihat dalam angka, tetapi sangat menentukan arahmasa depan mereka. Pendekatan hibrida yang menggabungkan buku cetak dan teknologi digital juga menjadikunci adaptasi Sekolah Rakyat dengan realitas zaman....
- Advertisement -

Baca berita yang ini