Deddy Corbuzier Punya Gelar Doktor, Tapi Tak Diakui di Indonesia

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Gelar doktor tidak selamanya bisa dibanggakan di Indonesia. Hal itu dibuktikan selebriti yang kini menjadi YouTuber papan atas, Deddy Corbuzier.

Lelaki bernama asli Deodattus Andreas Deddi Cahyadi Sunjoyo itu memperoleh gelar doktor atau PhD itu bukan dari perguruan tinggi sembarangan.

Gelar itu diperoleh lelaki kelahiran 28 Desember 1976 tersebut dari International Magician Society Academy, Amerika Serikat.

Lagi pula bukan hanya Deddy, para mentalist ternama dunia seperti David Blaine, David Copperfield dan Criss Angel juga menyandang gelar yang sama.

Di Amerika Serikat, Deddy pernah mengajar pada sebuah sekolah sulap. Dia mendapat dua kali berturut-turut sebagai mentalist terbaik dunia yaitu Marlin Award.

Gelar doktor yang diberikan kepada Deddy adalah “doctor in art of magic.”

Sebenarnya gelar itu menjadi pelengkap perjalanan akademis Deddy yang sebelumnya memiliki gelar Sarjana Strata 1 dan 2 di bidang psikologi.

Gelar S1 Psikologi dia peroleh dari Universitas Atmajaya Jakarta, sedangkan S2 juga di bidang psikologi didapat dari sebuah universitas di London.

Namun sertifikat doktor itu tidak pernah dia bawa saat sekarang di Indonesia karena tidak dihargai di dalam negeri. (Indah Suci Raudlah)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Aksi OPM Merusak Pendidikan dan Menghambat Kemajuan Papua

Oleh: Petrus Pekei* Papua adalah tanah harapan, tempat masa depan generasi muda bertumbuh melalui pendidikan, kerja keras, dan persaudaraan. Setiap upaya yang mengganggu ketenangan dan merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat Papua sejatinya berseberangan dengan cita-citabesar tersebut. Karena itu, penguatan narasi damai dan dukungan terhadap kehadiran negara menjadi energi utama untuk memastikan Papua terus melangkah maju. Di tengah dinamikakeamanan, bangsa ini menunjukkan keteguhan sikap bahwa keselamatan warga sipil, keberlanjutan pendidikan, dan pembangunan berkeadilan adalah prioritas yang tidak dapatditawar. Peristiwa kekerasan yang menimpa pekerja pembangunan fasilitas pendidikan di Yahukimomenggugah solidaritas nasional. Respons publik yang luas memperlihatkan kesadarankolektif bahwa pendidikan adalah fondasi masa depan Papua. Sekolah bukan sekadarbangunan, melainkan simbol harapan, jembatan menuju kesejahteraan, dan ruang aman bagianak-anak Papua untuk bermimpi. Ketika ruang ini dilindungi bersama, optimisme tumbuhdan kepercayaan terhadap masa depan kian menguat. Dukungan masyarakat terhadap langkahtegas aparat keamanan merupakan bentuk kepercayaan pada negara untuk memastikan rasa aman hadir nyata hingga ke pelosok. Narasi persatuan semakin kokoh ketika tokoh-tokoh masyarakat Papua menyampaikanpandangan yang menyejukkan. Sekretaris Jenderal DPP Barisan Merah Putih Republik Indonesia, Ali Kabiay, menegaskan pentingnya perlindungan warga sipil dan keberlanjutanpembangunan, khususnya pendidikan. Pandangannya menekankan bahwa stabilitas adalahprasyarat utama bagi kesejahteraan, dan negara perlu bertindak tegas serta terukur agar ketenangan sosial terjaga. Ajakan kepada masyarakat untuk tetap waspada, memperkuatkomunikasi dengan aparat, dan menolak provokasi menjadi penopang kuat bagi ketertibanbersama. Sikap serupa juga disuarakan oleh...
- Advertisement -

Baca berita yang ini