BTS Masuk Nominasi Lagi untuk Grammy Awards 2022

Baca Juga

MATA INDONESIA, SEOUL – Akhirnya, BTS kembali masuk dalam nominasi Grammy Awards untuk tahun 2022! Kini mereka masuk dalam nominasi Grammy Awards dengan lagu ‘Butter’.

Melansir dari Allkpop, BTS mengirimkan lagu hit berbahasa Inggris mereka dengan tajuk ‘Butter’. Lagu tersebut masuk untuk kategori ‘Best Pop Duo/Group’.

BTS akan menandingi artis-artis Hollywood lainnya dalam kategori ini. Antaranya ada lagu ‘Mood’ dari 24kGoldn featuring Iann Dior, ‘Kiss Me More’ oleh Doja Cat featuring SZA, ‘Without You’ oleh The Kid LAROI featuring Miley Cyrus, dan ‘Rumors’ milik Lizzo featuring Cardi B.

Hal ini menunjukkan bahwa BTS menjadi artis pertama dari Korea yang masuk dalam nominasi Grammy Awards untuk kedua kalinya. Mereka bersaing dengan penyanyi-penyanyi Hollywood terkenal lainnya pada ajang penghargaan tersebut.

Sebelumnya, BTS sempat masuk nominasi dengan album mereka ‘Map of the Soul: 7’ pada 2020. Saat itu album mereka tersebut masuk dalam nominasi kategori ‘Album of the Year’, ‘Best Engineered Album, Non-Classical’, dan ‘Best Pop Vocal Album’.

Selain itu juga BTS masuk dalam nominasi kategori ‘Song of the Year’, ‘Record of the Year’, ‘Best Music Video’, dan ‘Best Pop Duo/Group Performance’. Nominasi tersebut untuk lagu berbahasa Inggris mereka yang bertajuk ‘Dynamite’.

Namun pihak Grammy belum mengumumkan pemberitahuan resminya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Demo Mahasiswa dan Pentingnya Membaca Kondisi Bangsa Dengan Nalar dan Optimisme

Oleh: Ethan Shabir Uttara *)Gelombang demonstrasi mahasiswa yang mengangkat isu ekonomi kembali hadir dalamruang publik Indonesia. Fenomena ini sesungguhnya bukan sesuatu yang baru. Sejak awalkemerdekaan hingga era demokrasi modern saat ini, mahasiswa selalu menjadi bagianpenting dalam proses kontrol sosial terhadap kebijakan negara. Kritik, protes, dan penyampaian aspirasi merupakan hak konstitusional yang dijamin dalam sistem demokrasi.Namun demikian, dalam isu ekonomi, terdapat satu tantangan yang sering muncul: kecenderungan melihat persoalan dari satu sisi tanpa mempertimbangkan gambaran yang lebih utuh. Padahal ekonomi merupakan bidang yang kompleks, dipengaruhi oleh banyakvariabel domestik maupun global, sehingga membutuhkan pembacaan yang lebihkomprehensif daripada sekadar melihat gejala-gejala yang tampak di permukaan.Belakangan ini sejumlah aksi demonstrasi mengangkat berbagai isu mulai dari kemiskinan, korupsi, program bantuan sosial, hingga berbagai program prioritas pemerintah. Aspirasitersebut tentu patut dihargai. Namun pertanyaan yang juga perlu diajukan adalah apakahnarasi yang berkembang telah mencerminkan keseluruhan realitas yang sedang berlangsung?Dalam sebuah diskusi publik yang membahas hubungan antara gerakan mahasiswa dan kebijakan negara, Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Hasan Nasbi, mengingatkan bahwa demonstrasi mahasiswa adalah bagian yang wajar dalam demokrasiIndonesia. Namun ia juga menekankan pentingnya melihat seluruh aspek secara objektif agar penilaian terhadap kondisi bangsa tidak hanya didasarkan pada satu sudut pandang. Pemerintah, menurutnya, tidak menolak kritik, melainkan berupaya menghadirkan gambaranyang lebih lengkap kepada masyarakat. Dalam konteks ekonomi, pendekatan semacam ini sangat relevan. Sebagai contoh, isukemiskinan sering menjadi bahan kritik. Namun pada saat yang sama, pemerintah juga sedang menjalankan berbagai program yang secara langsung menyasar kelompok masyarakatrentan. Program Makan Bergizi Gratis (MBG), misalnya, tidak hanya bertujuanmeningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia, tetapi juga membangun ekosistem ekonomibaru di tingkat lokal melalui keterlibatan petani, peternak, pemasok pangan, dan pelaku usahakecil di daerah. Demikian pula dengan Sekolah Rakyat yang ditujukan bagi anak-anak dari keluarga paling miskin. Program tersebut berangkat dari keyakinan bahwa pendidikan merupakan instrumenpaling efektif untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi. Bersamaan dengan itu, pemerintah juga memperluas akses pendidikan tinggi melalui anggaran KIP Kuliah yang menjangkau lebih dari satu juta mahasiswa. Tentu tidak ada kebijakan yang sempurna. Namun yang perlu dicermati adalah apakahpemerintah menunjukkan kemauan untuk melakukan evaluasi dan perbaikan. Dalam kasusMBG misalnya, pemerintah melakukan moratorium penambahan dapur baru untuk fokuspada peningkatan kualitas pelaksanaan program dan efisiensi anggaran....
- Advertisement -

Baca berita yang ini