Pasien Covid-19 yang Gawat Tak Sebanyak Tahun Lalu

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Dokter relawan Rumah Sakit Darurat Covid-19 (RSDC) Wisma Atlet, dr. Andi Khomeini Takdir, menilai pasien yang dirawat intensif saat ini tidak sebanyak dua gelombang Covid-19 terdahulu.

Hal tersebut dikabarkan lelaki dengan panggilan Dokter Koko melalui pernyataan tertulisnya yang dilihat Selasa 15 Februari 2022.

“Kunjungan saya ke ruang high care unit (HCU) dan intensive car unit (ICU) sudah tidak selama dua gelombang yang lalu. Tetap ada pasien yang dirawat intensif, tapi sudah tidak sebanyak yang lalu,” ujar Koko.

Hal yang membuat kerjanya sebagai dokter perawat pasien Covid-19 lebih ringan sekarang karena PCR, alat whole genome sequencing (WGS) dan obat-obatan terdistribusi lebih luas.

Selain itu, cakupan vaksinasi Covid-19 Indonesia juga lumayan baik.

Sementara Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Pusat, Wiku Adisasmito mengingatkan masyarakat telah terjadi tren meningkatnya kasus kematian akibat Covid-19.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Dukung Skenario Antisipatif Pemerintah dalam Menjaga Stabilitas Rupiah

Oleh: Cahya Rumisastro)*Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan di tengah tekanan global yang belummereda dan dinamika ekonomi internasional yang cenderung fluktuatif. Dalamsituasi ini, dukungan pemerintah terhadap langkah antisipatif yang disiapkan olehBank Indonesia (BI) menjadi krusial untuk memastikan stabilitas moneter tetapterjaga.Untuk diketahui nilai tukar rupiah masih mengalami fluktuasi beberapa hari terakhir. Nilai tukar Rupiah pada Rabu, 8 April 2026, menunjukkan penguatan 0,64 persen keposisi 16.995 per USD, setelah sebelumnya ditutup di atas Rp17 ribu per USD pada7 April akibat tertekan penguatan indeks dolar global. Namun rupiah kembalimengalami pelemahan pada Kamis, 9 April 2026, sebesar 0,11 % ke posisi 17.030 per USD. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai angka tersebut masih beradadalam cakupan skenario yang disiapkan oleh pemerintah. Di samping itu, pergerakan tersebut tidak serta-merta mengganggu postur Anggaran dan BelanjaNegara (APBN), mengingat Kementerian Keuangan telah menyiapkan berbagaiinstrumen simulasi Bersama BI guna mengantisipasi gejolak pasar. Purbaya mengatakan, pemerintah tidak hanya bergantung pada asumsi nilai tukardalam penyusunan anggaran. Sebaliknya beberapa parameter simulasi disiapkansebagai langkah antisipasif terhadap dinamika global. Purbaya menyatakan kepercayaan penuh terhadap kemampuan BI dalam menjagastabilitas nilai tukar rupiah...
- Advertisement -

Baca berita yang ini